Hagia Sophia

09 August 2026

Pasien BPJS Dihina Nakes, Psikiater Bagikan Tips Jaga Empati di Medsos

Foto: dok. BPJS Kesehatan

Jagat media sosial digemparkan oleh penyerangan massal terhadap oknum dokter dan tenaga kesehatan (nakes). Aksi ini bermula saat seorang pasien BPJS Kesehatan mengeluhkan lamanya proses mendapatkan ruang rawat inap.

Alih-alih mendapatkan penanganan emosional yang baik, unggahan pasien tersebut justru dibanjiri komentar miring yang diduga berasal dari oknum dokter dan nakes. Belakangan, sang pasien dikabarkan meninggal dunia.

Sontak, amarah publik pecah. Netizen berbondong-bondong memburu identitas oknum nakes yang berkomentar nirempati hingga menyerang akun tempat mereka bekerja.

Spesialis kedokteran jiwa dr Lahargo Kembaren, SpKJ, menjelaskan bahwa fenomena ini memperlihatkan betapa rentannya hubungan humanis saat berada di bawah tekanan sistem dan paparan media sosial.

Lantas, bagaimana seharusnya kita menyikapi situasi yang memanas ini secara bijak?

1. Terapkan Compassion with Boundaries
dr Lahargo menekankan pentingnya memiliki rasa empati yang disertai batas etika dan profesionalisme yang sehat (compassion with boundaries). Baik nakes maupun masyarakat perlu memahami bahwa empati bukan berarti membenarkan semua perilaku emosional, melainkan menghargai perasaan sesama tanpa melanggar norma.

"Di balik seragam tenaga kesehatan ada manusia yang lelah. Namun, di balik status pasien ada manusia yang sedang ketakutan dan berharap ditolong. Pada akhirnya, pelayanan kesehatan adalah perjumpaan antara manusia dengan manusia," ujar dr Lahargo saat dihubungi detikcom, Rabu (5/8/2026).

2. Hindari Main Hakim Sendiri (Digital Mob Mentality)
Meski kemarahan netizen berangkat dari rasa solidaritas terhadap korban, dr Lahargo mengingatkan agar amarah tersebut tidak berubah menjadi aksi perundungan massal yang merendahkan martabat orang lain.

"Seberat apa pun rasa kecewa atau tekanan yang dihadapi, tidak ada situasi yang dapat membenarkan komentar yang merendahkan martabat seseorang. Kata-kata dapat menjadi obat, tetapi juga dapat menjadi luka yang memperdalam penderitaan," tegasnya.

3. Lakukan Saring Sebelum Sharing dengan Prinsip THINK
Untuk mencegah agar ruang digital tidak makin keruh oleh amarah dan ujaran kebencian, dr Lahargo menyarankan publik untuk menerapkan lima pertanyaan reflektif sebelum mengetik atau mengunggah komentar:
  • True: Apakah yang ditulis ini benar dan sesuai fakta?
  • Helpful: Apakah tulisan ini membantu perbaikan keadaan?
  • Inspiring: Apakah kalimat ini memberikan harapan?
  • Necessary: Apakah komentar ini memang perlu disampaikan?
  • Kind: Apakah pesan disampaikan dengan keadaban dan rasa kasih?
4. Melatih Empati Setiap Hari
dr Lahargo mengingatkan bahwa empati bukanlah bakat bawaan, melainkan kebiasaan yang bisa dipelajari dan dilatih terus-menerus.

"Semakin sering kita mendengarkan tanpa menghakimi dan memilih kata-kata yang membangun, semakin kuat pula kemampuan empati kita-baik di rumah sakit maupun di dunia digital," pungkasnya.

























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Viral Pasien BPJS Dihina Dokter-Nakes, Psikiater Bagikan Tips Jaga Empati di Medsos"