![]() |
| Foto: Rizki Setyo Samudero/detikBali |
Baru-baru ini, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat menerbitkan Travel Health Notice Level 2 untuk Indonesia dengan perhatian khusus pada Pulau Bali, per 7 Agustus 2026.
Imbauan tersebut dikeluarkan menyusul laporan kasus Zika pada pelaku perjalanan yang kembali dari Bali. Wisatawan pun diminta mengambil langkah pencegahan terhadap gigitan nyamuk serta penularan seksual.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Provinsi Bali I Gusti Ayu Raka Susanti memastikan hingga saat ini belum ada temuan kasus Zika di Bali.
"Kalau di Bali sendiri belum ada laporan kasus Zika, tapi karena negara tropis, jadi wisatawan diimbau untuk waspada bila bepergian, itu suatu hal yang wajar," kata Raka, dikutip dari Antara, Senin (24/8/2026).
Ia menjelaskan, pencegahan Zika pada prinsipnya serupa dengan penanganan DBD, yakni dengan menghindari gigitan nyamuk Aedes yang menjadi vektor penularan. Menurutnya, langkah antisipasi tersebut sudah cukup.
Senada, Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes Andi Saguni mengatakan hingga saat ini belum ada laporan kasus Zika yang terdeteksi di Provinsi Bali.
Menurutnya, pemantauan melalui sejumlah sistem surveilans juga belum menemukan adanya kasus Zika di wilayah tersebut.
"Kasus Zika di Provinsi Bali tidak pernah ada laporan kasus sampai dengan hari ini," kata Andi saat dihubungi detikcom, Sabtu (22/8/2026).
Ia menjelaskan, selama ini Kemenkes menjalankan sistem surveilans sentinel arbovirosis untuk memantau sejumlah penyakit yang ditularkan melalui vektor, termasuk dengue, Zika, dan chikungunya. Namun, hingga saat ini belum ditemukan adanya Zika melalui sistem tersebut.
Selain itu, pemantauan melalui sistem surveilans sindrom Penyakit Infeksi Emerging (PIE) di 21 rumah sakit juga belum mendeteksi kasus Zika.
Andi menuturkan, informasi mengenai wisatawan asing yang dilaporkan positif Zika setelah berkunjung ke Bali sebelumnya merujuk pada buletin European Centre for Disease Prevention and Control (ECDC) pada minggu ke-16 atau periode 11-17 April 2026.
Dalam buletin tersebut disebutkan adanya wisatawan asal Prancis dan Jerman yang dinyatakan positif Zika setelah melakukan perjalanan ke Bali. Namun, data yang disampaikan ECDC disebut tidak merinci lokasi yang dikunjungi para wisatawan tersebut selama berada di Bali.
"Saat berita buletin ECDC dinaikkan lagi oleh CDC Amerika Serikat, langsung ditindaklanjuti melalui pertemuan dengan CDC Indonesia dan CDC Amerika Serikat," ujar Andi.
Ia menambahkan, hingga 10 Agustus 2026 pukul 21.00 WIB, Indonesia juga belum menerima notifikasi melalui mekanisme International Health Regulations (IHR) dari Prancis maupun Jerman terkait kasus Zika tersebut.
"Sampai saat ini pun tidak ada notifikasi IHR terkait Zika dari negara-negara tersebut," pungkasnya.
"Tidak ada bukti," lanjutnya lagi.
Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Heboh Travel Alert CDC AS soal Virus Zika di Bali, Dinkes Buka Suara"
