Hagia Sophia

15 September 2026

IDAI Desak Pemerintah Perketat Program MBG

Foto: Rifki Afifan Pridiasto

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mendesak pemerintah memperketat standar keamanan pangan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Desakan ini disampaikan menyusul kasus keracunan yang kembali dialami anak-anak sekolah.

Ketua Pengurus Pusat IDAI Dr dr Piprim Basarah Yanuarso, Sp A, Subsp.Kardio(K), mengatakan kasus keracunan MBG yang terus berulang tidak boleh dianggap sebagai persoalan kecil. Ia menyoroti salah satu kejadian ketika sekitar 500 anak sekolah diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi MBG.

"Terus terang kami dari Ikatan Dokter Anak Indonesia dibuat sangat bersedih ya, melihat dalam satu episode saja ratusan ya, bisa sampai 500 anak-anak sekolah keracunan MBG ya, sampai kita lihat ambulans sibuk luar biasa, angkut mereka ke rumah sakit ya," katanya dalam media briefing, Jumat (11/9/2026).

"Bahkan ada juga yang kita lihat di media sosial, anak yang tadinya cerdas, Wakil Ketua OSIS, kemudian mengalami kemunduran drastis dari kesehatannya ya, akibat diduga memang setelah makan MBG tadi ya," lanjutnya.

Menurut dr Piprim, IDAI sejak awal telah menyoroti pentingnya food safety dalam program MBG. Ia mengatakan keamanan pangan tidak dapat digantikan dengan langkah seperti meminta guru mencicipi makanan sebelum diberikan kepada siswa.

Ia juga menilai satu kasus keracunan sudah cukup menjadi alasan untuk melakukan evaluasi, sebab dampaknya tidak hanya dirasakan oleh anak, tetapi juga keluarga.

"Bagi kami, satu saja anak yang sakit, satu saja anak keracunan, itu tidak bisa ditoleransi, karena bagi orang lain mungkin satu anak itu hanya sekedar angka, bahkan ada yang bilang 0,00 sekian persen katanya, dari sekian juta anak. Tapi bagi keluarganya, tidak ada anak itu berupa angka ya, anak keracunan itu bagi keluarganya adalah segala-galanya," ujarnya.

IDAI sebelumnya mengusulkan agar penyediaan MBG dilakukan melalui kantin sekolah sehingga makanan dapat tetap hangat saat diberikan kepada anak. Piprim mengatakan konsep tersebut juga memungkinkan makanan disajikan sesuai dengan pilihan anak serta memprioritaskan anak-anak di wilayah 3T.

dr Piprim menegaskan standar keamanan pangan dalam MBG harus diterapkan secara ketat dan tidak boleh ditawar. Ia juga meminta edukasi mengenai keamanan pangan dan pertolongan pertama pada kasus keracunan diberikan kepada guru maupun anak-anak sebagai langkah mitigasi.

Menurutnya, tujuan program MBG untuk memberikan makanan bergizi kepada anak akan kehilangan manfaat apabila aspek keamanan pangan diabaikan.

"Niatnya mulia memberi makan, memberi gizi pada anak-anak, tapi ketika pelaksanaannya abai terhadap food safety atau standar keamanan pangan, maka yang didapat bisa suatu fatalitas ya dengan korbannya anak-anak," tuturnya.

Ia pun meminta agar tidak ada lagi anak yang menjadi korban keracunan dalam pelaksanaan MBG.

"Kami dari IDAI menyuruhkan stop keracunan makanan pada MBG, maupun makanan-makanan lain, stop keracunan. Sudah cukup lah. Enough is enough. Tidak boleh ada lagi korban yang jatuh keracunan karena MBG ini," pungkasnya.

























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "IDAI Desak Hentikan Keracunan MBG: 'Enough is Enough'"