Hagia Sophia

19 September 2026

Defisit Kalori Malah Susah BAB? Ini Penjelasan Dokter Gizi

ilustrasi (Foto: Getty Images/EyeEm Mobile GmbH)

Menjalani diet defisit kalori tidak berarti cukup dengan mengurangi jumlah atau porsi makanan. Komposisi makanan yang dikonsumsi juga perlu diperhatikan. Jika terlalu banyak membatasi jenis makanan, masalah seperti sulit buang air besar (BAB) bisa muncul, kenapa bisa begitu?

Dokter spesialis gizi klinik dr Igus Ulfa Yaze, SpGK menjelaskan kondisi tersebut dapat terjadi ketika defisit kalori dilakukan tanpa memperhatikan asupan serat dan cairan.

"Defisit kalori itu tetap harus ada yang dimakan seratnya. Lemaknya lemak sehat. Karbohidrat tetap perlu juga, sama protein," kata dr Yaze dalam live TikTok detikHealth, Kamis (10/9/2026).

Salah satu kesalahan yang dapat terjadi adalah terlalu fokus pada protein. Sementara itu, sayuran dan sumber serat lainnya justru dikurangi atau bahkan tidak dikonsumsi.

"Kalau misalnya kamu defisit kalori dan yang dimakan cuma protein aja, nggak ada seratnya, biasanya terjadi sulit BAB," ujarnya.

Asupan cairan juga tidak boleh luput saat sedang mengatur kalori. Ketika jumlah minum ikut dikurangi, BAB bisa saja semakin sulit.

"Kalau misalnya defisit kalori terus minumnya juga jadi kurang, ya udah pasti akhirnya jadi sulit BAB juga," lanjut dr Yaze.

Pola diet yang terlalu ketat dapat membuat kondisi tersebut semakin mudah terjadi. dr Yaze mencontohkan seperti pola makan yang karbohidratnya langsung dipotong sampai nol, tidak suka makan sayur, asupan minum kurang, kemudian makanan yang dikonsumsi hanya berfokus pada protein.

"Biasanya orang main defisit-defisit aja. Misalnya langsung tiba-tiba cut karbo, jadi nol sama sekali nggak ada karbonya. Terus udah nggak suka sayur, karbonya nggak ada, minumnya juga kurang, dimakan cuma protein aja. Akhirnya terjadi gangguan BAB," tutur dr Yaze.

Padahal, kebutuhan serat tetap perlu dipenuhi meski sedang menjalani diet. Kebutuhan serat sehari berada di kisaran 25 sampai 30 gram.

Untuk memenuhinya, sayur dan buah tetap perlu masuk dalam menu harian. Penerapan sederhananya sekitar tiga porsi sayuran dan dua porsi buah dalam sehari.

Sumber serat juga tidak harus berasal dari satu jenis makanan. Sayuran dan buah dapat dikombinasikan dengan makanan lain sesuai kebutuhan.

Protein tetap diperlukan dalam menu diet karena dapat membantu memberikan rasa kenyang lebih lama. Sumbernya beragam, seperti telur, tahu, tempe, kacang-kacangan, daging, ayam, ikan, hingga susu.

Karbohidrat juga tidak perlu dihilangkan sepenuhnya ketika sedang menjalani defisit kalori. Pengurangan kalori tetap perlu disertai pola makan yang memiliki komposisi zat gizi yang lengkap.

Jadi, ketika BAB mulai tidak lancar setelah menjalani diet, pola makan perlu dievaluasi kembali. Perhatikan apakah asupan serat dan cairan sudah cukup atau justru ada kelompok makanan yang dipangkas terlalu banyak.

Defisit kalori tetap diperlukan untuk menurunkan berat badan. Namun, mengejar defisit dengan menghilangkan sayur, mengurangi asupan cairan, atau memangkas karbohidrat secara berlebihan justru dapat membuat pola makan menjadi tidak seimbang dan memicu gangguan BAB.

























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Lagi Defisit Kalori, Kok Malah Susah BAB? Dokter Gizi Ungkap Penyebabnya"