![]() |
| Foto: Ilustrasi Makan Siang Gratis (Antara Foto/Andry Denisah) |
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin belum lama ini mengusulkan agar orang dengan tuberkulosis (TB) masuk dalam daftar penerima manfaat Makan Bergizi Gratis (MBG).
Merespons itu, Ketua Yayasan Stop TB Partnership Indonesia (STPI) dr Donald Pardede, MPPM mengatakan dukungan nutrisi bagi pasien TB bukan sekadar bantuan makanan, melainkan bagian dari terapi yang berpengaruh terhadap peluang kesembuhan.
"Kami menghargai inisiatif Kementerian Kesehatan dalam mengusulkan perluasan MBG untuk orang dengan TB. Namun, orang dengan TB bukan semuanya anak sekolah, kebutuhan gizi mereka jauh lebih kompleks dan spesifik secara medis," beber Donald dalam keterangan tertulis yang diterima detikcom Kamis (25/6/2026).
Menurutnya, terdapat tiga hal yang perlu menjadi fondasi apabila usulan tersebut direalisasikan.
Pertama, penerima manfaat harus diprioritaskan kepada pasien TB dari kelompok ekonomi paling rentan yang berisiko mengalami kekurangan gizi.
Kedua, standar makanan yang diberikan perlu disesuaikan dengan kebutuhan klinis pasien TB. Pasalnya, kebutuhan protein, kalori, dan mikronutrien pada pasien TB lebih tinggi dibandingkan kelompok sasaran MBG saat ini.
"Standar kecukupan gizi harus diformulasikan khusus berdasarkan kebutuhan klinis orang dengan TB, bukan sekadar replikasi formula yang sudah ada," katanya.
Ketiga, program harus terintegrasi dengan layanan kesehatan, pendampingan kepatuhan minum obat, hingga perlindungan sosial agar manfaatnya lebih optimal.
STPI menjelaskan, malnutrisi dan TB memiliki hubungan yang saling memengaruhi. Gizi buruk dapat menurunkan daya tahan tubuh sehingga memperlambat pemulihan pasien, sementara infeksi TB sendiri membuat kondisi gizi semakin memburuk.
Dukungan nutrisi yang memadai terbukti membantu meningkatkan sistem imun, mempercepat proses penyembuhan, dan mendukung keberhasilan terapi TB yang berlangsung selama enam hingga 12 bulan.
Masalahnya, banyak pasien TB berasal dari kelompok ekonomi terbawah sehingga kesulitan memenuhi kebutuhan gizi selama menjalani pengobatan. Kondisi ini dinilai meningkatkan risiko pasien putus obat hingga berujung pada kematian.
Indonesia masih mencatat sekitar 126 ribu kematian akibat TB setiap tahun atau setara dua orang meninggal setiap lima menit.
Menurut Donald, pengalaman sejumlah negara seperti India dan Tiongkok juga menunjukkan bahwa dukungan nutrisi yang terstruktur mampu meningkatkan angka kesembuhan pasien TB.
Jangan Sekadar Bagi Makanan
Selain standar gizi, STPI juga mengingatkan perlunya inovasi dalam bentuk bantuan yang diberikan kepada pasien TB.
Tidak semua pasien mampu mengonsumsi makanan biasa karena efek samping obat, seperti mual, kehilangan nafsu makan, maupun gangguan pencernaan. Karena itu, bantuan dapat berupa makanan fortifikasi, suplemen gizi, atau formula khusus yang lebih mudah dikonsumsi.
Mekanisme distribusi pun dinilai perlu fleksibel. Selain melalui fasilitas kesehatan, bantuan bisa disalurkan oleh kader kesehatan langsung ke rumah pasien, terutama bagi mereka yang tinggal di daerah terpencil, memiliki keterbatasan mobilitas, atau khawatir menghadapi stigma.
"Tanpa tiga hal ini, program yang niatnya mulia berisiko tidak memberikan dampak yang diharapkan, bahkan berpotensi menimbulkan masalah baru," ujar Donald.
Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Ramai Usulan Menkes soal Pasien Tuberkulosis Masuk Penerima MBG"
