Hagia Sophia

13 August 2026

Terjadi Penembakan di Sekolah di Utara Bangkok

Foto: Getty Images/Synthetic-Exposition

Penembakan di sebuah sekolah di utara Bangkok, Thailand, menewaskan seorang siswi berusia 12 tahun. Korban meninggal setelah sebelumnya mendapat perawatan akibat luka yang dideritanya dalam serangan tersebut.

Kematian siswi itu menambah jumlah korban tewas menjadi delapan orang. Lima di antaranya merupakan guru dan staf sekolah, sementara dua korban lainnya adalah kakek dan nenek dari pelaku.

Insiden terjadi di Debsirin Nonthaburi School pada Jumat (7/8) waktu setempat. Seorang siswa berusia 14 tahun diduga melakukan penembakan di lingkungan sekolah sebelum mengakhiri hidupnya.

Polisi menyebut pelaku juga diduga menembak kakek dan neneknya di rumah tempat dia tinggal sebelum mendatangi sekolah.

Pihak sekolah menyampaikan belasungkawa mendalam atas meninggalnya siswi tersebut. Sebelumnya, sekolah juga memberikan penghormatan kepada lima guru dan staf yang menjadi korban dalam serangan.

Kelima korban yakni wakil kepala sekolah Kittipong Somrat, guru matematika Prapaporn Konsila, guru bahasa Thailand Nantchanatporn Nakplang, guru bimbingan Tiwaporn Wanich, serta sekretaris Saifon Sirikitchakajorn.

Siswa Hadapi Trauma

Selain korban luka dan meninggal dunia, serangan tersebut juga meninggalkan dampak psikologis bagi para siswa yang menyaksikan atau berada di lokasi kejadian.

Saat suara tembakan terdengar, sejumlah siswa bersembunyi di bawah meja dengan kondisi ketakutan. Ada pula siswa yang berusaha melarikan diri dari gedung sekolah saat proses evakuasi dilakukan.

Seorang siswa berusia 14 tahun, Khim, mengaku mendengar sejumlah suara tembakan dan sempat merasa dirinya tidak akan selamat.

Khim mengatakan dirinya bersembunyi di ruang kelas dengan lampu dimatikan. Saat itu dia menyadari bahwa posisi pelaku hanya berjarak beberapa pintu dari ruang kelasnya.

Kondisi seperti ini dapat menjadi pengalaman traumatis bagi anak dan remaja. Mereka tidak hanya menghadapi risiko luka fisik, tetapi juga dapat mengalami tekanan psikologis setelah terpapar peristiwa kekerasan.

Sebagai catatan, anak yang mengalami atau menyaksikan kekerasan secara langsung dapat menunjukkan berbagai reaksi setelah kejadian. Misalnya rasa takut berlebihan, sulit tidur, mimpi buruk, mudah terkejut, menangis, sulit berkonsentrasi, hingga enggan kembali ke sekolah.

Dalam kondisi tertentu, pengalaman tersebut juga dapat berkembang menjadi gangguan stres pascatrauma atau post-traumatic stress disorder (PTSD).

Karena itu, penanganan korban tragedi seperti ini tidak berhenti pada perawatan luka fisik. Pemeriksaan kondisi mental dan pendampingan psikologis juga penting dilakukan, terutama bagi anak-anak yang berada di lokasi ketika serangan berlangsung.

Dukungan dari orang tua, guru, tenaga kesehatan, dan lingkungan sekitar juga dibutuhkan agar anak merasa aman kembali setelah mengalami kejadian traumatis.

Pelaku Disebut Mengalami Stres Akademik

Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul mengatakan serangan tersebut berpotensi menimbulkan korban lebih banyak. Menurutnya, pelaku masih memiliki lebih dari 30 butir amunisi ketika melakukan aksinya.

Terkait motif, perdana menteri menyebut pelaku diduga mengalami stres yang berkaitan dengan masalah pendidikan.

Namun, ayah pelaku mengatakan kepada CNN bahwa dirinya tidak mengetahui alasan anaknya melakukan serangan tersebut. Sang ayah menyebut anaknya memiliki hasil akademik yang baik dan mengakui bahwa putranya bersalah, tetapi tidak memahami alasan di balik tindakannya.

Peristiwa ini kembali menunjukkan pentingnya perhatian terhadap kesehatan mental anak dan remaja, termasuk kemampuan mereka menghadapi tekanan di sekolah.

Meski demikian, stres akademik semata tidak dapat digunakan untuk menyimpulkan penyebab terjadinya tindakan kekerasan. Penyebab perilaku kekerasan pada remaja biasanya kompleks dan perlu ditelusuri melalui pemeriksaan serta penyelidikan yang menyeluruh.

























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Horornya Penembakan di Sekolah Thailand, Pelaku Disebut Stres Akademik"