![]() |
| Ilustrasi. (Foto: Getty Images/mihailomilovanovic) |
Sebuah insiden malpraktik medis fatal gegerkan publik Jepang. Seorang dokter bedah saraf senior di Rumah Sakit Universitas Kyoto keliru memotong jaringan otak sehat milik seorang pasien wanita berusia 50-an, bukannya mengangkat tumor jinak yang bersarang di kepalanya.
Dikutip dari SCMP, akibat kesalahan operasi berdurasi 10 jam tersebut, korban kini mengalami kelumpuhan total, tidak mampu bernapas sendiri, dan harus bergantung seumur hidup pada alat bantu pernapasan (ventilator).
Pihak Rumah Sakit Universitas Kyoto secara resmi menyampaikan permohonan maaf terbuka dan berjanji akan melakukan pembenahan sistem keselamatan pasien secara menyeluruh.
Hasil Biopsi Abaikan Dokter Senior Berpengalaman 20 Tahun
Kisah ini bermula saat pasien memeriksakan diri akibat keluhan pusing dan hilang keseimbangan. Dokter menemukan tumor jinak di area cerebellopontine angle, wilayah dalam otak yang dikelilingi banyak saraf sensitif.
Operasi pembedahan dilakukan oleh tim yang dipimpin dokter spesialis saraf dengan pengalaman lebih dari 20 tahun dan telah menangani ratusan prosedur serupa.
Namun, fakta mengejutkan terungkap selama operasi berlangsung. Tim medis menguji sampel jaringan yang dipotong, dan hasil laboratorium menunjukkan jaringan tersebut bukan tumor. Namun, dokter utama mengabaikannya dan menganggap hanya memotong bagian tepi tumor.
Tes ulang kembali menegaskan bahwa jaringan tersebut sehat. Dokter justru menyimpulkan secara sepihak bahwa tumor telah bersih diangkat.
Pasien tak kunjung sadarkan diri usai operasi. Hasil pemeriksaan MRI pascaoperasi mengungkap bahwa batang otak (brainstem) pasien rusak parah, sementara tumornya masih utuh.
Pengakuan Rumah Sakit: Dipicu Rasa Terlalu Percaya Diri
Batang otak merupakan pusat kendali vital manusia yang mengatur fungsi pernapasan, detak jantung, dan kesadaran. Akibat kerusakan permanen tersebut, pasien kini hanya bisa merespons pertanyaan sederhana lewat kedipan mata.
Kepala Bedah Saraf RS Universitas Kyoto, Yoshiteru Ara, mengakui adanya unsur kelalaian dan rasa terlalu percaya diri (overconfidence) dari dokter senior tersebut.
"Kami menyampaikan permohonan maaf yang terdalam. Kami akan mengusut tuntas penyebabnya dan merumuskan langkah efektif guna mencegah kejadian serupa terulang kembali," ujar Direktur RS Universitas Kyoto, Akifumi Takaori.
Pasca-insiden tersebut, rumah sakit memberlakukan aturan ketat baru yang mewajibkan verifikasi hasil tes operasi oleh lebih dari satu orang tenaga medis sebelum pemotongan jaringan dilanjutkan.
Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Tragedi Malapraktik Jepang, Dokter Bikin Pasien Koma Usai Salah Potong Batang Otak"
