Hagia Sophia

17 August 2023

Terkait Banyaknya Sunscreen Palsu, Ini Kata Dokter Kulit

Foto: Getty Images/iStockphoto/PeopleImages

Belakangan beredar konten hasil uji lab produk sunscreen SPF palsu. Angka yang tertera di label SPF disebut tidak sesuai dengan kandungan yang sebenarnya.

Informasi ini membuat netizen heboh dan bertanya-tanya apakah produk SPF tabir surya atau sunscreen yang mereka pakai sesuai klaim produk atau tidak.

Menanggapi ini, dokter spesialis kulit dan kelamin, dr Arini Astasari Widodo, SM, SpKK menjelaskan bahwa sun protection factor (SPF) merupakan ukuran yang menunjukkan seberapa efektif sunscreen dalam melindungi kulit dari sinar UVB yang dapat menyebabkan luka bakar matahari dan kerusakan kulit.

"Angka SPF mengindikasi berapa lama kulit Anda bisa terpapar sinar matahari sebelum mengalami luka bakar, dibandingkan jika tidak menggunakan sunscreen," katanya kepada detikcom, Selasa (15/8/2023).

Perbedaan angka SPF yang tertera di label dengan kandungan sebenarnya, tentu mempengaruhi efek proteksinya. Namun dr Arini mengingatkan, sebaiknya tidak terpaku hanya pada angka SPF karena ada hal yang harus diperhitungkan saat memilih sunscreen yakni PA atau Protective Grade of UVA.

"Klaim PA merupakan ukuran perlindungan terhadap sinar UVA yang dapat menyebabkan penuaan dini dan masalah kulit lain," jelasnya.

"Skala PA menggunakan tanda tambah (+), bintang (★), atau klaim broad-spectrum sunscreen untuk menunjukkan tingkat perlindungan terhadap sinar UVA. Semakin banyak tanda tambah atau bintang, semakin tinggi perlindungan terhadap UVA," imbuh lulusan Harvard Medical School tersebut.

Menurut dr Arini, metode pengukuran SPF dan Protection Grade of UVA (PA) pada sunscreen biasanya dilakukan dengan uji klinis di laboratorium. Pada pengukuran SPF, sunscreen diaplikasikan pada kulit peserta uji yang kemudian dikenakan paparan sinar matahari kontrol untuk menghitung waktu terjadinya eritema.

"Penilaian akurat terkait tingkat SPF memerlukan uji tes yang memadai dan terpercaya. Seseorang tidak dapat menilai efektivitas SPF menggunakan kamera UV yang saat ini sedang trending digunakan untuk menunjukan proteksi UV. Seseorang juga tidak dapat menilai SPF dari konsistensi, kemasan, harga, dan tekstur," katanya.

"Hasil perbandingan waktu eritema pada kulit yang dilindungi sunscreen dan kulit yang tidak dilindungi akan menghasilkan nilai SPF," paparnya.

Pengukuran PA melibatkan paparan sinar UVA pada kulit yang telah diberi sunscreen, diikuti pengukuran melanin untuk menghitung perbedaan sebelum dan sesudah paparan. Hasil perbandingan kadar melanin akan memberi nilai PA, yang mencerminkan tingkat perlindungan terhadap sinar UVA.

Adapun pengukuran ini dilakukan di laboratorium yang diakui BPOM. Juga, harus memenuhi standar tertentu dalam metode pengukuran, peralatan yang digunakan, dan peneliti yang terlibat.

"Kriteria ini akan memastikan bahwa uji klinis yang dilakukan memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi, serta memberi hasil yang akurat dan konsisten," imbuhnya

"Faktor-faktor seperti akreditasi laboratorium, pengalaman peneliti, metode pengukuran yang diakui secara internasional, dan transparansi proses pengujian akan jadi pertimbangan penting dalam persetujuan BPOM." lanjutnya lagi.

Dalam beberapa kasus, ia menyebut, hasil pengukuran bisa berbeda antara laboratorium yang berbeda karena perbedaan kondisi kulit subjek, metode pengukuran, dan berbagai faktor lain.

"Oleh karena itu, hasil dari berbagai laboratorium dapat memiliki variasi meski mereka mengikuti protokol uji yang sama," katanya.

Pun SPF sesuai klaim, pakai tabir surya dalam takaran yang kurang dari rekomendasi juga membuat perlindungan jadi tidak maksimal.

Konsultan Medis Klinik Dermalogia itu juga menggarisbawahi pentingnya klaim "PA" atau "broad spectrum" pada sunscreen, yang menunjukkan tingkat perlindungan terhadap sinar UVA.

"Jangan hanya terfokus pada angka SPF saja, tapi pastikan Anda menggunakan sunscreen yang memberi perlindungan yang baik terhadap UVA dan UVB," tandasnya.


























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Marak Sunscreen Palsu, Dokter Kulit Ingatkan Jangan Cuma Lihat Angka SPF!"