Hagia Sophia

03 July 2026

WHO: Lebih dari 1.300 Kematian Akibat Gelombang Panas di Eropa

Ilustrasi warga Eropa (Foto: REUTERS/Guglielmo Mangiapane)

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Minggu (28/6/2026) menyatakan lebih dari 1.300 kematian tambahan telah tercatat di Eropa sejak 21 Juni yang berkaitan dengan gelombang panas ekstrem yang memecahkan rekor dan melanda sebagian besar wilayah benua tersebut.

Puluhan juta warga Eropa masih menghadapi suhu yang sangat tinggi sepanjang akhir pekan, seiring gelombang panas bergerak ke arah timur. Sejumlah negara melaporkan peningkatan angka kematian, sementara layanan kesehatan memperingatkan kapasitas mereka mulai kewalahan.

Pada Minggu pagi (28/6), otoritas kesehatan Prancis melaporkan sekitar 1.000 kematian tambahan atau lebih banyak dari yang diperkirakan di negara itu hanya sejak Rabu.

"Lebih dari 1.300 kematian tambahan telah tercatat sejak 21 Juni yang berkaitan dengan suhu tinggi di Eropa," kata Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus melalui akun X

"Stres akibat panas sering disebut sebagai 'pembunuh diam-diam'. Rumah, tempat kerja, dan sekolah di Eropa tidak dibangun untuk menghadapi suhu setinggi ini," ujarnya.

Pada Minggu, sedikitnya 191 juta orang di Eropa diperkirakan mengalami suhu mencapai sedikitnya 35 derajat Celsius. Gelombang panas diperkirakan paling parah terjadi di Jerman, Republik Ceko, Hungaria, dan Polandia.

Republik Ceko bahkan mencatat rekor suhu tertinggi kedua dalam dua hari berturut-turut. Suhu mencapai 41,1 derajat Celsius di Doksany, sebelah utara Praha, menurut Institut Meteorologi Ceko (CHMI).

"Ini adalah pertama kalinya kami mencatat suhu 41 derajat dalam jaringan stasiun cuaca resmi kami. Suhu masih terus meningkat sehingga ini belum menjadi angka tertinggi terakhir," tulis CHMI di X.

Berdasarkan analisis yang menggabungkan prakiraan cuaca dari Dinas Meteorologi Jerman dan proyeksi jumlah penduduk tahun 2025, sekitar 381 juta orang di Eropa (di luar Turki) diperkirakan mengalami suhu di atas 30 derajat Celsius.

Tedros memperingatkan jutaan warga Eropa saat ini hidup di bawah kondisi panas ekstrem. Ratusan orang telah meninggal, sekolah ditutup, dan jaringan listrik mulai mengalami tekanan akibat tingginya permintaan.

Menurutnya, perubahan iklim dan pemanasan global membuat gelombang panas yang sebelumnya hanya terjadi sekali dalam satu generasi kini hampir menjadi peristiwa tahunan. Ia juga menegaskan bahwa Eropa merupakan benua yang mengalami pemanasan paling cepat di dunia, dengan laju dua kali lebih tinggi dibandingkan rata-rata global.

WHO menyatakan terus bekerja sama dengan negara-negara anggotanya dan berbagai mitra untuk mengatasi ancaman kesehatan akibat panas ekstrem melalui peningkatan kesiapsiagaan, langkah pencegahan, dan penguatan sistem kesehatan.

Tedros juga menyerukan agar negara-negara di Eropa segera menerapkan rencana aksi kesehatan menghadapi gelombang panas sebagai bagian dari upaya melindungi masyarakat dari dampak perubahan iklim.

























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "WHO Soroti Gelombang Panas di Eropa, Catat Lebih dari 1.300 Kematian"