Hagia Sophia

14 September 2026

Wamenkes: Tetap Pakai Masker di Tengah Susulan Erupsi

Foto: Rifki Afifan Pridiasto

Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Prof Dante Saksono Harbuwono mengimbau masyarakat tetap menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan di tengah erupsi susulan Gunung Anak Krakatau. Sebab, kualitas udara di sejumlah titik masih menunjukkan konsentrasi partikulat yang tinggi.

Dante melakukan pemantauan kualitas udara secara langsung di sejumlah titik di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, pada Rabu (9/9/2026). Pengukuran dilakukan menggunakan particulate counter untuk melihat konsentrasi partikulat, khususnya PM2,5.

Hasil pemantauan menunjukkan konsentrasi PM2,5 di sejumlah area luar ruangan masih berada di atas batas aman. Di Terminal Damri Bandara Soekarno-Hatta, misalnya, kadar PM2,5 tercatat 63 µg/m³, sementara batas aman yang digunakan adalah 25 µg/m³.

Dante mengatakan kondisi tersebut menunjukkan kualitas udara dari sisi kesehatan tetap perlu diperhatikan meski aktivitas penerbangan sudah dapat berjalan berdasarkan hasil paper test.

"Mungkin kalau untuk otoritas bandara itu menggunakan paper test untuk keamanan penerbangan, tapi ternyata particulate matter untuk kesehatannya masih tinggi," ujar Dante dalam keteran tertulis, dikutip Jumat (11/9/2026).

Menurutnya, partikulat berukuran kecil seperti PM2,5 perlu menjadi perhatian karena dapat terhirup hingga ke saluran pernapasan dan tidak selalu terlihat secara kasat mata.

"Untuk kesehatan, itu kita pakai yang 2,5. Kalau nanti partikel yang lebih besar kita anggap sudah mulai menurun, tapi 2,5-nya masih ada, masih tinggi," jelasnya.

"Saya mengimbau kepada masyarakat yang melakukan aktivitas di luar ruangan tetap menggunakan masker karena particulate matter-nya yang 2,5 masih di atas normal," katanya.

16.759 Kasus ISPA di Wilayah Terdampak

Kemenkes juga terus memantau dampak kesehatan akibat sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.

Hingga 6 September 2026, tercatat 16.759 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) secara kumulatif di wilayah terdampak abu vulkanik. Kasus tersebut tersebar di empat provinsi dan 23 kabupaten/kota.

Sebanyak 3.771 kasus terjadi pada kelompok usia 0-5 tahun, sedangkan 12.988 kasus terjadi pada kelompok usia di atas 5 tahun.

Dante mengatakan kejadian ISPA pada 2026 terpantau lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada 2025. Karena itu, masyarakat diminta tidak mengabaikan gejala gangguan pernapasan.

"Yang paling penting adalah bahwa masyarakat tetap harus waspada. Walaupun bandara sekarang sudah dibuka, ternyata masalah kesehatan dari pengukuran particulate counter ini masih terus berdampak untuk kesehatan," ujarnya.

Dante menyarankan masyarakat mengurangi paparan abu vulkanik dan partikulat, terutama ketika kualitas udara belum membaik.

"Misalnya stay at home, kemudian menggunakan masker, kalau ada gejala datang ke fasilitas kesehatan," katanya.

Kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia juga diminta mengurangi aktivitas di luar ruangan, terlebih di wilayah yang masih memiliki konsentrasi partikulat tinggi.

Kemenkes akan terus melakukan pemantauan kualitas udara dan dampak kesehatan akibat erupsi Gunung Anak Krakatau.

























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Wamenkes Imbau Warga Tetap Pakai Masker di Tengah Susulan Erupsi, Paparkan Kualitas Udara"