Hagia Sophia

30 January 2026

Ada 36 Ribu Wanita Indonesia Terdeteksi Menderita Kanker Serviks

Foto ilustrasi: Getty Images/SewcreamStudio

Indonesia baru mampu mendeteksi 36 ribu kasus dari estimasi 400 ribu perempuan Indonesia dengan kondisi kanker leher rahim atau kanker serviks.

Kesenjangan antara deteksi dan estimasi tersebut salah satunya dipicu dengan rendahnya skrining kanker leher rahim. Secara nasional skrining baru mencapai 7 persen imbas minim kesadaran masyarakat untuk memeriksakan diri, adanya stigma, hingga keterbatasan tenaga kesehatan.

"Berarti kan masih banyak fenomena gunung es yang belum kita temukan dan kita selalu tahu kalau kita berbicara kanker di Indonesia itu angka kematiannya itu bisa sampai dengan 60-70 persen dan ini juga berlaku untuk kanker leher rahim," sorot Direktur Penyakit Tidak Menular Kemenkes RI dr Siti Nadia Tarmizi saat ditemui di Gedung Prof Sujudi, Kemenkes RI, Selasa (27/1/2026).

Meski begitu, capaian skrining menunjukkan peningkatan signifikan dalam dua tahun terakhir. Pada 2024, jumlah perempuan yang menjalani skrining tercatat sekitar 150 ribu orang. Sementara pada 2025, angka tersebut melonjak menjadi 666 ribu perempuan, meski masih jauh dari target nasional.

"Dengan segala keterbatasan, kita bisa mengejar hingga 666 ribu skrining. Ini patut diapresiasi," kata Nadia.

Dari jumlah tersebut, sekitar 4 persen terdeteksi positif HPV, dan 17 ribu perempuan telah menjalani tindak lanjut pemeriksaan lanjutan (IVA test). Artinya, ribuan perempuan telah diselamatkan melalui deteksi dini.

Kendala Skrining Kanker Serviks

Namun, dari ratusan kasus yang seharusnya ditangani lebih lanjut, hanya sebagian kecil yang benar-benar sampai ke tahap pengobatan lanjutan.

"Banyak kendala di lapangan, mulai dari ketakutan pasien, stigma, hingga kesulitan mengakses rumah sakit rujukan," jelasnya.

Target skrining nasional ditetapkan 75 persen, lebih tinggi dari standar global sebesar 70 persen. Pemeriksaan kini difokuskan pada metode HPV DNA, yang dinilai lebih akurat dibanding pap smear.

Pemerintah juga telah menyediakan pemeriksaan HPV DNA secara gratis melalui program cek kesehatan, termasuk di puskesmas.

Sebagai catatan, kanker serviks di tahap awal kerap tidak bergejala sehingga skrining menjadi cara paling efektif untuk menekan risiko fatailitas. Sebab, semakin awal ditemukan semakin besar peluang kesembuhan.

























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "400 Ribu Wanita Indonesia Dibayangi Risiko Kanker Serviks"