Hagia Sophia

12 September 2026

Kisah Remaja Dibully dan Putus Sekolah karena Idap Obesitas

Foto: REUTERS/Ajeng Dinar Ulfiana

Dampak lonjakan kasus obesitas pada anak tidak hanya mengancam kesehatan fisik, tetapi juga merusak masa depan dan kesehatan mental pengidapnya. Kisah ini dialami oleh Intan Permatasari, seorang remaja asal Bogor, Jawa Barat, yang terpaksa putus sekolah di usia 12 tahun akibat depresi berat setelah menjadi korban perundungan (bullying) terus-menerus karena masalah berat badan.

Sejak usia 4 tahun, Intan sudah tidak mampu mengenakan seragam sekolah ukuran standar hingga ibunya, Siti Rukoyah, harus menjahitkan pakaian khusus di rumah.

"Nggak ada yang mau berteman dengan saya. Teman-teman sekelas mencubit tangan saya, mencuri uang saya, dan melempar buku ke arah saya," ungkap Intan kepada Reuters, mengenang perundungan yang dialaminya hingga membuatnya memilih mengurung diri di rumah.

Indonesia Hadapi Beban Ganda Masalah Gizi

Kisah Intan menggambarkan fenomena besar yang tengah melanda negara-negara berkembang. Riset global yang melibatkan lebih dari 1.000 ilmuwan dan didukung oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO)-dipublikasikan dalam jurnal Nature menunjukkan adanya pergeseran episentrum wabah obesitas anak ke negara berpenghasilan menengah dan rendah.

Indonesia kini menghadapi beban ganda masalah gizi (double burden of malnutrition), di mana peningkatan pesat kasus obesitas anak terjadi bersamaan dengan tingginya angka stunting akibat kurang gizi.

Data menunjukkan bahwa pada tahun 2024, tingkat prevalensi obesitas pada anak laki-laki dan perempuan di Indonesia mencatatkan lonjakan kenaikan absolut terbesar dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Tantangan Penanganan Medis di Indonesia

Setelah bertahun-tahun gagal mengontrol berat badan lewat penanganan medis lokal, Intan akhirnya dirujuk ke klinik rujukan di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta di bawah penanganan dokter spesialis anak dr Yoga Devaera.

dr Yoga membeberkan bahwa sekitar seperlima dari pasien anak yang ia tangani mengidap obesitas. Namun, banyak orang tua di Indonesia yang baru membawa anaknya berobat ketika kondisi fisiknya sudah memburuk atau disertai komplikasi penyakit lain.

Penanganan komprehensif yang melibatkan edukasi gizi keluarga, pendampingan psikologis, serta kontrol pola makan menjadi kunci utama untuk menyelamatkan generasi muda Indonesia dari krisis obesitas.

"Pasien obesitas baru datang ke rumah sakit kalau kondisinya sudah parah atau sudah ada penyakit penyerta," kata dr Yoga.

Ancaman 'Tsunami Disease' dan Bahaya Makanan Olahan Murah

Para ahli kesehatan mengungkapkan bahwa pemicu utama melonjaknya angka obesitas anak adalah melimpahnya produk makanan olahan murah dan tinggi gula, yang dikombinasikan dengan minimnya edukasi mengenai risiko kesehatan jangka panjang.

Anak dengan obesitas berisiko tinggi mengidap penyakit kronis seperti diabetes, penyakit jantung, hingga asma di masa depan.

























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Kisah Pilu Remaja di Bogor Dibully dan Putus Sekolah karena Idap Obesitas"