Hagia Sophia

14 March 2024

Angka Kelahiran Makin Merosot, Beberapa Negara Ini Terancam Krisis Populasi

Beberapa negara dihantam krisis populasi imbas anjloknya angka kelahiran. (Foto: Simon Shin/SOPA Images/LightRocket via Getty Images)

Tingkat kelahiran merupakan salah satu faktor krusial yang dapat menentukan masa depan sebuah negara. Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah negara dilaporkan mengalami penurunan angka kelahiran hingga terancam krisis populasi.

Bahkan, beberapa dari negara tersebut tergolong negara maju atau negara dengan harapan hidup tertinggi di dunia. Dikutip dari berbagai sumber, berikut daftar negara yang angka kelahirannya anjlok dalam beberapa waktu terakhir.

1. Taiwan
Pada 2022, Taiwan kembali mencatatkan rekor sebagai salah satu negara dengan angka kelahiran terendah di dunia. Adapun tingkat kesuburan total (Total Fertility Rate/TFR) Taiwan hanya 0,87 anak per wanita.

Angka ini bahkan lebih rendah dibanding TFR Taiwan pada 2020. Kala itu, Taiwan menjadi negara dengan angka kelahiran terendah di dunia, yakni hanya 1,07 anak per wanita.

Merosotnya angka kelahiran di negara tersebut disebabkan oleh pengeluaran dan biaya hidup yang semakin meningkat. Selain itu, banyak wanita di Taiwan yang mulai memprioritaskan karier dan baru menikah ketika usianya sudah tak lagi subur.

2. Korea Selatan
Korea Selatan juga menjadi salah satu negara yang dihantam krisis populasi. Dikutip dari Reuters, angka kelahiran di Korea Selatan tercatat hanya 0,72 pada 2023, terburuk sepanjang sejarah Negeri Ginseng tersebut.

Bahkan, kota Seoul mencatatkan angka kelahiran hanya 0,55. Menurut para ahli, anjloknya angka kelahiran di Korea Selatan disebabkan oleh tingginya biaya pendidikan dan perumahan di negara tersebut. Akibatnya, banyak pasangan muda yang belum berani memiliki dan membesarkan anak.

3. Singapura
Krisis populasi memang menjadi salah satu isu yang menghantam Singapura. Dikutip dari Channel News Asia, angka kelahiran di Singapura ditaksir hanya sekitar 0,97 pada 2023. Ini menurun dibandingkan 1,04 pada 2022, dan 1,12 pada 2021.

"Ada berbagai alasan di balik rendahnya angka kelahiran di Singapura. Beberapa bersifat sementara, misalnya pasangan yang menunda pernikahan karena COVID-19, yang kemudian turut menunda rencana untuk memiliki anak," ujar anggota parlemen Singapura, Indranee Rajah.

Selain itu, kekhawatiran mengenai biaya finansial dalam membesarkan anak, tekanan untuk menjadi orang tua yang lebih baik, dan kesulitan mengelola komitmen pekerjaan dan keluarga juga menjadi beberapa alasan masyarakat di Singapura memilih childfree.

4. Hong Kong
Hong Kong termasuk salah satu negara di Asia yang juga dilanda krisis populasi. United Nations Population Fund (UNFPA) mencatat angka kelahiran total Hong Kong pada 2023 hanya 0,8, jauh di bawah angka 2,1 untuk menjaga stabilitas populasi.

Pemerintah Hong Kong sendiri sudah melakukan berbagai upaya untuk mendongkrak angka kelahiran atau fertilitas. Misalnya, dengan menambah tunjangan pajak anak sebesar HK$ 10.000, atau sekitar lebih dari Rp 19 juta. Namun, hasilnya tidak terlalu signifikan dalam meningkatkan fertilitas.

Salah satu alasannya adalah karena banyak warga yang menganggap kebijakan kesuburan Hong Kong tidak memberikan dukungan yang cukup pada orang yang ingin memiliki anak. Selain itu, ada pula faktor sosial seperti tekanan ekonomi, perubahan struktur sosial, serta stabilitas politik yang memengaruhi keputusan orang untuk memiliki anak.

5. Jepang
Jepang tak habis-habisnya dilanda krisis populasi. Pada 2023, angka kelahiran di Negeri Sakura tercatat hanya 1,3. Lebih lanjut, data Kementerian Kesehatan Jepang mengungkapkan hanya ada sekitar 758.631 bayi yang lahir pada tahun tersebut.

Pandemi COVID-19 disebut berkontribusi terhadap penurunan angka kelahiran di Jepang. Selain itu, semakin banyak pasangan yang menikah dan memiliki anak di usia tua, sehingga turut memengaruhi fertilitas.

6. China
Meski menjadi salah satu negara dengan penduduk terpadat, China juga dihadapkan dengan krisis populasi. Dikutip dari Macrotrends, angka kelahiran di China pada 2024 hanya sekitar 1.7.

Hal tersebut disebabkan oleh banyaknya warga yang menunda pernikahan. Selain itu, banyak warga yang sudah menikah juga memilih untuk tidak memiliki anak. Biaya pendidikan yang mahal, serta lingkungan akademik yang kompetitif disebut jadi penyebab utama.

7. Italia
Beberapa negara di Eropa juga tak luput dari krisis populasi. Salah satunya Italia, salah satu negara yang memiliki harapan hidup tertinggi di dunia.

Dikutip dari Reuters, angka kelahiran di Italia mencetak rekor terendah pada 2022, yakni di bawah 400 ribu. Bahkan, kondisi ini dinilai sebagai situasi darurat nasional oleh pemerintah.

Selain dampak COVID-19, penurunan angka kelahiran juga dipengaruhi pengurangan dan penuaan populasi wanita dalam kelompok usia 15-49 tahun yang secara konvensional dianggap reproduktif.

8. Puerto Riko
Tercatat, Puerto Riko memiliki tingkat kesuburan sebesar 1,23. Padahal, pada 1950-an negara ini memiliki rata-rata kelahiran sebanyak 5 anak per wanita. Bencana alam seperti Badai Maria (2017) dan gempa (2019) yang menewaskan ribuan orang disebut berkontribusi terhadap penurunan populasi dan fertilitas.

9. Spanyol
Dikutip dari Statista, tingkat kesuburan Spanyol hanya sekitar 1,29. Sejak memasuki abad ke-21, Negeri Matador memang dihadapkan dengan ancaman krisis populasi. Meski sempat mengalami peningkatan, Spanyol tetap termasuk ke dalam negara dengan tingkat kelahiran terendah.


























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Daftar 9 Negara Terancam Krisis Populasi, Angka Kelahiran Makin Anjlok"