![]() |
| Pakai masker double, efektif? Foto: Getty Images/Wachiwit |
Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau kembali menjadi perhatian publik setelah menyemburkan kolom abu vulkanik bertekanan tinggi. Sebaran abu halus yang terbawa angin memicu kekhawatiran masyarakat akan dampak buruknya terhadap kesehatan saluran pernapasan.
Gejala seperti tenggorokan gatal, hidung berair, hingga sesak napas mendadak mengintai akibat paparan artikel halus dari debu vulkanik tersebut.
Seketika, masker kembali menjadi barang primer yang paling diburu warga di pasar maupun e-commerce. Namun, di tengah maraknya aksi pemborongan dan melambungnya harga masker di pasaran, masih banyak anggapan keliru soal cara penggunaannya yang benar.
Praktisi kesehatan dari RS Paru Persahabatan, Prof Dr dr Agus Dwi Susanto, SpP(K) membeberkan beberapa hal penting terkait penggunaan masker yang wajib diketahui saat menghadapi bencana abu vulkanik.
1. Jenis Masker yang Direkomendasikan
Tidak semua jenis masker memiliki kemampuan menahan partikel halus abu vulkanik. Pilihan ideal secara medis adalah masker jenis respirator.
"Paling ideal itu kita menyebutnya di dunia medis sebagai respirator, yaitu masker yang memiliki kemampuan filtrasi terhadap partikel halus di atas 95 persen, seperti N95, KN95, atau FFP2," jelas Prof Agus dalam siaran detikPagi, Senin (7/9/2026).
Jika masker tipe tersebut sulit didapatkan atau harganya terlalu mahal, masker bedah biasa masih bisa dijadikan alternatif. Daya filtrasinya berada di kisaran 50 hingga 60 persen.
Jenis masker yang kurang disarankan adalah masker kain karena daya filtrasinya sangat rendah, yakni hanya sekitar 10 persen.
2. Membasahi Masker Justru Sangat Berbahaya
Beredar anggapan di masyarakat bahwa membasahi masker dengan air dapat meningkatkan efektivitas penyaringan abu. Prof Agus menegaskan, hal ini adalah mitos yang membahayakan kesehatan.
Ada dua alasan utama mengapa masker tidak boleh dibasahi:
- Menjadi sarang infeksi: masker yang basah atau lembab menjadi tempat ideal bagi pertumbuhan virus, bakteri, hingga jamur. Pemakaian masker basah selama berjam-jam justru mempercepat terjadinya ISPA.
- Membentuk lapisan mirip semen: abu vulkanik mengandung silika dan mineral batuan halus. Jika terkena air pada masker, partikel tersebut akan menempel keras dan memadat.
"Bayangkan kalau masker kita jadi padat, itu akan membuat malah sesak napas, udaranya enggak bisa masuk karena ada lapisan tebal yang seperti semen," tegasnya.
3. Efektivitas Menumpuk (Double) Masker
Menumpuk penggunaan masker diperbolehkan untuk meningkatkan perlindungan, terutama jika menggunakan masker bedah. Satu lapis masker bedah memiliki daya filtrasi sekitar 50 hingga 60 persen.
Dengan merangkap dua masker bedah, filtrasi udara terhadap partikel halus akan semakin meningkat.
Prof Agus lebih menyarankan merangkap dua masker bedah dibandingkan mengombinasikan masker kain dengan masker bedah. Kendati demikian, ia mengingatkan agar masker tetap diganti secara berkala setiap 6 sampai 8 jam.
Uap air dari napas sendiri lambat laun akan membuat bagian dalam masker menjadi lembab dan berisiko menjadi sumber infeksi.
4. Stop Mencuci Ulang Masker!
Keterbatasan stok sering kali membuat masyarakat nekat mencuci ulang masker yang telah dipakai. Praktik ini harus segera dihentikan.
Masker bedah maupun respirator tipe N95 dan KN95 didesain khusus untuk sekali pakai (single use) dan akan rusak jika terkena air atau bahan pembersih.
Mencuci masker kain pun tidak akan memperbaiki kualitas penyaringannya. Proses pencucian justru membuat pori-pori serat kain makin terbuka.
"Mencuci masker kain, yang enggak dicuci saja filtrasinya kecil. Begitu dicuci akan lebih kecil lagi. Jadi, memang untuk masker kain tidak disarankan," ungkapnya.
5. Alasan Tidak Perlu Panic Buying
Masyarakat diimbau untuk tidak panik hingga melakukan aksi borong (panic buying) yang memicu kelangkaan dan lonjakan harga masker di pasaran.
Masker pada dasarnya hanyalah alat pelindung diri pelengkap ketika terpaksa harus beraktivitas di luar ruangan.
Langkah pencegahan yang paling efektif sebenarnya adalah membatasi paparan debu dengan berdiam di dalam rumah.
"Yang terpenting adalah melakukan upaya-upaya pencegahan, terdiri atas mengurangi aktivitas di luar rumah, baik diri sendiri maupun keluarga, terutama anak-anak, orang tua, dan kelompok berisiko tinggi," tutur Prof Agus.
Kualitas udara di dalam rumah dapat dijaga dengan menutup rapat pintu dan jendela, memanfaatkan air purifier, serta menggunakan mode recirculate pada pendingin udara atau Air Conditioner (AC) agar udara luar yang kotor tidak masuk ke dalam ruangan.
Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "5 Fakta Penting Soal Masker, Banyak Diburu saat Anak Krakatau Muntahkan Abu"
