Hagia Sophia

11 August 2026

Pesan Pakar IDAI Terkait ASI Bubuk yang Sempat Viral

Menyimpan ASI perah. Foto: Getty Images/Rolart Studio

Teknologi untuk mengubah ASI (Air Susu Ibu) menjadi bubuk sempat jadi tren beberapa waktu yang lalu. Pakar mengingatkan, hingga saat ini belum ada bukti legal dan ilmiah terkait manfaat maupun keamanannya.

Ketua Satgas ASI Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Dr dr Naomi Esthernita Fauzia Dewanto, SpA, Subsp.Neo(K) mengatakan, pemberian ASI yang paling dianjurkan hingga saat ini adalah Direct Breast Feeding (DBF) atau menyusui langsung. Cara ini tidak hanya memastikan nutrisinya lengkap, tapi juga memberikan berbagai manfaat lain.

Menurut dr Naomi, DBF juga memungkinkan terjadinya bonding antara ibu dan bayinya. Selain itu, stimulasi motorik dan sensorik bagi otak bayi juga bisa didapat melalui interaksi selama DBF.

"Kalau memungkinkan, direct breast feeding adalah yang terbaik," tegas dr Naomi dalam perbincangan dengan detikcom, Jumat (7/8/2026).

Menurut dr Naomi, perlu dibedakan juga antara ASI Bubuk dengan HMF (Human Milk Fortifier) yang juga tersedia dalam bentuk bubuk. Produk fortifier semacam ini memang digunakan pada kondisi khusus, misalnya pada bayi prematur di NICU (Neonatus Intensive Care Unit) di bawah pengawasan dokter.

"Jadi bayi-bayi kecil itu dengan ASI kalorinya tidak mencukupi, kita tambah dengan Human Milk Fortifier untuk menambah zat-zat tertentu sehingga pertumbuhannya optimal," terang dr Naomi.

"HMF beda, bukan ASI yang dibentuk jadi bubuk, terus apalagi diperjual belikan," tandasnya.

























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Sempat Viral Tren ASI Bubuk, Ini Pesan Pakar IDAI"