![]() |
| Foto ilustrasi: Getty Images/gorodenkoff |
Kanker selama ini identik dengan penyakitnya lansia. Namun, fakta di lapangan menunjukkan makin banyak anak muda usia 20, 30, hingga awal 40 tahunan, baik di Singapura maupun secara global, yang mendadak didiagnosis kanker.
Fenomena ini jelas mengubah peta dunia medis. Bikin para ahli makin gencar meneliti, kenapa sih anak muda makin rentan kena kanker?
Satu hal yang pasti adalah kanker pada anak muda punya 'cerita' dan penanganan yang beda dibanding lansia. Ini yang memicu lahirnya adolescent and young adult oncology, cabang ilmu medis khusus untuk menangani pasien kanker rentang usia muda.
Lonjakan Kanker 'Usia Muda' dan Sederet Biang Keroknya
Data global menunjukkan kasus kanker usia di bawah 50 tahun terus merangkak naik. Jenis yang paling sering mengintai di antaranya kanker usus besar (kolorektal), kanker payudara, hingga kanker darah.
Dugaan penyebabnya tidak cuma satu. Para peneliti menyoroti pola hidup modern sebagai pemicunya:
- Obesitas dan pola hidup kurang gerak (mager)
- Kegemaran makan makanan serba instan/olahan (ultra-processed food)
- Stres kronis dan kualitas tidur yang berantakan
- Gangguan bakteri baik di usus (mikrobioma)
- Paparan mikroplastik serta polutan lingkungan
- Perubahan pola reproduksi (seperti menunda kehamilan dan durasi menyusui yang singkat)
"Tren risiko kanker saat ini mencerminkan interaksi yang sangat kompleks antara genetik, gaya hidup, lingkungan, hingga layanan pencegahan yang diakses masyarakat," ujar tim peneliti dalam laporannya, dikutip dari The Strais Times.
Tapi, uniknya, tidak semua jenis kanker mengalami peningkatan kasus. Berkat upaya edukasi kesehatan dan vaksinasi, seperti vaksin HPV untuk mencegah kanker serviks serta vaksin hepatitis B untuk menurunkan risiko kanker hati, beberapa jenis kanker justru berhasil ditekan.
Antara Beda Biologis atau Efek Gaya Hidup
Secara biologis, apakah kanker di usia muda beda dengan yang kena di usia tua? Jawabannya masih terus diteliti.
Namun, pasien muda terbukti punya kecenderungan lebih tinggi membawa faktor keturunan (genetik) seperti mutasi gen BRCA1/2 atau Sindrom Lynch.
"Masih terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa kanker usia muda adalah penyakit yang secara mendasar berbeda. Tapi yang jelas, faktor keturunan punya porsi lebih besar di usia ini," lanjut para ahli.
Makanya, tes genetik dan precision oncology (terapi berbasis profil molekuler) makin krusial diterapkan untuk menentukan terapi yang paling tepat.
Masalah Anak Muda: Bukan Cuma Soal Fisik, Tapi Masa Depan
Di luar urusan medis, dampak kanker pada anak muda justru paling berat di sisi psikososial dan finansial. Kanker datang saat mereka sedang giat-giatnya menata masa depan:
- Ancaman kesuburan (fertilitas): Efek kemo dan radiasi bisa memicu kemandulan. Menurut tim medis, isu kesuburan sering kali jadi perhatian paling utama. Pembahasan pembekuan sel telur (egg freezing) atau preservasi sperma wajib dilakukan sebelum terapi dimulai.
- Kena mental: Melihat teman sebaya makin sukses berkarir dan berkeluarga, sementara diri sendiri harus bolak-balik RS, jelas bikin tekanan batin luar biasa.
- Beban finansial: Tabungan belum stabil, karier terhenti, tapi biaya berobat terus membengkak.
Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Kenapa Makin Banyak Anak Muda Kena Kanker? Ini Kemungkinan Biang Keroknya"
