![]() |
| Foto ilustrasi: Getty Images/iStockphoto/CristiNistor |
Seorang bayi laki-laki yang lahir pada usia kehamilan 36 minggu pada Agustus 2026. Sempat dikira lahir dalam kondisi sehat sempurna, ternyata tanpa disadari bayi tersebut mengidap kondisi yang mengancam jiwanya.
Sejak pemeriksaan USG selama kehamilan, ternyata terdeteksi adanya kelainan pada ginjal dan saluran kemih bayi tersebut. Dengan kondisi yang mengkhawatirkan, sang ibu melahirkan di fasilitas kesehatan yang tidak memiliki perawatan intensif yang lengkap dan menganggap semuanya baik-baik saja.
Namun, memasuki hari keempat kelahirannya, bayi tersebut tak kunjung buang air kecil sama sekali. Saat dilarikan ke rumah sakit rujukan, tim medis menemukan ginjal sang bayi sudah mengalami kegagalan fungsi yang parah.
Bahkan, ditemukan adanya infeksi jamur pada aliran darahnya yang bisa membahayakan nyawanya. Berdasarkan laporan dari KIMS Hospitals Thane, tim medis bergerak cepat merawat sang bayi di Neonatal Intensive Care Unit (NICU).
Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan kadar serum kreatinin melonjak hingga 4,8 mg/dL. Itu menandakan kondisi cedera ginjal akut atau acute kidney injury yang sangat berbahaya bagi bayi baru lahir.
Dipicu Kelainan Saluran Kemih Langka
Untuk menyelamatkan nyawa bayi tersebut, tim medis melakukan tindakan dekompresi darurat. Mereka memasang kateter urine pada bayi guna membuka sumbatan.
Penanganan intensif berupa pemberian cairan, terapi antijamur, alat bantu napas, hingga dukungan nutrisi juga disiapkan secara bersamaan.
Pemeriksaan penunjang kemudian mengungkapkan akar masalahnya. Ternyata, bayi tersebut mengidap Posterior Urethral Valves atau PUV.
Kondisi ini merupakan kelainan bawaan lahir (kongenital) langka yang hanya dialami oleh bayi laki-laki, di mana keberadaan jaringan abnormal menyumbat aliran urine dari kandung kemih.
Akibat penyumbatan yang berlangsung lama, terjadi pembengkakan ginjal (hidronefrosis) parah di kedua sisi, kista pada ginjal kanan, serta pembentukan kista di ginjal kiri.
Setelah dua minggu penanganan intensif, infeksi jamur benar-benar pulih dan kondisi pasien stabil. Tim spesialis gabungan neonatologi, nefrologi Anak, dan urologi anak akhirnya melakukan tindakan bedah endoscopic fulguration pada hari ke-21, untuk mengangkat jaringan penyumbat secara permanen.
Pemulihan bayi berjalan lancar hingga ia diperbolehkan pulang dalam kondisi stabil.
Peringatan Penting untuk Orang Tua
Penanggung jawab NICU KIMS Hospitals Thane, dr Sachin Sakharkar, menegaskan bahwa bayi baru lahir idealnya wajib buang air kecil dalam 24 jam pertama setelah persalinan. Jika kondisi tersebut tidak terjadi, orang tua dilarang keras mengabaikannya.
"Bayi baru lahir diperkirakan akan buang air kecil dalam 24 jam pertama. Kegagalan untuk buang air kecil tidak boleh dianggap sepele karena bisa menjadi sinyal penyumbatan saluran kemih serius," tegas dr Sachin.
"Pada kasus ini, tindakan dekompresi yang cepat serta perawatan intensif sangat krusial untuk mencegah kerusakan ginjal permanen," sambungnya.
Senada dengan dr Sachin, Konsultan Senior Spesialis Anak dan Neonatologi dr Deepika Tiwari mengingatkan pentingnya melahirkan di fasilitas kesehatan tersier atau rumah sakit rujukan utama jika kelainan janin sudah terdeteksi sejak kehamilan.
"Kasus ini menjadi bukti pentingnya membawa ibu hamil yang janinnya terdeteksi memiliki kelainan untuk bersalin di pusat medis yang dilengkapi fasilitas NICU canggih. Deteksi dini, kolaborasi tim medis, dan intervensi yang tepat waktu bisa mengubah jalan hidup seorang anak," pungkasnya.
Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Kisah Bayi 4 Hari Tak Buang Air Kecil, Ternyata Kena Gagal Ginjal Akut"
