![]() |
| Foto: Ferdi Almunanda |
Hujan mulai turun di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Jabodetabek. Namun, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan kondisi kering masih dominan memasuki periode Oktober 2026. El Nino dengan intensitas sangat kuat dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif masih membatasi suplai uap air di Indonesia.
BMKG memperkirakan sekitar 79,65 persen wilayah Indonesia masih mengalami kondisi dengan curah hujan rendah. Hari tanpa hujan (HTH) panjang hingga ekstrem panjang juga masih terjadi di sejumlah wilayah.
Bahkan, tercatat 1.474 titik yang masuk kategori HTH ekstrem panjang. Kondisi tersebut menunjukkan risiko kekeringan dan dampak ikutannya masih perlu diwaspadai meski hujan sudah mulai muncul di sejumlah daerah.
Hotspot Masih Tinggi
Kondisi kering juga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla). BMKG mencatat masih terdapat ratusan titik panas di sejumlah wilayah Indonesia.
Sebanyak 159 titik panas terdeteksi di Sumatera, 193 titik di Kalimantan, serta 322 titik di wilayah Papua dan Maluku.
Dengan kondisi tersebut, risiko karhutla masih perlu menjadi perhatian, terutama di wilayah yang masih mengalami hari tanpa hujan panjang dan kondisi udara kering.
Hujan Lebat Masih Bisa Terjadi
Di sisi lain, BMKG menekankan kondisi kering bukan berarti seluruh wilayah Indonesia terbebas dari hujan deras. Hujan lebat hingga sangat lebat masih dapat terjadi secara lokal.
Hujan dengan intensitas hingga 102 mm per hari tercatat di Papua Tengah. Di wilayah Jabodetabek, hujan lebat mencapai 96,1 mm per hari di Kabupaten Bogor.
BMKG menjelaskan hujan lokal tersebut dipengaruhi dinamika atmosfer regional dan lokal yang dapat meningkatkan suplai uap air.
"Kondisi ini menunjukkan adanya kontras cuaca antarwilayah. Sebagian wilayah masih menghadapi kondisi kering dan risiko karhutla, sementara wilayah lainnya dapat mengalami hujan lebat dalam waktu singkat," demikian peringatan BMKG dalam keterangan resminya, Jumat (2/10/2026).
Dinamika Atmosfer Sepekan ke Depan
BMKG memperkirakan kondisi kering masih akan dominan dalam sepekan ke depan. Namun, potensi hujan lebat secara lokal tetap ada.
El Nino yang masih sangat kuat serta IOD positif menjadi faktor yang membatasi suplai uap air. Di sisi lain, sejumlah gelombang atmosfer aktif dapat mendukung pertumbuhan awan hujan di beberapa wilayah.
Gelombang Rossby ekuatorial dan gelombang Kelvin berpotensi mendukung pembentukan awan hujan di sebagian Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku Utara.
Sementara itu, monsun Australia diperkirakan semakin menguat. Penguatan monsun Australia dan aliran timuran di wilayah Indonesia bagian selatan cenderung membatasi suplai uap air sehingga menekan potensi hujan.
Meski demikian, hujan lokal tetap berpotensi terjadi. Suhu muka laut yang relatif hangat, konvergensi atau perlambatan angin, serta belokan angin dapat memicu hujan lebat yang disertai petir dan angin kencang secara lokal.
Waspadai Panas hingga Cuaca Buruk
BMKG mengimbau masyarakat tetap mengantisipasi cuaca panas dan udara kering. Masyarakat dianjurkan menggunakan tabir surya untuk mengurangi paparan sinar matahari serta memastikan kecukupan cairan tubuh, terutama ketika beraktivitas di luar ruangan pada siang hari.
Risiko dehidrasi dan kelelahan juga perlu diwaspadai selama periode cuaca panas.
Di sisi lain, masyarakat diminta tetap waspada terhadap cuaca buruk yang dapat terjadi secara lokal. Hujan ringan hingga sedang yang disertai kilat atau petir dan angin kencang masih mungkin terjadi di sejumlah wilayah.
Saat cuaca buruk, masyarakat diminta mewaspadai potensi pohon dan dahan tumbang, baliho roboh, genangan, hingga sambaran petir.
Hindari berteduh di bawah pohon, papan reklame, maupun bangunan yang rapuh ketika hujan disertai angin kencang atau petir.
Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "El Nino Masih Sangat Kuat Meski Sudah Mulai Turun Hujan, Ini Wanti-wanti BMKG"
