![]() |
| Foto: Khairun Nisa/detikKalimantan |
Kualitas udara di sejumlah wilayah terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tercatat berada pada kategori tidak sehat hingga berbahaya. Berdasarkan pemantauan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) pada Selasa (26/8/2026) pukul 05.00 WIB, dua dari 17 stasiun yang dipantau masuk kategori berbahaya.
Direktur Kesehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan RI dr Then Suyanti mengatakan kondisi berbahaya tercatat di Kabupaten Muaro Jambi, Jambi, dengan nilai ISPU 302. Sementara itu, nilai ISPU tertinggi tercatat di Palangkaraya Jekan Raya, Kalimantan Tengah, yang mencapai 573.
Selain dua lokasi tersebut, sejumlah wilayah lainnya tercatat masuk kategori sangat tidak sehat, tidak sehat, sedang, hingga baik. Berikut daftar lengkapnya.
- KLH-Kab. Pelalawan, Riau - ISPU 258 (Sangat Tidak Sehat)
- KLH-Kab. Bengkalis Sanggoro, Riau - ISPU 138 (Tidak Sehat)
- KLH-Kab. Muaro Jambi, Jambi - ISPU 302 (Berbahaya)
- KLH-Kab. Penukal Abab Lematang Ilir, Sumatera Selatan - ISPU 222 (Sangat Tidak Sehat)
- KLH-Kab. Musi Banyuasin Serasan Jaya, Sumatera Selatan - ISPU 121 (Tidak Sehat)
- KLH-Palembang Bukit Kecil, Sumatera Selatan - ISPU 188 (Tidak Sehat)
- KLH-Kab. Ogan Ilir, Sumatera Selatan - ISPU 228 (Sangat Tidak Sehat)
- KLH-Kab. Sambas Dalam Kaum, Kalimantan Barat - ISPU 124 (Tidak Sehat)
- KLH-Pontianak Tenggara, Kalimantan Barat - ISPU 231 (Sangat Tidak Sehat)
- KLH-Kab. Gunung Mas, Kalimantan Tengah - ISPU 209 (Sangat Tidak Sehat)
- KLH-Kab. Katingan, Kalimantan Tengah - ISPU 206 (Sangat Tidak Sehat)
- KLH-Kab. Murung Raya, Kalimantan Tengah - ISPU 180 (Tidak Sehat)
- KLH-Palangkaraya Jekan Raya, Kalimantan Tengah - ISPU 573 (Berbahaya)
- KLH-Kab. Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah - ISPU 18 (Baik)
- KLH-Kab. Barito Selatan Sanggau, Kalimantan Tengah - ISPU 129 (Tidak Sehat)
- KLH-Kab. Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan - ISPU 73 (Sedang)
- Integrasi Wonotirto KPIKN IKN, Kalimantan Timur - ISPU 138 (Tidak Sehat)
Then menjelaskan kategori kualitas udara berdasarkan nilai ISPU terdiri dari baik, sedang, tidak sehat, sangat tidak sehat, hingga berbahaya. Kategori baik berada pada rentang 0-50 dan dinilai tidak memberikan efek negatif terhadap kesehatan sehingga aktivitas di luar ruangan masih dapat dilakukan.
Untuk kategori sedang dengan nilai 51-100, kualitas udara masih dapat diterima bagi kesehatan manusia, hewan, dan tumbuhan. Meski demikian, kelompok sensitif disarankan mengurangi aktivitas fisik yang terlalu lama atau berat di luar ruangan.
Kategori tidak sehat berada pada rentang ISPU 101-200. Pada kondisi ini, kualitas udara dinilai dapat merugikan kesehatan, terutama bagi kelompok rentan seperti penderita asma dan penyakit jantung.
"Bagi pengidap asma, penyakit jantung, ini diharapkan tidak di luar ruangan dan perlu dijaga kesehatannya, dan segera ke dokter apabila diperlukan. Untuk setiap orang, kurangi aktivitas yang terlalu lama di luar ruangan," jelasnya saat konferensi pers, Rabu (26/8/2026).
Sementara itu, kategori sangat tidak sehat berada pada rentang 201-300 dan dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan. Then mengimbau kelompok sensitif maupun masyarakat secara umum untuk tidak terlalu lama berada di luar ruangan.
Adapun kategori berbahaya menunjukkan kondisi yang berisiko merugikan kesehatan. Dalam kondisi tersebut, kelompok sensitif maupun masyarakat secara umum disarankan menghindari aktivitas di luar ruangan.
Lebih lanjut, Then mengatakan karhutla menjadi isu kesehatan karena dapat memicu lonjakan paparan partikulat dan gangguan kesehatan dalam waktu singkat. Salah satu polutan yang menjadi perhatian adalah PM2,5, partikel berukuran sangat kecil yang dapat menyebar luas melalui udara.
"Adanya PM 2,5 yang tinggi, tingkat pajanannya sangat luas karena di mana-mana udara itu tidak ada batasan. Dan kelompok rentah menjadi perhatian kita sama-sama karena gampang terkena penyakit, dan ini perlunya respon cepat kita semua.Dari resiko, jadi resiko ini tidak hanya ditentukan oleh konsentrasi polutan, tapi juga durasi, aktivitas, kemudian kerentanan daripada individu," lanjutnya lagi.
Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Kualitas Udara di Wilayah Terdampak Karhutla, Ada yang Sudah di Level 'Berbahaya'"
