Hagia Sophia

07 February 2024

Apa Perbedaan Stunting dan Gizi Buruk?

Ilustrasi stunting dan gizi buruk. (Foto: Getty Images/iStockphoto/Aree Thaisagul)

Stunting dan gizi buruk adalah dua gangguan pertumbuhan yang umum dialami anak-anak. Meski sama-sama berhubungan dengan asupan gizi, terdapat sejumlah perbedaan stunting dan gizi buruk yang perlu diketahui.

Memang, stunting dan gizi buruk sama-sama dipengaruhi oleh asupan gizi yang tidak memadai dan dapat membuat tumbuh kembang anak menjadi tidak optimal. Kendati demikian, stunting dan gizi buruk adalah dua kondisi yang berbeda.

Demi Selamatkan Pasien, Dokter Tetap Lakukan Operasi Saat Terjadi Gempa

Foto ilustrasi: Getty Images/iStockphoto/gorodenkoff

Seorang dokter bedah dan stafnya di China mendapat pujian setelah menyelamatkan pasiennya. Mereka berhasil menyelesaikan operasi otak pasiennya di tengah guncangan gempa berkekuatan 7,1 skala richter yang terjadi di China bulan lalu.

Saat itu, dokter ahli saraf bernama An Shufang itu sedang menjalani operasi kraniotomi pada 23 Januari 2024 pukul 2 pagi waktu setempat. Di waktu yang sama, gempa bumi yang dahsyat melanda wilayah otonomi Xianjiang.

Anak Nonton TV Lebih 3 Jam per Hari Lebih Mudah Terserang Hipertensi

Sering nonton TV sehari 3 jam bisa meningkatkan risiko hipertensi pada anak. (Foto: iStock)

Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Nefrologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Dr dr Heru Muryawan, SpA (K) menyebut menonton TV tiga jam per hari meningkatkan risiko anak enam hingga tujuh kali lipat mengalami kenaikan tekanan darah sistolik yang berujung hipertensi. Hal ini berkaitan dengan minimnya aktivitas gerak anak.

"Faktor risiko hipertensi pada anak juga berkaitan dengan kurangnya aktivitas, ternyata pembuluh darah itu butuh elastisitas, butuh kelenturan, sehingga kalau kurang aktivitas lama-lama bisa menyebabkan hipertensi," bebernya dalam agenda daring Selasa (6/2/2024).

Hipertensi Bisa Serang Anak, Waspada Jika Tensi Sudah Lewati Angka Ini

llustrasi hipertensi pada anak. (Foto: Shutterstock/)

Anak juga bisa terkena hipertensi. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyebutkan, dari 100 anak di Indonesia, hampir 19 di antaranya mengalami kondisi tersebut.

Berbeda dengan usia dewasa, cara melihat tekanan darah normal pada anak bergantung pada berat badan, tinggi badan, hingga usia dan jenis kelamin. Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Nefrologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Dr dr Heru Muryawan, SpA (K) mengungkap daftar tabel tekanan darah normal pada anak.

Tidak Hanya Serang Usia Dewasa, Hampir 19 Persen Anak Indonesia Alami Hipertensi

Ilustrasi anak dirawat. (Foto: Getty Images/iStockphoto/gorodenkoff)

Hipertensi atau tekanan darah tinggi kerap dianggap hanya 'menyerang' usia dewasa. Padahal, faktanya 18,9 persen anak usia enam hingga 18 tahun di Indonesia ikut mengalami hipertensi.

Angka ini terbilang tinggi bila dibandingkan dengan laporan banyak negara lain misalnya Amerika Serikat 4,2 persen, Brasil 5,5 persen, Afrika 5,5 persen. Sementara tren di China kurang lebih tidak jauh berbeda dengan Indonesia yakni 18,4 persen pada usia anak enam sampai 13 tahun.

Tips untuk Atasi Susah Tidur Tanpa Obat

Foto: Thinkstock

Beberapa orang mungkin mengalami susah tidur atau insomnia. Sering kali kondisi ini terasa berat hingga mengganggu pekerjaan, atau bahkan mempengaruhi kondisi kesehatan secara umum karena kurang istirahat.

Jika kamu mengalami hal tersebut, cobalah 11 cara mengatasi susah tidur tanpa obat berikut ini. Kita akan ulas pula penyebab-penyebab susah tidur, sehingga kamu bisa menghindarinya di kemudian hari.

Komentar IDAI Tentang Gagasan Capres Atasi Kebutuhan Dokter dengan Bangun 300 FK

Ketua IDAI berkomentar soal wacana pembangunan lebih banyak fakultas kedokteran. (Foto: DetikHealth/Nafilah Sri Sagita K)

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) ikut berkomentar terkait gagasan para capres untuk mengatasi kebutuhan dokter di Indonesia, antara lain degan membuka 300 fakultas kedokteran (FK) dan mendatangkan profesor dari luar negeri. Menurut IDAI, poin terpenting adalah distribusi, alih-alih terus menambah jumlah tenaga dokter tanpa memastikan kompetensinya.

Kuantitas, jika tidak dibarengi kualitas malah akan merugikan tenaga dokter dan masyarakat. Dirinya berpesan untuk tidak terburu-buru dalam mencetak dokter lantaran diperlukan kompetensi mumpuni demi pelayanan maksimal di masyarakat.