Hagia Sophia

10 September 2026

IDAI: Waspadai Bahaya Paparan Abu Vulkanik pada Anak

Foto: Getty Images/iStockphoto/hut547

Abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau perlu diwaspadai, terutama pada anak-anak. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan paparan abu dapat memicu gangguan pernapasan hingga memperburuk kondisi anak yang memiliki penyakit penyerta.

Erupsi Gunung Anak Krakatau masih berlangsung sejak 4 September 2026. Gunung tersebut saat ini berstatus Siaga atau Level III. Abu vulkanik dilaporkan menyebar hingga sejumlah wilayah, termasuk Jabodetabek, Banten, Lampung, dan sebagian Jawa Barat.

Ketua Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi IDAI, dr Wahyuni Indawati, SpA, Subsp Respi (K), mengatakan paparan abu vulkanik paling sering menimbulkan iritasi pada saluran pernapasan.

"Gejala yang paling umum adalah iritasi saluran napas yang menyebabkan bersin, batuk, pilek, hingga sesak napas. Pada anak dengan riwayat asma, alergi, atau penyakit paru kronis, paparan ini dapat memicu serangan akut atau eksaserbasi yang berbahaya," jelas dr Wahyuni dalam keterangan tertulis, Senin (7/8/2026)

Menurutnya, anak dengan kondisi tertentu juga perlu mendapat perhatian lebih. Kelompok berisiko antara lain bayi dengan riwayat displasia bronkopulmonal serta anak dengan penyakit jantung bawaan.

Orang tua diminta tidak mengabaikan gejala gangguan pernapasan yang muncul setelah anak terpapar abu vulkanik.

"Kami mengingatkan orang tua untuk tidak menganggap remeh gejala yang muncul. Jika anak mulai menunjukkan tanda-tanda gangguan pernapasan seperti napas cepat, tarikan dinding dada ke dalam, atau saturasi oksigen di bawah 94 persen, segera bawa ke fasilitas kesehatan terdekat," katanya.

Cara Lindungi Anak dari Abu Vulkanik

IDAI melalui UKK Respirologi merekomendasikan orang tua mengungsikan anak menjauhi wilayah terdampak jika memungkinkan. Bila tidak memungkinkan, anak sebaiknya tetap berada di dalam rumah dengan kondisi tertutup rapat, terutama ketika kualitas udara buruk atau ISPU berada di atas 100.

Saat membersihkan rumah, anak sebaiknya dijauhkan dari lokasi pembersihan. Orang tua dianjurkan menggunakan kain atau lap basah agar abu tidak kembali beterbangan.

Menyapu abu dalam kondisi kering justru dapat membuat partikel kembali berterbangan dan terhirup.

Orang tua juga diminta mematikan perangkat yang menarik udara dari luar, termasuk AC, dan mengaturnya dalam mode sirkulasi ulang atau recirculation. Kipas angin sebaiknya tidak digunakan karena dapat menerbangkan kembali abu yang sudah mengendap di lantai maupun furnitur.

Jika anak harus keluar rumah, gunakan masker khusus anak untuk usia di atas 2 tahun dan pastikan terpasang dengan baik. Anak juga disarankan menggunakan kacamata untuk melindungi mata dari iritasi akibat partikel abu.

Pakaian tertutup juga diperlukan untuk mengurangi kontak abu dengan kulit. Setelah kembali dari luar rumah, anak sebaiknya segera membersihkan diri dan mengganti pakaian.

Bagi anak dengan riwayat asma atau alergi saluran napas, obat-obatan rutin dan obat darurat perlu disiapkan. Orang tua juga harus menjauhkan anak dari paparan asap rokok maupun asap dapur yang bisa memperburuk iritasi saluran pernapasan.

Kebutuhan cairan anak juga harus tetap tercukupi. Berikan cukup air putih dan makanan bergizi seimbang untuk membantu menjaga kondisi tubuh.

Harus Segera Dibawa ke RS Jika Muncul Gejala Ini

IDAI meminta orang tua segera membawa anak ke rumah sakit jika muncul tanda-tanda sesak napas, terutama:
  • Napas anak menjadi lebih cepat
  • Ada tarikan dinding dada ke dalam saat bernapas
  • Saturasi oksigen di bawah 94 persen berdasarkan oksimeter jari
Gejala tersebut dapat menjadi tanda gangguan pernapasan yang membutuhkan penanganan medis segera.

























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "IDAI Ingatkan Bahaya Paparan Abu Vulkanik, Segera Bawa Anak ke Faskes saat Keluhkan Ini"