Hagia Sophia

09 September 2026

Kisah Warga yang Terpapar Abu Vulkanik saat Lomba Lari

Foto: Ilustrasi lomba lari (Getty Images/carlosalvarez)

Erupsi Gunung Anak Krakatau membuat abu vulkanik teramati di sejumlah wilayah, termasuk Jakarta dan Serang, Banten. Warga pun mulai merasakan dampak paparan abu, mulai dari mata terasa perih hingga muncul keluhan pilek dan batuk kering.

Warga Jakarta, Devandra Abi Prasetyo, mengatakan abu vulkanik terasa mengganggu ketika ia berada di luar ruangan. Saat tengah mengikuti lomba lari di sekitar Jakarta Selatan, ia merasakan napas menjadi sedikit lebih berat dan matanya terasa lebih perih.

"Kalau urusan sesak, aku malah biasa aja kayak yang nggak mengganggu banget, cuma ya memang terasa kayak lebih berat. Terus lebih perih di mata tadi pas lari," ujar Devandra kepada detikcom, Minggu (6/9/2026).

Untuk mengurangi rasa tidak nyaman tersebut, Devandra mengaku lebih sering mencuci mata dan wajah di setiap water station. Ia mengatakan paparan abu justru terasa lebih parah ketika memasuki sekitar pukul 08.00 WIB.

"Menurutku, justru yang abunya terasa agak parah di sekitaran jam 8 ke atas. Karena aku kan lari dari subuh, masih oke kurasa," tuturnya.

Ia juga melihat abu vulkanik cukup tebal di sekitar kawasan Gelora Bung Karno (GBK). Abu bahkan terlihat menempel pada kendaraan yang terparkir, termasuk mobil yang berada di area yang terlindung pepohonan.

"Tapi memang di sekitaran GBK, abunya termasuk tebal sih. Kelihatan nempel-nempel di mobil parkir, bahkan yang terbilang terlindung pohon," kata Devandra.

Sementara itu, warga Kasemen, Serang, Fitri Noviyanti, mengatakan kondisi di sekitar rumahnya masih relatif aman. Menurutnya, dampak abu vulkanik tidak terlalu parah karena lokasi tempat tinggalnya cukup jauh dari pesisir.

"Alhamdulillah kondisi rumah di Serang masih aman karena agak jauh dari pesisir, jadi nggak terlalu parah dampaknya. Paling ada sedikit abu yang nempel," ujar Fitri.

Meski demikian, Fitri mengaku merasakan mata gatal seperti kelilipan ketika berada di luar rumah tanpa menggunakan kacamata.

"Sejauh ini efeknya gatal ke mata kayak kelilipan aja sih kalau keluar nggak pakai kacamata. Jadi kalau mau keluar harus pakai kacamata," katanya.

Keluhan berbeda disampaikan warga Labuan, Pandeglang, Banten, Ratu Aisyah. Ia mengatakan abu vulkanik sudah terlihat sejak malam hari. Selain abu yang masuk ke rumah, ia juga mengalami pilek dan batuk kering.

"Abunya dari semalam sudah ada. Pilek-pilek, batuk kering sih," ujar Ratu.

Menurut Ratu, abu tetap dapat masuk ke dalam rumah meski pintu dan jendela telah ditutup. Ia menduga debu masuk melalui ventilasi.

"Udah tutup jendela sama pintu juga kan tetap masuk ya itu debu. Karena masuk ke ventilasi jendela," katanya.

Kondisi cuaca di wilayah tersebut juga disebut terlihat lebih mendung meski matahari masih bersinar. Ratu menduga kondisi itu berkaitan dengan keberadaan asap dan abu vulkanik.

"Cuaca juga kan jadi mendung ya padahal ada matahari, mungkin dampak dari asap abu itu," tuturnya.

Selain dampak abu vulkanik, Ratu mengatakan sebagian masyarakat di wilayahnya telah mengungsi sejak Jumat. Getaran yang cukup kuat membuat warga merasa takut dan kembali teringat pada pengalaman tsunami pada 2018.

"Masyarakat di sini sebagian sudah mengungsikan diri dari Jumat. Getaran yang kencang bikin warga ketakutan, trauma tsunami 2018," katanya.

























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Cerita Warga Terpapar Abu Anak Krakatau saat Lomba Lari, Mata Perih Paling Terasa"