![]() |
| Wamenkes Dante. (Foto: Gilang Faturahman/detikFoto) |
Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Dante Saksono Harbuwono berbicara soal tantangan pelayanan masalah kesehatan mata di Indonesia. Salah satu masalah yang ditemukan adalah adanya ketimpangan distribusi operasi katarak antardaerah.
Kemenkes meminta BPJS Kesehatan memindahkan dana dari daerah yang serapannya rendah ke daerah yang kekurangan anggaran.
Dante menjelaskan, target Cataract Surgery Rate (CSR) atau angka operasi katarak sebenarnya sudah ditetapkan. Masalahnya, pelaksanaan operasi tidak merata antardaerah.
"Cataract Surgery Rate itu sudah ditentukan, tapi masalahnya distribusi yang melakukan operasi katarak itu tidak sama antara satu daerah dengan daerah lainnya," ujar Dante di Kantor Kemenkes, Jakarta Selatan, Kamis (15/10/2026).
Menurut Dante, BPJS Kesehatan menetapkan plafon dana operasi katarak tiap daerah berdasarkan jumlah layanan dan operasi yang dapat dibiayai. Akibatnya, ada daerah yang plafonnya sudah habis karena beban layanan terlalu tinggi.
Sementara itu, di daerah lain justru punya sisa dana karena jumlah operasinya sedikit.
Ia mencontohkan Jakarta yang plafonnya sudah terlampaui. Sedangkan Papua memiliki sisa anggaran karena operasi yang dilakukan masih sedikit.
"Kelebihan dari Papua ini dananya ditransfer ke Jakarta, misalnya, supaya masyarakat di Jakarta yang menunggu lama untuk operasi dengan dana BPJS itu bisa tertangani dengan baik," kata Dante.
Dante menuturkan pada saat itu pihaknya masih terus melakukan diskusi dengan pihak BPJS Kesehatan terkait hal tersebut.
Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Akses Operasi Katarak Belum Merata, Wamenkes Dante Ungkap Kendalanya"
