![]() |
| Foto: AP/Yudha Prabowo |
Publik kini menyoroti penggunaan gas air mata dalam upaya penanganan kerusuhan di Kanjuruhan, Malang. Diduga, ratusan kematian yang terjadi disebabkan pelepasan gas air mata berkali-kali dari pihak kepolisian sehingga penonton berdesakan keluar. Seiring itu, Dinas Kesehatan Kabupaten Malang membenarkan penyebab kematian tersebut yakni sesak napas.
Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK UI) sekaligus spesialis paru, Prof Tjandra Yoga Aditama SpP menjelaskan, gas air mata bisa memicu gejala akut pada saluran napas. Kemudian, efek gas air mata akan lebih berat kepada orang-orang dengan riwayat asma dan Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK).






