Hagia Sophia

04 September 2026

Penjelasan BGS Alasan Dirinya Masuk Bursa Calon Dirjen WHO

Foto: Andhika Prasetia/detikFoto

Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin (BGS) buka suara mengenai namanya yang masuk dalam bursa bakal calon Direktur Jenderal (Dirjen) Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Ia mengungkapkan alasan utama di balik dorongan pencalonan tersebut, salah satunya amanah langsung dari Presiden Prabowo Subianto untuk menyuarakan kepentingan negara-negara berkembang (Global South).

Menkes menjelaskan bahwa banyak negara berkembang merasa aspirasi mereka perlu lebih didengar di tingkat global, terutama dalam menentukan kebijakan kesehatan dunia.

"Saya kalau ditugaskan oleh Bapak Presiden, ya harus kita lakukan," ujar Menkes Budi saat ditemui wartawan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Senin (31/8/2026), dikutip dari detikNews.

"Kebetulan pada kesempatan ini banyak sekali negara-negara yang merasa bahwa perwakilan atau suara dari negara-negara berkembang atau global south ini harus lebih didengar," sambungnya.

Faktor Populasi dan Isu Kemiskinan Jadi Alasan Utama

Lebih lanjut, Menkes Budi menyoroti ketimpangan yang terjadi selama ini. Negara-negara berkembang mencakup jumlah populasi yang sangat besar dengan tingkat kesejahteraan yang relatif masih rendah.

Oleh karena itu, kehadiran sosok pimpinan dari Global South di lembaga internasional seperti WHO dinilai sangat krusial.

"Mereka kan dari sisi populasi lebih banyak dan lebih miskin, sehingga perlulah ada wakil dari negara-negara global south atau negara-negara berkembang di pimpinan lembaga dunia seperti ini," tegasnya.

Presiden Prabowo pun memberikan arahan khusus kepadanya agar mampu membawa perubahan dan perhatian bagi negara-negara berkembang di tataran global.

Mekanisme Seleksi Dirjen WHO, Masih Proses Panjang

Meski begitu, proses pemilihan Dirjen WHO masih harus melewati mekanisme yang cukup panjang. Mulai dari seleksi yang dilakukan dewan eksekutif WHO hingga pemilihan akhir oleh anggota WHO dari berbagai negara.

Dikutip dari laman resmi WHO yang diperbaharui 22 Agustus 2026, BGS masuk dalam daftar usulan calon Dirjen WHO bersama tiga kandidat lainnya. Nama yang saat ini sudah tercatut, yakni Hanan Balkhy dari Arab Saudi, Hans Kluge dari Belgia, dan Hanan Mohammed Al-Kuwari dari Qatar.

Salah satu kandidat, yakni Hans Kluge merupakan salah satu bagian dari WHO. Ia merupakan Direktur Regional WHO untuk Eropa.

Sebelumnya, media berita pembangunan global Devex melaporkan bahwa BGS merupakan salah satu figur potensial yang dijagokan menjadi Dirjen WHO berikutnya. Dalam wawancara di sela-sela Sidang Kesehatan Dunia (World Health Assembly) ke-79 di Jenewa, BGS mengaku telah mendiskusikan peluang tersebut bersama Presiden RI Prabowo Subianto.

Laporan Devex juga menyoroti latar belakang Budi sebagai mantan manajer keuangan dan bankir. Keahlian ini dinilai sangat relevan untuk membenahi manajemen keuangan dan reformasi kelembagaan di WHO.

Selain itu, rekam jejaknya dalam memimpin reformasi sistem kesehatan nasional serta digitalisasi layanan kesehatan Indonesia pasca-pandemi COVID-19 menjadi poin plus yang diperhitungkan dunia.

Sejumlah sumber internasional menyebut Budi mengantongi dukungan kuat dari negara-negara kawasan Asia. Karakter kepemimpinannya dinilai potensial menjadi jembatan diplomasi antara negara berkembang dan negara maju.

Jika nantinya resmi melenggang dan terpilih, BGS bakal mengukir sejarah sebagai warga negara Indonesia pertama yang menduduki kursi kepemimpinan tertinggi di salah satu badan khusus PBB tersebut.

























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "BGS Ungkap Alasan Dirinya Masuk Bursa Calon Dirjen WHO"