![]() |
| Rumitnya radang usus buntu pada anak. Foto: Getty Images/iStockphoto/Barabasa |
Mendeteksi masalah kesehatan pada balita sering kali menjadi tantangan tersendiri bagi setiap orang tua. Pasalnya, anak kecil seringkali susah menggambarkan gejala yang dialami dengan spesifik.
Saat anak mengeluh sakit perut, mengenali apakah itu sekadar masalah pencernaan biasa atau kondisi darurat seperti radang usus buntu bukanlah perkara mudah. Anak-anak yang belum lancar berbicara sering kesulitan menjelaskan di mana persisnya rasa sakit tersebut.
Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Gastrohepatologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr dr Himawan Aulia Rahman, SpA, Subsp.G.H.(K) memaparkan, untuk mendiagnosis usus buntu pada anak-anak memang membutuhkan kejelian ekstra.
Sebab, gejalanya sangat mudah mengecoh dan kerap dianggap sebagai gangguan pencernaan biasa.
Mengenali Gejala Klasik Usus Buntu
Pada remaja atau orang dewasa, usus buntu umumnya memiliki pola gejala berurutan yang mudah dikenali, seperti menurunnya nafsu makan, muncul rasa nyeri di bagian tengah perut, sekitar pusar, atau ulu hati, muntah-muntah, dan nyeri yang perlahan pindah dan menetap di perut kanan bawah.
Sayangnya, pola klasik ini sangat sulit dilacak pada balita karena keterbatasan komunikasi mereka.
Paradoks Usus Buntu pada Anak-anak: Kasus Sedikit, Komplikasi Tinggi
Secara statistik, usus buntu paling sering dialami usia remaja umur belasan tahun. Sementara itu, kasus pada anak-anak, terutama bayi dan balita, terbilang sangat langka, yakni kurang dari 5 persen.
Selain itu, berkat kemajuan teknik operasi bedah saat ini, angka kematian karena usus buntu sangatlah kecil, yakni di bawah 1 persen.
Akan tetapi, dokter menekankan bahwa bahaya utamanya terletak pada komplikasi jangka panjang atau morbiditas.
"Yang penting bukan angka kematian saja, tapi apakah anak itu mengalami komplikasi atau tidak ke depannya. Misalnya, ususnya sampai harus dipotong. Itu kan tidak harus sampai meninggal, tapi kasihan anaknya kalau sampai terlambat ditangani," ucap dr Himawan pada Selasa (1/9/2026).
Terdapat sebuah imbauan penting lainnya kepada para orang tua. Ternyata, semakin muda usia anak-anak, semakin besar risiko komplikasi peradangannya.
"Uniknya, usus buntu pada bayi atau anak yang usianya lebih kecil ini lebih sering datang dengan komplikasi. Komplikasi terberatnya adalah usus buntu bocor (perforasi), isi (usus)-nya keluar ke rongga perut dan menyebabkan infeksi luas," ujarnya.
"Kejadian komplikasi bocor ini lebih sering dibandingkan anak-anak yang usianya lebih tua," lanjutnya.
Sebagai kesimpulan, ia berpesan agar orang tua tidak menunda membawa anak, terutama balita, ke fasilitas kesehatan jika mereka mengalami sakit perut yang hebat.
Jangan pernah mendiagnosis sendiri atau melabeli penyakit anak yang berujung pada keterlambatan penanganan.
Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Rumitnya Usus Buntu pada Anak: Gejala Susah Dideteksi, Paling Rawan Komplikasi"
