![]() |
| Ilustrasi. (Foto: Getty Images/Ash2016) |
Kasus meninggalnya dokter internship berinisial AMW (25), yang tengah menjalani program internship di RSUD Pagelaran, menjadi perhatian publik. Ia dilaporkan terpapar campak setelah tetap bertugas meski sudah bergejala.
Menurut Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes RI Andi Saguni, berdasarkan hasil penelusuran awal, dokter tersebut diduga telah terpapar sebelum 18 Maret saat pertama kali gejala muncul.
"Berdasarkan penelusuran, yang bersangkutan kemungkinan sudah terinfeksi sebelum tanggal 18 Maret," sorot Andi dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (30/3/2026).
Pada 18 Maret, AMW mulai merasakan gejala awal berupa demam, flu, dan batuk. Ia sempat meminta izin untuk tidak berdinas dan diizinkan beristirahat.
Namun, pada 19 hingga 21 Maret 2026, ia tetap masuk kerja dan menjalani dinas selama tiga hari berturut-turut, termasuk menangani pasien campak dengan alasan merasa tubuh masih fit.
Kondisinya terus memburuk, hingga pada 21 Maret mulai muncul ruam pada kulit, salah satu gejala khas campak. Meski demikian, ia masih tetap bertugas di Instalasi Gawat Darurat (IGD) untuk menangani pasien suspek campak. Setelah itu, ia akhirnya mengajukan cuti karena kondisi kesehatannya terus menurun.
Memasuki 24 Maret, AMW menginformasikan kepada rekan-rekannya melalui pesan WhatsApp bahwa dirinya terkena campak, disertai munculnya ruam di tubuh.
Kondisinya terus memburuk dengan cepat. Pada 25 Maret pukul 22.00 WIB, ia dibawa ke IGD RS Cianjur oleh keluarga dalam kondisi penurunan kesadaran sejak satu jam sebelumnya.
Saat tiba di rumah sakit, ia mengalami akral dingin, tekanan darah 90/60 mmHg, denyut nadi 144 kali per menit, serta saturasi oksigen yang sangat rendah, yakni 35 persen dan hanya meningkat menjadi 50 persen meski telah diberikan bantuan oksigen sungkup 15 liter per menit.
Pada 26 Maret pukul 00.30 WIB, pasien dirujuk ke ruang ICU. Namun kondisinya tidak kunjung membaik. Pada pukul 08.15 WIB dilakukan tindakan intubasi. Beberapa jam kemudian, tepatnya pukul 11.30 WIB, AMW dinyatakan meninggal. Diagnosis akhir menunjukkan campak dengan komplikasi pada jantung dan otak.
Sehari setelahnya, pada 27 Maret 2026, Kementerian Kesehatan bersama Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat melakukan penelusuran epidemiologis.
"Hasil pemeriksaan laboratorium yang keluar pada 28 Maret 2026 dari Bio Farma kemudian mengonfirmasi bahwa pasien positif campak," lapor Andi.
Andi menegaskan kasus ini menjadi pengingat penting bagi tenaga kesehatan. "Tenaga kesehatan yang sudah bergejala sebaiknya tidak bertugas terlebih dahulu untuk mencegah penularan dan risiko perburukan kondisi," katanya.
Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Kronologi Dokter di Cianjur Meninggal Positif Tertular Campak saat Bertugas"
