![]() |
| Foto ilustrasi: Getty Images/iStockphoto/bedya |
Viral kasus dugaan penganiayaan yang menimpa seorang wanita berinisial YTR (29) di wilayah Cileunyi, Kabupaten Bandung. Korban diduga dianiaya oleh kekasihnya sendiri hingga harus menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Hasan Sadikin (Hasan Sadikin).
Adik korban, Syahrul Ulum (26), mengungkapkan bahwa kondisi kakaknya saat ini sangat memprihatinkan. Tragedi ini membongkar korban yang sempat hilang kontak dengan keluarga selama tiga tahun.
Syahrul menceritakan kedekatan sang kakak dengan terduga pelaku berinisial TH bermula dari sebuah konser musik pada 2023. Hubungan asmara yang terjalin sempat terlihat normal, bahkan TH pernah berkunjung ke rumah orang tua korban di Rancaekek.
Namun, petaka dimulai setelah kunjungan tersebut. YTR mendadak tidak bisa dihubungi oleh keluarga.
"Iya, langsung semenjak saat itu langsung lost contact aja sama Teteh. Padahal sebelum pacaran, biasanya seminggu sekali itu pulang ke sini, soalnya Teteh kerja di Nabati Pasteur dan ngekos di daerah sana," ungkap Syahrul kepada wartawan, dikutip dari detikJabar, Selasa (23/6/2026).
"Jadi selama tiga tahun kita nggak dapat kabar. Pernah sekali dapat kabar, katanya ada di Jakarta," tambahnya.
Waspada Topeng 'Si Romantis' yang Manipulatif
Terlepas dari kasus tersebut, spesialis kedokteran jiwa dr Lahargo Kembaren, SpKJ, menjelaskan bahwa seseorang dengan kecenderungan psikopatik atau berkarakter kasar sering kali memakai 'topeng' yang manis di awal hubungan. Pelaku tidak akan terlihat menyeramkan pada perkenalan pertama.
Sebaliknya, banyak korban yang justru terbuai karena menganggap pelaku sebagai sosok yang sangat perhatian, romantis, dan pandai menciptakan kedekatan emosional yang intens dalam waktu cepat.
"Orang tersebut terlihat protektif, tetapi kemudian menjadi posesif. Bahkan, mulai mengisolasi korban dari keluarga dan teman," terang dr Lahargo saat dihubungi detikcom, Selasa (23/6).
Secara perlahan, pelaku akan mengambil alih kontrol atas hidup korban. Mulai dari membatasi aktivitas sehari-hari, mengontrol komunikasi dengan orang luar, hingga mengintervensi setiap keputusan pribadi korban.
"Memunculkan siklus 'menyakiti lalu meminta maaf', yang membuat korban sulit keluar dari hubungan tersebut," lanjutnya.
Menurut dr Lahargo, tanda bahaya sebuah hubungan toksik yang mengarah pada kekerasan sering kali bukan berupa fisik di masa-masa awal. Alih-alih pukulan, tanda pertamanya adalah kebutuhan untuk mengontrol secara berlebihan, manipulasi emosional, serta hilangnya kebebasan korban secara bertahap.
"Mereka terjebak oleh kombinasi ketakutan, ancaman, isolasi sosial, dan hilangnya rasa mampu untuk melarikan diri," tegasnya.
Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Viral Kasus Wanita Bandung, Dokter Jiwa Wanti-wanti soal Pasangan Manipulatif"
