![]() |
| Foto: Budaya naik sepeda di Beijing (Khadijah Nur Azizah/detikcom) |
Pada masa lalu, sejumlah ruas jalan di China bahkan secara tidak resmi berfungsi sebagai jalur sepeda. Masyarakat dapat mengayuh sepeda hingga sekitar 10 kilometer setiap hari. Kondisi tersebut membuat China sempat mendapat julukan Kingdom of Bicycle atau Kerajaan Sepeda.
Negara tersebut kini juga masih menjadi produsen sepeda terbesar di dunia. Terlepas dari meningkatnya penggunaan mobil listrik dan perluasan jaringan transportasi umum, sepeda masih menjadi transportasi utama di China. Kebiasaan ini juga menjadi cara untuk menjaga hidup sehat, salah satunya di Beijing.
Kini semakin banyak anak muda di China yang menggunakan sepeda untuk bepergian dan tetap aktif. Sebagai Ibu Kota China, Beijing memiliki jalur sepeda yang dibuat lebar dan rapi, lengkap dengan marka khusus. Ada pula lampu lalu lintas mini yang ditujukan untuk pesepeda.
Pemerintah Beijing membangun infrastruktur sepeda untuk mengurangi kemacetan dan polusi udara. Salah satunya adalah jalur sepeda khusus sepanjang 6,5 km yang menghubungkan kawasan Huilongguan dan Shangdi. Jalur tersebut bebas mobil, memiliki pembatas jelas, bahkan terdapat atap di beberapa bagian untuk melindungi pengendara sepeda dari hujan dan salju. Dikutip dari laman China Daily sebagian besar pekerja memilih bersepeda karena lebih cepat dibandingkan dengan naik mobil atau transportasi umum di jam sibuk.
Dikutip dari laman People's Daily Online, di Distrik Tongzhou, Beijing, jalur sepeda di sepanjang Grand Canal dilengkapi dengan sistem penerangan pintar dan tempat istirahat yang dilengkapi dengan kotak P3K. Beberapa jalur kereta di bawah tanah kota ini juga mulai mengizinkan penumpang membawa sepeda mereka ke dalam kereta.
Kini kebangkitan budaya sepeda di Beijing juga didorong oleh maraknya sistem bike-sharing, seperti Meituan Bike dan Hellobike. Untuk menggunakannya, pengguna cukup memindai kode QR.
Manfaat Bersepeda
Bersepeda yang merupakan salah satu olahraga tentunya memiliki berbagai manfaat kesehatan. Berikut di antaranya:
1. Mengendalikan Berat Badan
Bersepeda adalah cara yang baik untuk mengontrol atau menurunkan berat badan. Namun, kombinasikan juga dengan pola makan sehat.
Dikutip dari laman Healthline, bersepeda merupakan olahraga yang nyaman dan bisa diubah waktu serta intensitasnya. Saat bersepeda, seseorang bisa meningkatkan kecepatannya secara perlahan dan divariasikan sesuai dengan kemampuan.
2. Menguatkan Kaki
Bersepeda dapat meningkatkan fungsi keseluruhan tubuh bagian bawah dan memperkuat otot kaki tanpa memberi tekanan berlebihan pada persendian.
Dikutip dari Healthline, olahraga ini menargetkan otot paha depan, bokong, paha belakang, dan betis.
3. Meningkatkan Kesehatan Mental dan Kemampuan Otak
Bersepeda bisa meredakan stres, depresi, dan rasa cemas. Berfokus pada jalan atau irama kayuhan sepeda bisa membantu meningkatkan konsentrasi dan kesadaran. Hal tersebut bisa membantu mengalihkan perhatian dari pikiran-pikiran yang berkecamuk sepanjang hari.
Sebuah studi yang dipublikasikan dalam PLOS One pada 2019 menemukan, bersepeda di luar ruangan meningkatkan kemampuan berpikir dan perasaan sejahtera pada lansia.
4. Menyehatkan Kardiovaskular
Penyakit kardiovaskular meliputi stroke, tekanan darah tinggi, dan serangan jantung. Dikutip dari laman Better Health, bersepeda secara teratur bisa merangsang dan meningkatkan kesehatan jantung, paru-paru, serta sirkulasi darah, sehingga mengurangi risiko kardiovaskular.
Spesialis jantung dan pembuluh darah, dr Emanoel Oepangat, SpJP (K) juga mengatakan, aktivitas bersepeda bisa menguatkan jantung.
"Kalau orang yang sudah rutin bersepeda, itu ototnya sudah terlatih, jantungnya juga sudah terlatih," kata dr Noel kepada detikcom beberapa waktu lalu.
Kendati demikian, dr Noel mengingatkan orang yang hobi bersepeda untuk tidak memaksakan diri sampai intensitas tinggi. Sebab, hal tersebut bisa membahayakan tubuh.
"Kita semua tahu ada namanya heart rate zone, zona denyut nadi. Itu 220 dikurangi umur, zona amannya itu adalah 60-80 persen dari angka itu," katanya.
"Kalau seandainya dia jarang latihan, tidak rutin, tapi pada saat misalnya naik sepeda dia ngebut, nah denyut nadinya naik sampai melewati atau hampir 100 persen dari nadi maksimalnya. Nah, itu yang bahaya," tutupnya.
Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Bukan Sekadar Tren, Sepedaan di Beijing Jadi Gaya Hidup"
