![]() |
| Ilustrais kanker paru (Foto: Getty Images/iStockphoto/sittithat tangwitthayaphum) |
Kanker paru sering kali baru terdeteksi setelah memasuki stadium lanjut. Padahal, penyakit ini dapat menimbulkan sejumlah gejala sejak awal yang kerap dianggap sebagai keluhan biasa. Akibatnya, banyak pasien baru memeriksakan diri ketika gejala semakin berat atau tidak kunjung membaik.
Menurut ahli bedah toraks dan kardiovaskular Ara Vaporciyan, MD, ada beberapa gejala kanker paru yang memerlukan perhatian segera. Sementara itu, gejala lainnya tetap perlu diperiksakan ke dokter apabila berlangsung selama dua hingga tiga minggu atau muncul secara terus-menerus.
"Beberapa gejala kanker paru-paru memerlukan perhatian segera," kata ahli bedah toraks dan kardiovaskular Ara Vaporciyan, MD, dikutip dari MD Anderson Cancer Center.
Cerita Penyintas soal Tanda Kanker Paru
Pengalaman serupa dialami oleh tiga penyintas kanker paru. Mereka mengaku sempat mengabaikan gejala yang muncul karena dianggap sebagai masalah kesehatan biasa.
1. Nyeri Dada atau Tekanan di Dada
Deborah Schroeder didiagnosis mengidap kanker paru pada usia 55 tahun. Salah satu gejala awal yang ia rasakan adalah nyeri dada yang tidak biasa
Ia mengaku sempat tidak menyangka dirinya mengidap penyakit serius. Menurutnya, saat masih muda, banyak orang cenderung merasa seolah-olah tidak akan mengalami masalah kesehatan yang berat. Namun, ia mulai curiga ada sesuatu yang tidak beres meski sebelumnya merasa kondisi kesehatannya baik.
"Saya mulai merasakan nyeri dada yang aneh pada musim panas tahun 2013," kata Deborah Schroeder.
"Saat masih muda, Anda merasa tak terkalahkan. Dan kemudian, Anda berpikir itu tidak akan pernah terjadi pada Anda. Namun, saya tahu ada yang salah karena hingga saat itu, saya cukup sehat."
2. Batuk yang Tak Kunjung Sembuh
Nancy White, pensiunan guru asal Pensacola, Florida, didiagnosis mengidap kanker paru pada 2015 saat berusia 71 tahun. Sebelum diagnosis ditegakkan, ia mengalami batuk yang tak kunjung sembuh dan justru semakin parah pada malam hari.
White mengaku telah mencoba berbagai cara untuk mengatasi keluhannya, Namun, semua upaya tersebut tidak membuahkan hasil.
"Saya mencoba meredakannya dengan mengonsumsi antibiotik. Saya juga menjalani beberapa tes alergi dan berkonsultasi dengan dokter spesialis telinga, hidung, dan tenggorokan. Semua itu tidak membantu," tutur White.
Hal serupa juga dialami oleh Frank McKenna, seorang pelatih kebugaran di Amerika Serikat. Dikutip dari Lung Cancer Foundation of Amerika (LCFA), pada Juli 2016, Frank yang berusia 56 tahun berada dalam kondisi fisik yang sangat prima. Sebagai pelatih kebugaran selama lebih dari 20 tahun, ia sangat mengenal kondisi tubuhnya sendiri. Karena itu, saat mengalami batuk yang terus-menerus dan mengganggu, ia menerima begitu saja diagnosis dokter yang menyebut penyebabnya adalah alergi. Frank sama sekali tidak mengira batuk tersebut bisa menjadi tanda kanker paru.
Namun, setelah mengonsumsi obat alergi yang dijual bebas selama 10 hari, batuknya tidak juga membaik. Dokter kemudian menyarankan pemeriksaan rontgen sinus dan dada. Hasilnya menunjukkan adanya penumpukan cairan di paru-paru kiri.
Saat cairan tersebut dikeluarkan, jumlahnya mencapai dua liter. Pemeriksaan lebih lanjut menemukan adanya sel kanker di kedua paru-parunya. Frank, yang memiliki kondisi fisik sangat bugar dan tidak mengalami gejala lain selain batuk yang menurutnya hanya "mengganggu", akhirnya didiagnosis mengidap kanker paru stadium 4.
3. Sesak Napas
Ashley Stringer didiagnosis mengidap kanker paru pada 2017 saat berusia 34 tahun. Ibu dua anak tersebut mulai menyadari ada yang tidak beres ketika mengalami sesak napas saat berolahraga di atas treadmill.
Awalnya, Stringer sempat mengingat iklan tentang penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) yang pernah ia lihat di televisi. Namun, ia merasa usianya masih terlalu muda untuk mengalami penyakit paru yang serius. Meski begitu, firasatnya mendorongnya untuk memeriksakan diri ke dokter.
"Saya punya firasat bahwa saya perlu memeriksakannya."
Apa Itu Kanker Paru?
Kanker paru terjadi akibat pembelahan sel yang tak terkendali di paru-paru. Sel-sel ini kemudian membelah dan membuat lebih banyak salinan dirinya sendiri sebagian dari fungsi normalnya.
Namun, terkadang, sel-sel tersebut mengalami perubahan (mutasi) yang menyebabkannya terus memperbanyak diri padahal seharusnya tidak. Sel-sel yang rusak membelah secara tidak terkendali dan menciptakan massa, atau tumor , jaringan yang pada akhirnya membuat organ-organ tubuh tidak berfungsi dengan baik.
Kanker paru-paru adalah sebutan untuk kanker yang bermula di paru-paru, biasanya di saluran udara ( bronkus atau bronkiolus) atau kantung udara kecil (alveoli). Kanker yang bermula di tempat lain dan berpindah ke paru-paru biasanya diberi nama sesuai tempat bermulanya atau disebut bermetastasis ke paru-paru.
Kanker paru seringkali tak menunjukkan gejala sampai pada stadium lanjut atau stadium 4. Pada stadium ini, kanker menyebar ke organ lain, seperti hati, otak, atau tulang, sehingga gejalanya mungkin terlambat disadari.
Gejala Kanker Paru
Spesialis penyakit dalam konsultan hematologi-onkologi Dr dr Andhika Rachman SpPD-KHOM mengatakan gejala kanker paru bisa memicu gejala seperti keluhan penyakit flu atau disebut flu like syndrome atau cancer fever. Gejala ini umumnya muncul pada sore hingga dini hari.
"Masalahnya ini juga terjadi pada kita menjelang flu," katanya saat dihubungi detikcom, Rabu (9/10/2024).
Selain itu, beberapa gejala kanker paru lainnya yang perlu diwaspadai:
- berat badan menurun
- kurang nafsu makan
- terlihat pucat
- sesak napas, yang kemudian memburuk.
Risiko Kanker Paru
Merokok dalam bentuk apa pun, termasuk rokok, cerutu, maupun pipa tembakau, merupakan faktor risiko terbesar kanker paru. Para ahli memperkirakan sekitar 80 persen kematian akibat kanker paru berkaitan dengan kebiasaan merokok.
Faktor risiko lainnya meliputi:
- Terpapar asap rokok orang lain (perokok pasif).
- Terpapar zat berbahaya, seperti radon, asbes, uranium, asap knalpot mesin diesel, silika, produk batu bara, serta polutan atau racun di udara.
- Pernah menjalani terapi radiasi pada area dada, misalnya untuk pengobatan kanker payudara atau limfoma.
- Memiliki riwayat kanker paru dalam keluarga.
Senada, dr Andhika mengatakan orang yang merokok memiliki risiko terbesar terkena kanker paru-paru, meski kanker paru-paru juga bisa terjadi pada orang yang tidak pernah merokok.
Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Pengakuan Penyintas Kanker Paru Soal Tanda-tanda Terdini yang Kerap Diabaikan"
