![]() |
| Sawi putih (Foto: Getty Images/iStockphoto/ranmaru_) |
Otoritas Korea Selatan memperketat pemeriksaan keamanan terhadap sawi putih (Chinese cabbage) impor dari China dan produk kimchi setelah ditemukan pemasok di China yang menggunakan formaldehida, zat yang diketahui bersifat karsinogenik pada manusia, untuk memperpanjang masa kesegaran sawi putih setelah dipanen.
Otoritas pemerintah pusat dan daerah Korea Selatan menyatakan telah memperkuat pemeriksaan di pintu masuk negara serta memperluas pengujian untuk mendeteksi formaldehida dan zat berbahaya lain yang mungkin terdapat pada bahan pangan dari China.
Pada Senin, Wali Kota Seoul Oh Se-hoon mengunjungi Seoul Research Institute of Public Health and Environment untuk melihat langsung proses pemeriksaan, termasuk persiapan sampel hingga analisis laboratorium terhadap sawi putih dan kimchi berbahan sawi putih yang dikumpulkan untuk diuji.
"Kekhawatiran masyarakat terhadap bahan pangan dari China meningkat secara signifikan setelah ditemukan kasus penggunaan formaldehida pada kimchi berbahan sawi putih dari China," kata Oh, dikutip dari The Korea Times.
Ia mengatakan pemeriksaan rutin akan diperkuat, tidak hanya untuk mendeteksi formaldehida, tetapi juga memastikan bahan pangan dari China tidak terpapar logam berat, pewarna buatan, maupun zat berbahaya lainnya.
"Kami akan memanfaatkan kesempatan ini untuk memperkuat pemeriksaan rutin agar masyarakat dapat merasa lebih yakin terhadap keamanan pangan," ujarnya.
Kekhawatiran tersebut muncul setelah kasus penggunaan formaldehida pada sawi putih terungkap di Kabupaten Kangbao, Kota Zhangjiakou, Provinsi Hebei, China. Otoritas China mengonfirmasi bahwa seorang pemasok menggunakan bahan kimia tersebut pada sawi putih yang telah dipanen, diduga untuk membuatnya tetap segar lebih lama.
Badan Internasional untuk Penelitian Kanker (IARC) mengklasifikasikan formaldehida sebagai karsinogen Grup 1, yang berarti terdapat bukti kuat bahwa zat tersebut dapat menyebabkan kanker pada manusia. Formaldehida umum digunakan untuk keperluan industri, disinfeksi, serta pengawetan spesimen biologis, tetapi dilarang digunakan pada makanan.
Kasus tersebut terungkap setelah sebuah video yang diunggah ke media sosial China pada 22 Agustus memperlihatkan pekerja mencelupkan sawi putih ke dalam cairan sebelum memasukkannya ke truk. Otoritas setempat kemudian mengonfirmasi bahwa cairan tersebut mengandung formaldehida.
Media China pada Minggu melaporkan bahwa polisi telah menahan tiga orang yang diduga terlibat dalam kasus tersebut.
Hampir 99 Persen Impor Kimchi Korea dari China
Data Korea Customs Service menunjukkan bahwa China menyumbang sekitar 99 persen impor kimchi Korea Selatan.
Impor kimchi dari China mencapai rekor 336.221 ton pada tahun lalu, meningkat dari 253.432 ton pada 2016. Korea Selatan juga mengimpor sekitar 20.000 ton sawi putih segar dan dingin dari China pada tahun yang sama.
Sebagai respons terhadap kekhawatiran tersebut, Kementerian Keamanan Pangan dan Obat-obatan Korea Selatan pada 27 Agustus mengatakan telah memeriksa 82 sampel yang terdiri dari kimchi berbahan sawi putih, sawi putih segar, serta produk sawi putih asin yang beredar di Korea Selatan.
Hasil pemeriksaan menunjukkan tidak ditemukan formaldehida yang dapat terdeteksi pada seluruh sampel tersebut. Kementerian tersebut juga menelusuri sumber sawi putih yang digunakan oleh seluruh 55 produsen kimchi berbahan sawi putih dari China yang telah mendapatkan sertifikasi Hazard Analysis and Critical Control Point (HACCP) untuk ekspor ke Korea Selatan.
Hasilnya, tidak ada satu pun produsen yang menggunakan sawi putih yang ditanam di Kabupaten Kangbao. Sejak Oktober 2024, impor kimchi dari China hanya diperbolehkan jika produk tersebut dibuat di fasilitas produksi luar negeri yang telah mendapatkan sertifikasi HACCP.
Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Jadi Bahan Utama Kimchi, Korsel Perketat Pemeriksaan Sawi Putih China Terkait Formalin"
