![]() |
| Foto: Nafilah/detikHealth |
Hampir 200 santri di Pondok Pesantren Terpadu Khairul Ummah, Jakarta Utara, menjalani cek kesehatan gratis (CKG) skrining tuberkulosis (TB), Kamis (13/8/2026). Pemerintah memperluas jenis skrining di program CKG untuk meningkatkan temuan kasus. Terlebih, secara persentase diperkirakan 15 hingga 20 persen kasus TB belum berhasil ditemukan.
Dari estimasi 1.090.000 kasus TB, baru 867 ribu di antaranya yang berhasil diidentifikasi dan mendapatkan pengobatan. Artinya masih ada sekitar 300 ribu kasus belum terdeteksi. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyinggung tingkat penularan TB di pondok pesantren relatif tinggi lantaran kondisi tempat tinggal yang relatif padat.
"1 ruangan bisa padat sekali. Tidurnya bersebelahan, di kanan, kiri, atas, bawah. Karenanya risiko penularan relatif tinggi sehingga kami menilai perlu dilakukan skrining," sorot Menkes dalam konferensi pers di Jakarta Utara, Kamis (13/8).
Bila tidak tertangani, penularan bisa semakin meluas dan risiko fatal menjadi lebih sulit dihindari. Dibandingkan COVID-19, Menkes menekankan angka kematian akibat TB jauh lebih besar. Dalam satu tahun, Indonesia mencatat 120 ribu kasus kematian TB.
"Saya ngomong 5 menit sudah 2 orang meninggal, 10 menit yang meninggal 4 orang," beber dia.
Hasil skrining sementara di Ponpes Khairul Ummah pada 80 santri menunjukkan satu di antaranya positif TB. Menkes menyinggung temuan tersebut menggambarkan tingkat prevalensi sekitar 1 persen, melampaui rata-rata nasional 0,3 persen.
"Jadi benar kalau pondok pesantren karena padat, kemungkinan ditemukannya lebih tinggi. Jadi kita senang kan kalau ketemu, kita obati," lanjut Menkes.
Sebagai tindak lanjut hasil skrining, santri yang positif terpapar TB dianjurkan meminum obat selama enam bulan. Obat diberikan gratis oleh puskesmas. Namun, tantangannya, adalah kepatuhan konsumsi obat dalam jangka waktu panjang.
"Perlu dibantu dikawal sama keluarganya dan sama puskesmas agar dipastikan minum obat setiap hari selama 6 bulan, pasti sembuh," tegas dia.
1,75 Juta Santri Jadi Sasaran CKG
Dalam kesempatan yang sama, Plt Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Andi Saguni menyebut total ada 1,75 juta santri yang akan menjalani program CKG secara nasional secara bertahap di lebih dari 30 provinsi.
Berdasarkan pantauan detikcom di Ponpes Terpadu Khairul Ummah (13/8), para santri di kelas 3 SMA diatur mengantre pemeriksaan rontgen dada (X-Ray) TB.
Alat yang digunakan sudah memakai Artificial Intelligence (AI) sehingga hasilnya bisa langsung terlihat. Menurut Menkes, alat ini memudahkan proses skrining jemput bola di daerah-daerah, karena relatif mudah dibawa.
"Alatnya juga kecil, bisa dibawa menggunakan motor. Nah, sekarang kita akan jalan dari pesantren ke pesantren untuk mencari pengidap TB. Kalau diobati pasti sembuh kok dan tidak menular. Jadi teman-teman tidak usah takut, obatnya manjur. Rencananya kita akan masuk ke seluruh pondok pesantren di Indonesia agar bisa disingkirkan TB-nya, sehingga semua santrinya sehat, atas izin tokoh agama," beber Menkes.
Catatan Pakar: Perlu Pemeriksaan Lanjutan
Dihubungi terpisah, Prof Tjandra Yoga Aditama menyoroti menilai penggunaan X-Ray dengan kecerdasan buatan (AI) hanya membantu proses skrining dan belum dapat memastikan seseorang positif TB. Jika hasilnya menunjukkan dugaan TB, pemeriksaan perlu dilanjutkan dengan Tes Cepat Molekuler (TCM) untuk memastikan diagnosis.
"X-Ray dengan AI akan membantu proses skrining, sehingga lebih banyak masyarakat umum yang bisa terdeteksi terduga TB untuk proses diagnostik selanjutnya," sorot dokter spesialis paru sejak 40 tahun lalu tersebut, saat dikonfirmasi Kamis (13/8).
Prof Tjandra juga mendorong penggunaan metode near point of care (NPOC) dalam CKG. Metode tersebut dinilai dapat dipertimbangkan sesuai kriteria, kondisi, bukti ilmiah, dan rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Pria yang juga sempat menjadi Direktur Penyakit Menular WHO itu menekankan penemuan kasus harus diikuti dengan pengobatan hingga tuntas. Pasien TB yang ditemukan melalui skrining CKG harus mendapat jaminan pengobatan, pemantauan, dan pengawasan sampai sembuh.
"Penemuan kasus harus berjalan bersama-sama dengan pengobatan sampai selesai, tuntas dan sembuh," tegasnya.
Menurutnya, keberhasilan skrining TB melalui CKG juga sangat bergantung pada partisipasi masyarakat. Karena itu, Prof Tjandra menilai CKG sebaiknya sekaligus dimanfaatkan sebagai momentum memberikan edukasi dan meningkatkan literasi kesehatan masyarakat.
Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Ratusan Santri di Jakut Jalani Skrining TB Lewat CKG, Ada Temuan Kasus Positif"
