Hagia Sophia

11 September 2026

Pria Ini Dapat Donor Ginjal dari Hewan Babi dan Bisa Bertahan Hidup 271 Hari

Foto: Kate Flock/Massachusetts General Hospital/Kate Flock

Xenotransplantasi atau transplantasi organ hewan ke manusia sudah mulai dilakukan oleh ilmuwan. Meski hasilnya beragam, ilmuwan berhasil menemukan metode baru penyuntingan gen, agar organ hewan tidak langsung ditolak oleh tubuh manusia.

Lewat penyuntingan gen, organ hewan dapat dimodifikasi agar lebih sesuai dengan tubuh manusia. Teknik tersebut digunakan dalam xenotransplantasi babi yang diterima Tim Andrews di Massachusetts General Hospital tahun lalu.

Ginjal yang diterimanya telah dimodifikasi menggunakan teknologi CRISPR-Cas. Modifikasi tersebut dilakukan untuk menghilangkan tiga antigen utama yang dapat dikenali sebagai ancaman oleh sistem kekebalan tubuh manusia, memasukkan tujuh gen manusia, serta menonaktifkan sekuens virus bawaan pada babi.

Andrews, yang saat itu berusia 66 tahun, mengalami penyakit ginjal stadium akhir akibat diabetes tipe 2. Peneliti memperkirakan peluangnya dalam waktu dekat untuk mendapatkan donor sangat sulit.

Peneliti menuturkan peluang pasien mendapatkan donor dalam 5 tahun hanya sekitar 9 persen. Sementara, peluangnya meninggal saat menunggu lebih dari 40 persen. Ini terjadi akibat jumlah donor yang memang tidak mencukupi kebutuhan.

"Kekurangan organ merupakan krisis terbesar yang kita hadapi saat ini dalam bidang transplantasi," ujar penulis utama penelitian, Dr. Leonardo Riella, dikutip dari IFLScience, Selasa (8/9/2026).

Akhirnya dipilihlah xenotransplantasi ini sebagai 'bridge of transplant', yaitu menjaga pasien tetap hidup sampai akhirnya mendapatkan giliran untuk donor organ manusia. Meski perkembangan penelitian xenotransplantasi semakin mengesankan, prosedur ini masih bersifat eksperimental.

Karena itu, mendapatkan organ manusia tetap menjadi pilihan terbaik.

Selama 271 Hari Pasien Bebas Cuci Darah

Sebelum menjalani transplantasi, Andrews sudah 2 tahun menjadlani hemodialisis atau prosedur cuci darah. Mengingatkan kecilnya kemungkinan hidup, tim medis akhirnya memperoleh izin untuk mencoba xenotransplantasi eksperimental tersebut.

Meskipun prosedur transplantasi organ babi sebelumnya telah berhasil dilakukan, belum ada penelitian yang mendokumentasikan lama kelangsungan hidup selama ini. Belum pernah ada juga yang berhasil menguji konsep xenotransplantasi sebagai 'bridge of transplant'.

Operasi Andrews berjalan dengan baik. Ginjal babi yang kemudian ia beri nama 'Wilma' langsung mulai berfungsi.

Sempat muncul tanda-tanda awal penolakan oleh sistem kekebalan tubuh, tetapi kondisi tersebut berhasil ditangani. Yang luar biasa, Andrews dapat berhenti menjalani dialisis selama 271 hari.

Setelah sekitar enam bulan, muncul sejumlah tanda bahwa transplantasi tersebut mulai mengalami kegagalan. Pada akhirnya, ginjal babi itu harus diangkat karena fungsinya terus menurun.

"Dokter-dokter itu sampai menitikkan air mata ketika memberi tahu saya bahwa Wilma mengalami penolakan," ujar Andrews kepada National Kidney Foundation.

Namun, hanya 82 hari kemudian, Andrews kembali menjalani operasi transplantasi, kali ini menerima ginjal dari donor manusia. Dalam sebuah kejadian yang cukup langka, organ tersebut ternyata pada dasarnya merupakan kecocokan yang hampir sempurna bagi Andrews, sesuatu yang tidak sering terjadi.

Menurut penelitian tersebut, hingga 1 September, ginjal manusia yang baru diterimanya masih berfungsi dengan baik, atau telah bertahan selama 231 hari.

"Kasus ini menunjukkan potensi sekaligus tantangan yang masih ada dalam xenotransplantasi ginjal pada manusia," tulis para peneliti.

























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Kisah Pria Dapat Donor Ginjal dari Hewan Babi, Bisa Bertahan Hidup 271 Hari"