Hagia Sophia

13 September 2026

Pakar Ungkap Tanda Stroke dan Serangan Jantung yang Terlihat di Wajah

Foto: Getty Images/iStockphoto/designer491

Aterosklerosis, yaitu penumpukan plak lemak di arteri yang menyebabkan aliran darah terhambat, menjadi penyebab sebagian besar serangan jantung dan stroke. Kondisi ini sering berkembang secara perlahan dan tanpa gejala sebelum akhirnya memicu kondisi medis serius.

Karena itu, peneliti terus mencari tanda-tanda aterosklerosis yang dapat membantu dokter mendeteksi kondisi tersebut lebih dini. Sebuah studi terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Atherosclerosis meneliti kondisi yang disebut xanthelasma, yakni munculnya bercak kekuningan di sekitar mata.

Bercak tersebut terbentuk ketika sel imun yang disebut makrofag dipenuhi kolesterol dan lemak lainnya. Kondisi ini sering kali, meski tidak selalu, berkaitan dengan kadar kolesterol yang lebih tinggi dalam darah.

Karena penumpukan lemak juga berperan dalam aterosklerosis, peneliti dari Stanford University menduga adanya hubungan antara keduanya.

"Beberapa penelitian mendukung hubungan antara xanthelasma dan peningkatan risiko kejadian kardiovaskular, sementara penelitian lainnya memperdebatkan bahwa kondisi tersebut mungkin bukan faktor risiko independen setelah faktor risiko tradisional diperhitungkan," tulis peneliti oftalmologi Stanford Negin Yavari dan koleganya dalam makalah yang diterbitkan, dikutip dari Science Alert, Kamis (10/9/2026).

"Seiring penelitian terus mengungkap hubungan antara xanthelasma dan faktor risiko kardio-serebrovaskular, kami bertujuan mengevaluasi hubungan antara xanthelasma dan kejadian kardio-serebrovaskular mayor (MACCEs) pada populasi penelitian yang besar."

Penelitian tersebut menganalisis data kesehatan dari 17.925 orang yang didiagnosis mengalami xanthelasma dan jumlah kontrol yang sama. Kelompok kontrol terdiri dari orang-orang dengan presbiopia, yaitu kondisi yang menyebabkan kesulitan melihat objek dalam jarak dekat. Mereka dipilih karena juga menjalani pemeriksaan mata sehingga dapat dipastikan tidak mengalami xanthelasma.

Dalam satu tahun pertama pengamatan, 1 persen atau 178 pasien dari kelompok xanthelasma mengalami serangan jantung, dibandingkan dengan 0,35 persen atau 63 orang pada kelompok kontrol.

Untuk stroke, angkanya masing-masing 0,95 persen dan 0,3 persen. Sementara itu, untuk transient ischemic attack (TIA) atau "mini-stroke", angkanya mencapai 0,6 persen dan 0,19 persen.

Angka tersebut memang tergolong rendah, tetapi risiko pada kelompok dengan xanthelasma beberapa kali lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol.

Perbedaan antara kedua kelompok sedikit menyempit seiring waktu. Namun, pada tahun ke-5 dan ke-10, risiko tersebut masih jauh lebih tinggi pada orang dengan xanthelasma.

"Xanthelasma dikaitkan dengan kejadian MACCEs jangka pendek dan jangka panjang yang lebih tinggi hingga 10 tahun, yang menyoroti nilainya sebagai penanda klinis untuk stratifikasi risiko kardio-serebrovaskular dan penatalaksanaan preventif," tulis para peneliti.

Tingkat kejadian kardiovaskular tersebut serupa pada kelompok xanthelasma, baik mereka memiliki kadar lemak dalam darah yang tidak normal maupun tidak. Hal ini menunjukkan bahwa kadar lemak darah yang tinggi kemungkinan bukan satu-satunya faktor yang mendasari peningkatan risiko tersebut.

Meski bercak pucat dan sedikit menonjol yang menjadi ciri xanthelasma dianggap tidak berbahaya bagi kesehatan mata itu sendiri, temuan tersebut memberikan bukti lebih lanjut bahwa kondisi ini mungkin menjadi tanda adanya masalah lain, termasuk potensi masalah kardiovaskular di masa depan.

"Studi kami menunjukkan bahwa xanthelasma dapat dianggap sebagai faktor risiko MACCEs di masa depan," tulis para peneliti.

"Sebagian besar pasien dengan xanthelasma menemui dokter kulit karena alasan kosmetik, padahal mereka mungkin memiliki faktor risiko kardiovaskular yang belum terdiagnosis atau tidak terkontrol yang berkontribusi terhadap peningkatan risiko ini."

Tidak ada indikasi bahwa bercak pada kelopak mata tersebut secara langsung menyebabkan serangan jantung atau stroke. Namun, peneliti menyebut orang dengan xanthelasma dapat menjalani pemeriksaan untuk mendeteksi masalah kesehatan jantung sejak dini.

Bercak xanthelasma juga relatif mudah dikenali oleh dokter. Karena itu, kondisi tersebut berpotensi menjadi tanda peringatan yang dapat mendorong seseorang menjalani perubahan gaya hidup atau mendapatkan pengobatan lebih awal, sebelum terjadi MACCEs.

Penelitian lebih lanjut dapat mengkaji secara lebih mendalam alasan orang dengan xanthelasma memiliki risiko serangan jantung dan stroke yang lebih tinggi. Hal ini pada akhirnya dapat membantu peneliti memahami bagaimana masalah tersebut berkembang.

"Pemantauan dan penatalaksanaan secara rutin oleh dokter layanan primer dapat membantu menerapkan langkah-langkah pencegahan seperti perubahan gaya hidup, terapi agen antilipemik, dan pengendalian hipertensi [tekanan darah tinggi]," tulis para peneliti.

"Oleh karena itu, temuan studi kami menyoroti pentingnya mengevaluasi pasien dengan xanthelasma pada tahap awal untuk mengidentifikasi dan mengendalikan kondisi sistemik yang mendasarinya, sehingga membantu mencegah potensi kejadian kardio-serebrovaskular."'

























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Peneliti Ungkap Tanda Stroke dan Serangan Jantung yang Terlihat di Wajah"