Hagia Sophia

08 August 2023

Kedai Kopi Starbucks Kurang Laris di Vietnam, Inikah Penyebabnya?

Ilustrasi Starbucks - Foto: Twitter / Sandeep Mall

Banyak di antara kita yang sudah tak asing lagi dengan jaringan kedai kopi Starbucks. Jaringan kopi asal Amerika ini sudah sangat dikenal dan memiliki banyak cabang di berbagai negara di seluruh dunia.

Meski begitu brand besar Starbucks ternyata kurang laris di Vietnam. Dikutip dari laporan Euromonitor International, Starbucks hanya menyumbang 2% pangsa pasar minum kopi Vietnam senilai US$ 1,2 miliar atau sekitar Rp 18,2 triliun (kurs Rp 15.170/dolar AS) pada 2022 lalu. Selain itu perkembangannya di Vietnam juga tidak begitu pesat.

Melansir dari BBC Indonesia, Senin (7/8/2023), hingga saat ini Starbucks hanya memiliki sekitar 92 kedai kopi di Vietnam.

Sebagai perbandingan, Thailand punya sekitar tujuh gerai untuk setiap satu juta orang. Sedangkan di Indonesia punya dua gerai untuk setiap satu juta orang.

"Kehadiran Starbucks tetap terbatas karena preferensi konsumen untuk rasa kopi lokal," kata Nathanael Lim, seorang analis di Euromonitor International.

Bahkan nasib Starbucks masih ini ternyata masih lebih baik dibandingkan para pesaingnya. Jaringan kedai kopi asal AS lainnya, The Coffee Bean & Tea Leaf, hanya memiliki 15 toko di Vietnam setelah memasuki pasar selama 15 tahun.

Mellower Coffee milik China baru-baru ini mengumumkan harus menutup pintunya alias gulung tikar setelah empat tahun negara itu. Sementara Gloria Jean's dari Australia sudah meninggalkan pasar kopi Vietnam pada 2017.

Padahal Vietnam sudah tidak asing dengan kopi. Negara ini merupakan eksportir kopi terbesar kedua di dunia.

Namun salah satu alasan mengapa perkembangan Starbucks di Vietnam tidak sebanyak di Thailand atau Indonesia adalah harga kopi selevel Starbucks terlalu mahal untuk pasar yang kompetitif seperti Vietnam.

Di sana, satu ruas jalan yang ramai dapat menampung setidaknya 10 kedai kopi dari warung pinggir jalan hingga kafe-kafe lokal.

Selain itu di Vietnam budaya minum kopi bukanlah hal yang dianggap mewah. Para pedagang kopi kaki lima di sana menyajikan kopi di atas meja plastik kecil yang murah.

Beberapa pedagang bahkan menggunakan koran kepada pelanggan untuk dijadikan tikar supaya mereka dapat menikmati kopi mereka sambil lesehan.

Terakhir, banyak warga Vietnam yang merasa produk kopi dalam negeri masih lebih nikmat daripada kopi yang disajikan di Starbucks. Sebab sebagian besar dari mereka memang lebih senang minum kopi jenis robusta memiliki rasa lebih kuat daripada jenis arabika yang digunakan Starbucks.

Diketahui jaringan kedai kopi Starbucks memang menggunakan 100% biji Arabika. Perusahaan itu mengatakan kepada BBC bahwa ini dilakukan untuk mencapai "rasa yang bisa halus tetapi juga kompleks".

Tetapi 97% kopi yang dikonsumsi Vietnam setiap tahun (sekitar 200.000 ton atau 2 kg per orang) adalah varietas Robusta. Hal ini bisa jadi alasan utama mengapa para penggemar kopi di Vietnam tidak menyukai kopi Starbucks.

"(Kopi Vietnam) lebih kuat dan lebih wangi. Cara membuat kopi Vietnam dengan filter membantu mengekstrak lebih banyak kopi. Saat kopi diseduh dan air panas ditambahkan agar menetes perlahan, itu yang terbaik," ungkap salah seorang seniman yang juga pecinta kopi, Trang Do.



























Artikel ini telah tayang di finance.detik.com dengan judul "Ternyata Ini Penyebab Kopi Starbucks Kurang Laris di Vietnam"