Hagia Sophia

23 August 2026

Wabah Ebola Meningkat di Kongo, Lebih 2 Ribu Meninggal

Foto: DW (News)

Sejumlah pakar kesehatan menilai wabah Ebola di Kongo masih jauh dari kondisi terkendali.

Salah satu kekhawatiran utama adalah banyaknya kasus baru yang tidak diketahui memiliki hubungan dengan pasien Ebola sebelumnya. Artinya penularan belum sepenuhnya terputus.

Sekitar 70-80 persen kasus baru tidak memiliki hubungan yang diketahui dengan pasien lain. Kondisi tersebut menunjukkan virus masih menyebar tanpa terdeteksi di sejumlah wilayah.

"Kita masih jauh dari mengetahui besarnya wabah ini," kata Dr Wessam Mankoula, Kepala Kesiapsiagaan dan Respons Darurat Africa CDC.

Menurutnya, wabah Ebola tersebut tidak akan berakhir dalam waktu dekat.

"Ini tidak akan berakhir dalam beberapa minggu atau bahkan beberapa bulan," ujarnya.

Dikutip dari CNA, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sempat menyebut wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo (DRC) mungkin dikendalikan dalam tiga bulan ke depan. Namun, upaya penanganan saat ini menghadapi berbagai tantangan dan penyebaran virus justru semakin meluas.

Wabah dilaporkan sudah meluas hingga ke enam provinsi.

Thierno Balde, Incident Manager WHO, mengatakan target pengendalian wabah dalam tiga bulan masih mungkin dicapai jika sumber daya yang dibutuhkan tersedia.

"Untuk rencana tiga bulan ke depan, ya, jika sumber daya yang diperlukan tersedia, saya pikir hal itu masih mungkin dilakukan," kata Balde kepada wartawan di Jenewa dari Bunia, Kongo.

Wabah Ebola kali ini menjadi wabah terburuk yang pernah terjadi di Kongo. Dari 17 wabah yang pernah terjadi di negara tersebut, wabah terbaru ini telah menewaskan sedikitnya 2.325 orang.

Upaya penanganan wabah saat ini masih terkendala keterbatasan sumber daya. WHO baru mendapatkan sekitar 60 persen dari US$ 115 juta atau sekitar Rp 1,8 triliun yang dibutuhkan untuk penanganan wabah Ebola.

Selain pendanaan, sejumlah tantangan lain juga dihadapi, mulai dari keterlambatan deteksi kasus, tim pemantauan yang kewalahan, konflik bersenjata, hingga keterbatasan vaksin dan pengobatan untuk virus Ebola spesies Bundibugyo yang tergolong langka.

























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Wabah Ebola Langka di Kongo 'Menggila', Tewaskan Lebih dari 2 Ribu Orang"