Hagia Sophia

27 June 2026

Ini Tandanya Bila Infeksi Menular Seksual yang Terlambat Ditangani

Foto: ilustrasi infeksi menular seksual (Getty Images/iStockphoto/jarun011)

Infeksi Menular Seksual (IMS) merupakan masalah kesehatan yang bisa dialami siapa saja, baik pria maupun wanita. Sayangnya, banyak kasus IMS tidak segera terdeteksi karena gejalanya sering kali ringan, tidak khas, atau bahkan tidak menimbulkan keluhan sama sekali pada tahap awal.

Kementerian Kesehatan RI mencatat adanya peningkatan kasus infeksi menular seksual, terutama di kelompok usia muda. Pada 2024, Kemenkes mencatat 23.347 kasus sifilis dan 10.506 kasus gonore. Kasus IMS terbanyak terjadi pada kelompok usia produktif, yakni 25-49 tahun.

Infeksi Menular Seksual Kerap Terlambat Ditangani

Menurut dr. Hanny Nilasari, Sp.D.V.E., dari Departemen Dermatologi dan Venereologi FKUI-RSCM, IMS sering kali tidak bergejala, terutama pada perempuan, sehingga kerap terlambat ditangani.

Jika tidak ditangani dengan tepat, IMS dapat menyebabkan berbagai komplikasi, seperti radang panggul, kehamilan ektopik, hingga infertilitas.

"Tren kejadian IMS dari tahun ke tahun terus meningkat, dan usia penderita makin muda. Sudah banyak kasus IMS maupun kehamilan tidak diinginkan pada remaja, dan ini mendorong tingginya angka aborsi," jelas dr. Hanny.

Tanda-tanda Infeksi Menular Seksual

Tanda-tanda IMS dapat berupa keluarnya cairan kental atau berdarah dari alat kelamin, nyeri saat berhubungan seksual, luka atau lenting di area genital, hingga ruam pada kulit. Berikut beberapa jenis infeksi menular seksual beserta gejalanya.

1. Gonore
Gonore adalah infeksi pada saluran reproduksi yang disebabkan oleh bakteri. Pada wanita, gejala cenderung muncul dalam waktu sekitar 10 hari setelah terpapar. Sementara pada pria, gejala sering kali mulai muncul dalam waktu sekitar lima hari setelah terpapar.

Gejala gonore meliputi nyeri di area panggul dan perut. Dikutip dari Mayo Clinic, gejala lainnya meliputi:
  • Cairan abnormal dari alat kelamin: Cairan kental, keruh, atau berdarah yang keluar dari penis atau vagina.
  • Nyeri saat buang air kecil: Rasa sakit atau sensasi terbakar.
  • Pendarahan: Menstruasi yang lebih berat atau pendarahan di antara periode menstruasi.
  • Keluhan pada testis: Terasa nyeri dan bengkak
  • Keluhan pada dubur: Keluar cairan, nyeri, pendarahan, atau gatal pada anus.
Menurut dr. Hanny, gejala yang paling sering dialami laki-laki adalah keluarnya cairan seperti nanah dari ujung penis. Sementara pada perempuan, gejalanya sering kali tidak spesifik.

"Pada perempuan harus hati-hati. Kelainannya kadang-kadang tidak spesifik, hanya seperti keputihan biasa dan sering tanpa gejala. Seorang perempuan biasanya kalau terkena gonore sudah dalam bentuk komplikasi, seperti penyakit radang panggul bahkan sampai infertilitas," tutur dr. Hanny.

2. Klamidia
Klamidia juga merupakan infeksi pada saluran reproduksi yang disebabkan oleh bakteri. Pada tahap awal, infeksi klamidia sering kali hanya menimbulkan sedikit gejala atau bahkan tidak bergejala sama sekali. Jika gejala muncul, biasanya terjadi dalam waktu 5-14 hari setelah terpapar bakteri klamidia.

Gejala klamidia meliputi:
  • Nyeri saat buang air kecil: Rasa sakit yang mungkin terasa seperti terbakar.
  • Abdomen: nyeri di bagian bawah area perut
  • Nyeri pada vagina: Terjadi saat berhubungan seks
  • Keluhan pada rektum: Nyeri, keluarnya cairan da pendarahan
  • Gejala lainnya: Nyeri punggung bawah, keputihan, cairan keluar dari penis, nyeri atau pembengkkan pada testis.
3. Herpes Genital
Herpes genital adalah infeksi menular seksual yang disebabkan oleh virus herpes simpleks (HSV). Virus ini masuk ke dalam tubuh melalui luka kecil pada kulit atau selaput lendir. Sebagian penderita herpes genital tidak menyadari bahwa dirinya terinfeksi.

Gejala dapat muncul dalam waktu sekitar 12 hari setelah terpapar HSV. Beberapa tandanya meliputi:
  • Benjolan merah kecil, lepuh (vesikel), atau luka terbuka (ulkus). Gejala ini sering muncul di sekitar alat kelamin, rektum, dan mulut. -Penyembuhannya dapat memakan waktu satu minggu atau lebih.
  • Rasa sakit atau gatal di sekitar area genital, bokong, dan paha bagian dalam.
  • Gejala lainnya: sensasi tekanan di area perut dan keputihan.
"Infeksinya sudah parah atau akut ini kelainannya dapat berupa lenting-lenting yang cukup banyak atau berbentuk luka sekitar area genital perempuan, laki-laki, ataupun anus, atau mulut, sesuai kontak seksual dilakukannya," imbuh dr Hanny.

4. Sifilis atau Raja Singa
Sifilis biasanya dimulai dengan munculnya luka yang umumnya tidak nyeri di alat kelamin, rektum, atau mulut. Infeksi awal sifilis biasanya menimbulkan luka pada area yang menjadi lokasi kontak seksual.

"Selanjutnya infeksi dapat menyebar ke dalam darah dan menyerang organ vital lainnya, seperti jantung, ginjal, saraf, dan mata. Namun sebelum menyerang organ-organ tersebut, biasanya manifestasinya muncul terlebih dahulu di kulit," kata dr. Hanny.

"Kadang-kadang kondisi ini terabaikan oleh pasien. Mereka datang dengan keluhan bercak-bercak di telapak tangan dan mengira itu merupakan reaksi alergi," lanjutnya.

Dikutip dari Mayo Clinic, gejala sifilis yang semakin berat meliputi:
  • Ruam: Bintik-bintik kasar dan berubah warna di area tubuh manapun
  • Demam: Suhu tubuh melebihi 37 derajat celsius
  • Pembengkakan kelenjar getah bening: Respon kelenjar getah bening yang menandakan sesuatu yang tidak beres pada tubuh
  • Gejala lain: Sakit kepala, rambut rontok, penurunan berat badan.
5. Kutil Kelamin
Kutil kelamin merupakan jenis infeksi menular seksual yang menyebabkan munculnya kutil atau pertumbuhan jaringan kecil di dalam maupun sekitar alat kelamin serta rektum. Beberapa jenis human papillomavirus (HPV) menjadi penyebab kondisi ini.

Kutil kelamin biasanya tidak menimbulkan rasa sakit. Namun, pada beberapa kasus dapat menyebabkan:
  • Pendarahan ringan.
  • Sensasi terbakar.
  • Rasa tidak nyaman.
  • Gatal atau iritasi pada area genital.
6. HIV
HIV adalah infeksi yang disebabkan oleh Human Immunodeficiency Virus. Penyakit ini menyerang sistem kekebalan tubuh sehingga kemampuan tubuh melawan virus, bakteri, dan jamur penyebab penyakit menjadi menurun.

Beberapa gejala awal HIV meliputi demam, menggigil, dan pembengkakan kelenjar getah bening. Sementara ketika telah berkembang menjadi AIDS, gejalanya dapat berupa kelelahan ekstrem, luka di mulut, anus, atau alat kelamin, hingga gangguan daya ingat.

"Pada saat virus HIV masuk, virus ini tidak langsung menyebabkan penyakit yang berat. Namun ketika sudah memasuki tahap AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome), yang merupakan tahap lanjut dari infeksi HIV," imbuh dr. Hanny.

"Saat daya tahan tubuh sudah sangat lemah dan sistem kekebalan tubuh tidak lagi mampu mempertahankan diri dari infeksi, barulah muncul berbagai kelainan dan komplikasi yang berat," lanjutnya.

Diagnosa Infeksi Menular Seksual

Jika pasien menunjukkan tanda-tanda mengalami infeksi menular seksual, tenaga kesehatan mungkin akan melakukan pemeriksaan fisik atau pemeriksaan panggul untuk mencari tanda-tanda infeksi, seperti adanya ruam, kutil, atau keputihan.

Adapun beberapa tes laboratorium yang bisa dilakukan untuk mendiagnosa infeksi menular seksual di antaranya:
  • Tes darah, yang bisa mengonfirmasi diagnosa HIV atau stadium lanjut sifilis
  • Sampel urine, beberapa penyakit menular seksual bisa dikonfirmasi dengan sampel urine
  • Sampel cairan, jika pasien memiliki luka terbuka di area genital, tenaga kesehatan mungkin akan menguji cairan dan sampel dari luka untuk mendiagnosis jenis infeksinya.

























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Tanda-tanda Infeksi Menular Seksual yang Sering Diabaikan pada Pria dan Wanita"