![]() |
| Foto: Getty Images/Thai Liang Lim |
Masalah kesehatan mental pada anak dan remaja di Indonesia kian mengkhawatirkan. Bahkan, satu dari tiga remaja di Indonesia mengalami masalah kesehatan mental yang signifikan. Kondisi ini mendorong Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memperkuat upaya deteksi dini melalui program First Aider Luka Psikologis di sekolah.
Psikolog Klinis Sulastry Pardede mengungkapkan sekitar 50 persen gangguan jiwa sebenarnya sudah mulai muncul sebelum seseorang berusia 14 tahun.
"Kurang lebih 2,45 juta remaja dalam 12 bulan terakhir mengalami gangguan jiwa berat," cerita Sulastry dalam webinar First Aider Luka Psikologis di Sekolah SMP dan SMA, Jakarta, Kamis (23/7/2026).
Menurutnya, generasi muda merupakan kelompok yang paling rentan mengalami gangguan kesehatan mental. Salah satu penyebabnya adalah masa remaja yang identik dengan pencarian jati diri sehingga emosi cenderung lebih fluktuatif dan intens.
Selain itu, mereka juga menghadapi tekanan dari berbagai arah, mulai dari lingkungan pertemanan, keluarga, tuntutan akademik, hingga paparan media sosial yang semakin kuat.
Sulastry mencontohkan Generasi Z atau mereka yang lahir pada 1997 hingga 2012 menjadi kelompok yang rentan mengalami stres, overthinking, serta tekanan akibat media sosial.
Ia juga mengingatkan sejumlah tanda depresi yang sering kali luput dikenali. Di antaranya perasaan sedih atau murung hampir setiap hari, kehilangan minat terhadap aktivitas yang sebelumnya disukai, tidak bertenaga, hingga mudah merasa lelah.
Gejala tersebut juga dapat disertai gangguan pola makan maupun tidur, merasa gelisah atau justru bergerak lebih lambat dari biasanya, serta kesulitan berkonsentrasi.
"Ada juga mereka yang mengalami penurunan percaya diri, rasa tak berguna dan putus asa, hingga pikiran bunuh diri," jelasnya.
Melihat tingginya angka gangguan kesehatan mental tersebut, Kemenkes bersama Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kemenkes meluncurkan buku dan pelatihan First Aider Luka Psikologis sebagai upaya agar remaja dapat saling mengenali dan memberikan pertolongan awal kepada teman yang mengalami masalah psikologis.
Penasihat Dharma Wanita Persatuan Kemenkes, Ida Gunadi Sadikin, mengatakan program tersebut menjadi langkah nyata untuk merespons meningkatnya kasus kesehatan mental pada anak dan remaja.
"Dengan adanya program ini yaitu penerbitan bedah buku pertolongan pertama pada luka psikologis, tentunya ini adalah salah satu cara dari Kemenkes dan kami dari IDWP Kemenkes untuk menyikapi adanya peningkatan statistik anak-anak yang menderita kesehatan mental," kata Ida.
Ia menyoroti data bahwa satu dari tiga anak di Indonesia mengalami luka psikologis atau masalah kesehatan mental.
"Ini langkah nyata dari kami untuk ikut memerangi masalah kesehatan mental. Jadi di Kemenkes bukan saja kesehatan fisik yang kita coba kurangi bebannya, tetapi kesehatan mental juga menjadi perhatian agar angka penderitanya tidak terus meningkat," ujarnya.
Menurut Ida, program First Aider dinilai penting karena remaja umumnya lebih terbuka kepada teman sebaya dibandingkan kepada orang tua.
"Kalau pengalaman saya pribadi, anak saya lebih senang cerita dengan teman daripada cerita dengan orang tua. Karena itu saya rasa dengan adanya First Aider, permasalahan kesehatan mental pada remaja bisa ditanggulangi lebih cepat," katanya.
Ia berharap teman sebaya dapat mengenali tanda-tanda awal gangguan mental sehingga seseorang bisa mendapatkan bantuan sebelum kondisinya memburuk.
"Harapannya kesehatan mentalnya bisa lebih cepat diperbaiki sebelum terjadi lebih parah lagi ke depannya," imbuh Ida.
Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "1 dari 3 Remaja RI Alami Masalah Mental, Kemenkes Dorong Teman Sebaya Jadi 'First Aider'"
