Hagia Sophia

02 August 2026

Riset: BPA pada Galon Isi Ulang Berpotensi Memicu Alergi di Tubuh

Foto: Dok. Istimewa

Riset terbaru Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga (Unair) menemukan adanya korelasi yang signifikan secara statistik antara konsumsi air minum dalam kemasan yang mengandung Bisphenol A (BPA) dengan peningkatan risiko riwayat alergi atau hipersensitivitas pada orang dewasa.

Tim peneliti dalam artikel ilmiah yang diterbitkan oleh jurnal AIMS Environmental Science edisi 2025 menyebut terdapat hubungan yang signifikan secara statistik antara paparan BPA melalui konsumsi AMDK dengan gangguan imunosupresif.

BPA merupakan bahan kimia industri yang kerap digunakan dalam pembuatan plastik keras polikarbonat, termasuk galon air minum isi ulang. Selama ini, perdebatan publik mengenai bahaya BPA lebih banyak menyoroti risiko kanker atau gangguan reproduksi. Namun, dampak BPA pada sistem kekebalan tubuh kerap luput dari perhatian.

Dosen Departemen Kesehatan Lingkungan FKM Unair sekaligus anggota tim riset, Dr. Sudarmaji menegaskan temuan timnya bukan tanpa preseden.

"Selama lebih dari satu dekade terakhir, cukup banyak penelitian eksperimental maupun epidemiologi yang melaporkan bahwa pajanan BPA berpotensi memengaruhi sistem imun. Hasil penelitian kami menjadi tambahan bukti ilmiah, khususnya dari Indonesia, bahwa pajanan BPA melalui air minum dalam kemasan layak terus dipantau sebagai isu kesehatan lingkungan," katanya dalam keterangan tertulis, Kamis (30/7/2026).

Penelitian yang dilakukan di Kelurahan Tambak Wedi, Surabaya, ini melibatkan 96 responden dewasa dengan rata-rata konsumsi sekitar dua liter air per hari selama kurang lebih 31 tahun. Pengujian laboratorium terhadap 10 merek air kemasan galon yang beredar menunjukkan bahwa seluruhnya mengandung BPA, dengan kadar tertinggi mencapai 0,099 µg/L.

Penelitian ini mencatat adanya korelasi positif dengan gangguan imunosupresif berupa riwayat hipersensitivitas. Sudarmaji menjelaskan secara biologis, BPA diduga dapat meningkatkan stres oksidatif dan memicu proses inflamasi.

"Akibatnya, pada individu tertentu, respons imun dapat menjadi tidak seimbang sehingga lebih mudah muncul reaksi hipersensitivitas atau alergi," paparnya.

Sudarmaji menambahkan potensi gangguan ini perlu dilihat dalam konteks paparan jangka panjang.

"Rata-rata responden mengonsumsi sekitar dua liter air per hari dengan durasi konsumsi sekitar 31 tahun. Pajanan kumulatif jangka panjang tetap perlu menjadi perhatian," jelasnya.

Ia juga mengingatkan kelompok yang paling rentan terhadap efek imunotoksik ini adalah janin, bayi, anak-anak, ibu hamil, dan individu yang sistem imunnya belum matang atau sedang mengalami gangguan.

"Temuan ini menjadi sinyal ilmiah bahwa pajanan BPA tetap perlu dikendalikan, terutama melalui pengawasan mutu kemasan pangan, edukasi masyarakat, dan penelitian lanjutan," pungkas Sudarmaji.

























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Riset Unair: BPA pada Galon Guna Ulang Berpotensi Picu Alergi di Tubuh"