![]() |
| Foto: Getty Images/Buda Mendes |
Gempita Piala Dunia 2026 yang mempertemukan jutaan suporter dari berbagai belahan dunia menyimpan alarm bahaya tersembunyi. Di balik kemeriahan laga yang tersebar di berbagai kota di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, para ahli kesehatan memperingatkan adanya ancaman serius terhadap kesehatan saluran pernapasan dan paru-paru, baik bagi para atlet maupun penonton.
Mengutip laman American Lung Association, kombinasi antara ruang stadion yang padat, polusi udara, perjalanan jarak jauh, hingga cuaca panas ekstrem dinilai menjadi perpaduan risiko lingkungan paling berbahaya sepanjang sejarah penyelenggaraan Piala Dunia.
Salah satu kekhawatiran terbesar pada turnamen tahun ini adalah suhu panas yang melonjak drastis akibat perubahan iklim. Studi terbaru menunjukkan bahwa gelombang panas yang intens kini dua kali lebih sering terjadi dibandingkan beberapa dekade lalu.
Sebagai perbandingan, saat Amerika Serikat menjadi tuan rumah Piala Dunia 1994, hanya ada 21 pertandingan yang berjalan di tengah cuaca panas. Kali ini, sebanyak 14 dari 16 kota penyelenggara diprediksi akan dihantam suhu panas tingkat berbahaya, dan beberapa stadion bahkan tidak dilengkapi sistem pendingin (AC).
Kondisi ini membuat asosiasi pemain global mulai menerapkan metode Wet Bulb Globe Temperature (WBGT). Indikator ini mengukur efek gabungan dari suhu, kelembapan, sinar matahari, dan angin untuk menentukan apakah sebuah pertandingan masih aman untuk dilanjutkan atau harus ditunda.
Efek Mengerikan Cuaca Panas pada Tubuh
Suhu udara yang terlalu tinggi dapat memengaruhi fisik sekuat apa pun, termasuk atlet profesional. Saat kepanasan, tubuh akan bekerja ekstra keras untuk menurunkan suhu internal dengan cara mengalirkan darah dari otot menuju ke kulit.
Akibatnya, otot kekurangan oksigen dan nutrisi, yang memicu sesak napas, mual, pusing, hingga kelelahan ekstrem (heat exhaustion). Jika dibiarkan, kondisi ini bisa berujung pada heat stroke yang mengancam nyawa.
Selain itu, durasi pertandingan yang bisa mencapai dua jam lebih memicu risiko dehidrasi parah. Efeknya pada pernapasan tidak main-main: dehidrasi membuat lendir di saluran napas mengental dan sulit dikeluarkan. Penumpukan lendir inilah yang kemudian meningkatkan risiko terjadinya infeksi paru-paru.
Polusi Udara dan Risiko Infeksi di Kerumunan
Suhu panas yang tinggi juga memicu terbentuknya ozon permukaan tanah (kabut asap) serta meningkatkan risiko kebakaran hutan di beberapa kota tuan rumah. Partikel polusi yang beterbangan dapat masuk jauh ke dalam paru-paru, memicu gangguan pernapasan serta kerusakan kardiovaskular.
Kondisi ini diperparah oleh kerumunan massa di stadion, bandara, dan area nonton bareng (nobar). Penularan infeksi saluran pernapasan seperti COVID-19, influenza, RSV, hingga virus rhinovirus berpotensi melonjak tajam karena virus-virus ini dapat bertahan di udara selama berjam-jam setelah orang yang terinfeksi pergi.
Meskipun FIFA sudah menerapkan aturan wajib istirahat minum (hydration break) selama tiga menit di tengah pertandingan dan memberikan jeda istirahat tiga hari bagi pemain, sejumlah ilmuwan melayangkan surat peringatan bahwa proteksi tersebut masih belum cukup.
Untuk mengantisipasi penularan, para suporter yang hadir langsung diimbau untuk tetap menjaga kebersihan tangan, memastikan vaksinasi telah diperbarui, serta menggunakan masker berkualitas tinggi di area yang sangat padat.
Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Panas Ekstrem di Piala Dunia 2026, Risiko Heat Stroke Ancam Pemain-Suporter"
