Hagia Sophia

12 September 2026

Kisah Bayi Prematur Pertama yang Dirawat di Inkubator

Ilustrasi (Foto: Getty Images/iStockphoto/Ondrooo)

Penanganan medis bagi bayi yang lahir secara prematur kini telah berkembang sangat pesat. Tetapi, bagaimana awal mula teknologi inkubator diciptakan hingga berhasil menyelamatkan jutaan nyawa bayi berbobot rendah di seluruh dunia?

Jejak sejarah medis mencatat nama 'Edith Eleanor McLean' sebagai bayi pertama di Amerika Serikat yang dirawat di dalam mesin inkubator. Bayi itu lahir di State Emigrant Hospital, Ward's Island, New York, pada 7 September 1888.

Edith lahir secara prematur dengan bobot yang sangat memprihatinkan, yakni kurang dari 3 pon atau sekitar 1,3 kg.

Di masa itu, merawat bayi prematur sering kali dianggap sebagai upaya yang sia-sia dan membuang biaya besar. Sebab, tingkat kelangsungan hidup si bayi yang amat rendah.

Kehadiran Edith di dalam inkubator buatan William Champion Deming menjadi titik balik penting dalam membuka era baru perawatan bayi baru lahir yang paling rentan.

Terinspirasi dari Mesin Penetas Unggas

Dikutip dari People, gagasan pembuatan inkubator bayi sendiri sebenarnya tidak datang dari laboratorium canggih, melainkan dari sebuah tempat yang tak terduga. Ide ini dicetuskan oleh dokter spesialis kebidanan asal Prancis, Stéphane Tarnier.

Tarnier mendapatkan inspirasi tersebut usai melihat cara kerja mesin penetas unggas di kebun binatang Paris. Dari sana konsep wadah penghangat untuk bayi prematur mulai dikembangkan.

Inkubator versi awal ini masih bekerja secara manual dan dipanaskan menggunakan tangki air. Untuk menjaga suhu tubuh Edith tetap stabil, para perawat kala itu harus bergantian mengganti air penghangat, yang jumlahnya mencapai 57 liter setiap kali suhunya mulai mendingin.

Teknologi ini baru berkembang menjadi inkubator modern dengan kontrol suhu dan kelembapan otomatis setelah era Perang Dunia II.

Sempat Jadi 'Atraksi Tontonan' Demi Selamatkan Nyawa

Uniknya, popularitas dan adopsi penggunaan inkubator secara luas justru berawal dari sebuah tempat hiburan. Seorang pengusaha asal Jerman bernama Martin Couney, yang anak kandungnya sendiri lahir prematur, membuat pertunjukan unik di Coney Island, New York.

Couney memajang bayi-bayi prematur di dalam inkubator dan mengenakan tarif masuk sebesar 25 sen bagi pengunjung yang ingin melihatnya.

Kendati sempat mendapat penolakan dari pihak keluarga karena tak ingin anaknya dijadikan tontonan, Couney tidak pernah memungut biaya sepeser pun dari orang tua bayi. Uang hasil tiket masuk itulah yang ia gunakan seluruhnya untuk membiayai perawatan medis bayi-bayi tersebut selama 40 tahun pameran berjalan.

Kisah sukses wahana ini diakui langsung oleh para penyintasnya Beth Allen, salah satu bayi prematur yang berhasil selamat berkat inkubator Couney. Dirinya mengungkapkan betapa berharganya kesempatan hidup yang ia dapatkan.

"Tidak ada orang lain yang menawarkan bantuan apa pun untuk menyelamatkan saya kala itu. Tanpa Martin Couney, saya tidak akan memiliki kehidupan," kenang Allen.

























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Kisah Bayi Prematur Pertama yang Dirawat di Inkubator, Berbobot Cuma 1,3 Kg"