Hagia Sophia

01 January 2026

Ini Kata Guru Besar FKUI Terkait RS di Malaysia Punya Ruang Khusus Pasien RI

Foto: Khadijah Nur Azizah/detikHealth

Sebuah unggahan di platform X viral setelah memperlihatkan foto salah satu rumah sakit di Malaysia yang memiliki ruangan khusus untuk pasien Indonesia.

"Tadi buat medical check up kat Sunway. They even have a special office for Indonesian patients now," tulis salah satu akun, dikutip Senin (29/12/2025).

Unggahan tersebut menuai beragam respons warganet. Tidak sedikit dari mereka mempertanyakan kualitas layanan kesehatan dalam negeri, sementara yang lain menilai fenomena ini sebagai bukti kuat masih banyak masyarakat Indonesia memilih berobat ke luar negeri.

Prof Tjandra Yoga Aditama, Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara yang juga Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) menilai ada beberapa hal yang perlu diperbaiki.

"Fenomena ini tidak bisa dilihat secara hitam-putih. Kita perlu pendekatan ilmiah yang sistematis dan berbasis bukti," kata Prof Tjandra kepada detikcom, Senin (29/10).

Menurut Prof Tjandra, langkah pertama yang paling penting adalah melakukan analisis ilmiah yang mendalam untuk memahami alasan masyarakat Indonesia memilih berobat ke luar negeri.

"Kenapa masyarakat berobat ke luar negeri harus dianalisis dengan kaidah ilmiah yang baik dan benar. Dengan pendekatan evidence-based, kita bisa mengetahui penyebab sebenarnya dan jalan keluarnya," ujarnya.

Tanpa data dan analisis berbasis bukti, lanjut dia, diskusi publik hanya akan berputar pada asumsi dan emosi, tanpa menghasilkan solusi nyata.

Prof Tjandra juga menekankan peningkatan mutu layanan rumah sakit dalam negeri harus dilakukan secara konsisten dan berkala. Indonesia disebutnya sudah memiliki sistem akreditasi nasional, bahkan sebagian rumah sakit telah mengantongi akreditasi internasional.

"Kalau sudah mencapai derajat akreditasi tertentu tapi pelayanan masih dianggap belum baik, maka perlu dicek. Apakah sistem jaga mutu berkelanjutan yang belum berjalan, atau justru sistem akreditasinya yang belum menjamin mutu layanan," jelasnya.

Pesan Hindari Saling Menyalahkan

Isu berobat ke luar negeri kerap memunculkan polemik antara pembuat kebijakan dan tenaga kesehatan di lapangan. Menurut Prof Tjandra, kondisi ini justru kontraproduktif.

"Menjaga keharmonisan antara penentu kebijakan publik dan pelaksana pelayanan kesehatan itu penting. Kalau saling menyalahkan, atmosfernya jadi tidak sehat dan tidak membantu perbaikan layanan," katanya.

Ia menilai, perbaikan sistem kesehatan hanya bisa berjalan jika semua pihak duduk bersama dan berbicara dalam kerangka solusi.

Harga Obat dan Alkes

Selain pelayanan medis langsung, Prof Tjandra menyoroti faktor non-medis yang sangat memengaruhi persepsi masyarakat terhadap layanan kesehatan dalam negeri.

"Sudah sering muncul berita kenapa harga obat di Indonesia lebih mahal dibanding banyak negara lain, tapi sampai sekarang belum ada kebijakan nyata yang membuat harga obat lebih murah," ujarnya.

Belum lagi, kata dia, persoalan pajak alat kesehatan dan biaya pendukung lain yang pada akhirnya membebani pasien. Aspek-aspek ini kerap menjadi alasan mengapa biaya berobat di luar negeri terasa lebih 'masuk akal' bagi sebagian masyarakat.

Prof Tjandra menilai Indonesia juga tidak cukup hanya memperbaiki layanan di dalam rumah sakit. Ia mendorong adanya strategi pemasaran layanan kesehatan agar Indonesia juga bisa menjadi tujuan berobat bagi warga negara asing.

"Perlu dipikirkan kemudahan di bandara, transportasi, bahkan kemudahan imigrasi bila diperlukan. Juga menjelaskan ke luar negeri layanan kesehatan apa saja yang kita miliki," ungkapnya.

Ia menegaskan bahwa langkah ini bukan semata tanggung jawab sektor kesehatan, melainkan membutuhkan kerja sama lintas sektor, termasuk pariwisata, perhubungan, dan imigrasi.

"Kalau kita ingin masyarakat berobat di dalam negeri, maka semua aspek itu harus dibenahi bersama," tutup Prof Tjandra.

























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Heboh RS di Malaysia Punya Ruang Khusus Pasien RI, Guru Besar FKUI Soroti Ini"