Hagia Sophia

03 November 2023

Akibat Minimnya Air dan Pembalut, Wanita Palestina Konsumsi Pil Penunda Haid

Kondisi warga Gaza. (Foto: Anadolu via Getty Images/Anadolu Agency)

Miris, banyak wanita di Palestina terpaksa menenggak pil penunda menstruasi di tengah kondisi mengkhawatirkan, imbas serangan Israel terus memborbardir Gaza. Mereka dihadapi dengan kenyataan krisis tempat tinggal, akses air, hingga pembalut dan tampon.

Adapun pil yang diminum berupa tablet norethisterone, biasanya diresepkan untuk kondisi seperti perdarahan menstruasi parah, endometriosis, dan nyeri haid seperti rasa tidak nyaman.

Menurut Dr Walid Abu Hatab, seorang konsultan medis kebidanan dan ginekologi di Nasser Medical Complex kota Khan Younis, tablet tersebut menjaga kadar hormon progesteron tetap tinggi untuk menghentikan rahim melepaskan lapisannya, sehingga menstruasi tertunda.

Pil tersebut mungkin memiliki efek samping seperti perdarahan vagina yang tidak teratur, mual, perubahan siklus menstruasi, pusing, dan perubahan suasana hati, menurut para profesional medis. Namun, beberapa wanita seperti salah satunya Salma Khaled, mengaku tidak punya pilihan selain mengambil risiko di tengah gencarnya pemboman dan blokade Israel di Gaza.

Salma meninggalkan rumahnya di lingkungan Tel al-Hawa, Kota Gaza dua pekan lalu. Dirinya tinggal di rumah kerabat, kamp pengungsi Deir el-Balah, Gaza tengah. Wanita berusia 41 tahun ini mengatakan dia terus-menerus berada dalam ketakutan, ketidaknyamanan dan depresi, yang berdampak buruk pada siklus menstruasinya.

"Saya mengalami hari-hari tersulit dalam hidup saya selama perang ini," kata Salma. "Saya mendapat menstruasi dua kali dalam bulan ini, yang sangat tidak teratur bagi saya dan mengalami perdarahan hebat."

Salma mengatakan tidak tersedia cukup pembalut di beberapa toko dan apotek yang masih buka. Sementara itu, di hari-hari belakangan, membersihkan diri secara rutin sudah menjadi bak sebuah kemewahan, bahkan mustahil.

Penggunaan kamar mandi saat ini harus dijatah, bahkan mandi dibatasi beberapa hari sekali.

Apotek dan toko sama-sama menghadapi berkurangnya persediaan karena pengepungan total yang diberlakukan Israel menyusul serangan oleh sayap bersenjata kelompok Palestina Hamas pada tanggal 7 Oktober.

"Selain itu, pemboman Israel terhadap jalan-jalan utama di Jalur Gaza telah membuat pengangkutan produk-produk medis menjadi terhambat. gudang ke apotek adalah tugas yang mustahil," menurut Abu Hatab.

Meskipun pembalut wanita banyak diminati dan sulit ditemukan, tablet penunda menstruasi umumnya lebih banyak tersedia di beberapa apotek karena jarang digunakan.

"Saya meminta putri saya pergi ke apotek dan membeli pil penunda menstruasi," kata Salma. "Mungkin perang ini akan segera berakhir dan saya tidak perlu menggunakannya lebih dari sekali," tambahnya, khawatir dengan kemungkinan efek samping pil tersebut pada tubuhnya.

'Stres ekstrem'

Lebih dari 1,4 juta orang menjadi pengungsi internal di Jalur Gaza sejak 7 Oktober, hidup dalam kondisi yang sempit dan tidak higienis di sekolah-sekolah dikelola PBB. Sementara di ruang penampungan, kondisinya terlihat penuh sesak dengan banyak orang, sehingga tidak ada ruang untuk privasi.

Dampak serangan Israel yang kini memasuki hari ke-25 sangat menghancurkan Kota gaza. Lebih dari 8.500 warga Palestina telah terbunuh, sebagian besar dari mereka adalah perempuan dan anak-anak.

Menurut Nevin Adnan, seorang psikolog dan pekerja sosial yang berbasis di Kota Gaza, perempuan biasanya mengalami gejala psikologis dan fisik pada hari-hari sebelum dan selama menstruasi, seperti perubahan suasana hati dan nyeri perut bagian bawah dan punggung.

Gejala-gejala ini dapat memburuk pada saat stres seperti perang yang sedang berlangsung, menurut Adnan. "Perpindahan menyebabkan stres yang ekstrem dan itu mempengaruhi tubuh wanita serta hormonnya," jelasnya.

"Bisa juga terjadi peningkatan gejala fisik yang berhubungan dengan menstruasi, seperti sakit perut dan punggung, sembelit dan kembung," ujarnya.

Wanita mungkin mengalami insomnia, rasa gugup terus-menerus, dan ketegangan ekstrem.

Saat ini, dia mengatakan lebih banyak perempuan yang bersedia meminum pil penunda menstruasi untuk menghindari rasa malu karena kurangnya kebersihan, privasi, dan produk kesehatan yang tersedia.

Meski begitu, meskipun dia memahami kesulitan yang ada saat ini, Adnan mengatakan dalam keadaan normal, berkonsultasi dengan dokter sebelum meminum tablet ini penting untuk mengetahui apa efek pil ini dan penggunaannya yang berkelanjutan terhadap kesehatan fisik wanita.

"Hal ini dapat mempengaruhi perubahan hormonal alami seorang wanita, tanggal menstruasinya di bulan berikutnya, jumlah darah yang keluar, dan apakah menstruasinya berhenti," katanya kepada Al Jazeera, dikutip Rabu (1/11/2023).





























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Nasib Pilu Wanita Palestina Tenggak Pil Penunda Haid Imbas Tak Ada Air-Pembalut"