Hagia Sophia

12 January 2023

Ribuan Feses Disimpan Ilmuwan untuk Penelitian Penyakit di Masa Depan

Ilustrasi penyakit (Foto: Getty Images/iStockphoto/ktsimage)

Menurut para ilmuwan, kotoran ternyata dapat menjadi kunci untuk menyelamatkan umat manusia dari kepunahan.

Dikutip dari New York Post, para ilmuwan di Swiss sedang mencari kotoran dari seluruh dunia, yang kemudian disimpan dalam lemari es di Universitas Zurich.

Prediksi WHO Terkait Lonjakan Kasus Omicron XBB.1.5

Kata WHO soal prediksi lonjakan kasus Omicron XBB.1.5 'Kraken'. (Foto Ilustrasi: Getty Images/loops7)

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) kembali mengungkapkan prediksinya soal varian COVID-19 Omicron XBB.1.5 atau dikenal dengan varian 'Kraken'. Menurutnya, varian Corona ini mungkin akan memicu kasus COVID-19 kembali melonjak.

"Berdasarkan karakteristik genetik dan perkiraan tingkat pertumbuhan awal, XBB.1.5 dapat berkontribusi pada peningkatan insiden kasus," kata WHO yang dikutip dari Channel News Asia, Kamis (12/1/2023).

Jill Biden Lakukan Operasi Kanker Kulit, Bagaimana Keadaannya Sekarang?

Jill Biden kena kanker kulit. (Foto: AP/Toby Melville)

Ibu negara Amerika Serikat Jill Biden menjalani sejumlah pengangkatan operasi kanker kulit. Ditemukan lesi pada bagian kelopak mata kiri, kanan, dan dada.

"Prosedur memastikan bahwa lesi kecil itu adalah karsinoma sel basal," tulis O'Connor, dokter presiden Joe Biden dalam pernyataan Gedung Putih, dikutip dari CNN.

Jelang Tahun Baru Imlek, Bagaimanakah Kasus COVID-19 di China?

Kondisi COVID-19 di China. (Foto: AP/Dake Kang)

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) masih terus meminta China menyediakan data konkrit mengenai kasus penularan COVID-19 di negara tersebut. Hal ini menyusul semakin banyak warga China yang bepergian meninggalkan negaranya, membuat negara lain mengambil langkah antisipatif sebagai bentuk pencegahan penularan.

Belum lagi Tahun Baru Imlek yang diprediksi akan memicu lonjakan kasus karena perpindahan penduduk yang sangat masif setelah Negeri Tirai Bambu itu membuka perbatasan. Liburan itu dikenal sebelum pandemi sebagai migrasi tahunan terbesar di dunia.

Ini Kata Guru Besar FKUI Tentang Makanan yang Diproses dengan Nitrogen Cair

Ilustrasi jajanan nitrogen cair. (Foto: Getty Images/iStockphoto/energyy)

Belakangan, ramai soal kasus keracunan 'chiki ngebul' yang menggunakan nitrogen cair. Akibatnya, lebih dari 20 kasus anak keracunan dan beberapa di antaranya dirawat di rumah sakit.

Melihat fenomena ini, Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia sekaligus spesialis paru Prof Tjandra Yoga Aditama, SpP, mengungkapkan penggunaan nitrogen cair dalam produksi makanan memang sudah lama dilakukan sejak tahun 1.800-an. Tetapi, tentu bukan dalam bentuk yang langsung dijual ke konsumen seperti saat ini.

Pakar IPB: Ini Efek Nitrogen Cair, Bisa Timbulkan Luka Bakar dan Lambung Bocor

Efek berbahaya nitrogen cair pada 'chiki ngebul' bagi tubuh, (Foto: Getty Images/iStockphoto/energyy)

Baru-baru ini tercatat lebih dari 20 kasus anak yang mengalami keracunan jajanan 'chiki ngebul' atau 'chikbul' akibat penggunaan nitrogen cair. Bahkan, beberapa kasus di antaranya harus dilarikan ke rumah sakit usai mengkonsumsi jajanan tersebut.

Menurut pakar teknologi pangan dari Institut Pertanian Bogor (IPB) Nuri Andarwulan, nitrogen cair tidak seharusnya digunakan sebagai bahan tambahan pangan. Sebab, kandungan nitrogen cair yang digunakan dalam jajanan ciki ngebul ini bisa sangat berbahaya jika dikonsumsi atau tertelan.

Pakar: Omicron XBB.1.5 Tidak Akan Membuat Parah, Ini Alasannya

Foto: Getty Images/iStockphoto/loops7

Subvarian Omicron XBB.1.5 atau yang disebut varian 'Kraken' kini menjadi sorotan dunia. Sebagaimana disebutkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), subvarian Omicron ini menjadi varian Corona paling menular. Namun juga diketahui, gejala yang ditimbulkan tidak lebih parah dibandingkan varian Corona lain yang merebak sebelumnya.

Asisten profesor klinis penyakit menular di Universitas Stanford, Jake Scott, mengaku tak khawatir perihal Omicron XBB.1.5. Sebab meski diketahui menular dengan amat cepat, hingga kini tidak ada bukti bahwa gejala yang ditimbulkan lebih berat.