Hagia Sophia

19 October 2026

Konsumsi Kopi dan Teh Bisa Meningkatkan Risiko Gangguan Ginjal?

Foto: Ilustrasi teh dan kopi (Getty Images/ediebloom)

Bagi banyak orang, minum secangkir teh atau kopi pada pagi hari sudah menjadi rutinitas sehari-hari. Meski konsumsi dalam jumlah sedang umumnya aman bagi orang sehat, ahli nefrologi dr Vikram Kalra mengatakan bahwa jumlah yang diminum, cara penyajian, serta kondisi kesehatan yang mendasarinya dapat memengaruhi dampak kedua minuman tersebut terhadap kesehatan ginjal.

"Memahami hubungan antara kafein, hidrasi, dan fungsi ginjal dapat membantu seseorang membuat pilihan yang tepat," ujar dr Kalra, dikutip dari laman Hindustan Times.

Dokter ginjal ini menjelaskan bahwa kafein memiliki efek diuretik ringan. Artinya, kafein dapat meningkatkan produksi urine untuk sementara waktu, terutama pada orang yang tidak terbiasa mengonsumsinya.

"Namun, konsumsi teh dan kopi dalam jumlah sedang umumnya tetap berkontribusi terhadap asupan cairan harian dan tidak serta-merta menyebabkan dehidrasi. Bagi sebagian besar orang dewasa yang sehat, minum teh dan kopi dalam jumlah sedang kecil kemungkinannya menyebabkan kerusakan ginjal," jelasnya.

Apakah Konsumsi Berlebihan Bisa Meningkatkan Risiko Gangguan Ginjal?

Menurut dr Kalra, risiko kesehatan ginjal lebih sering berkaitan dengan konsumsi berlebihan dan kerentanan masing-masing individu. Asupan kafein dalam jumlah besar dapat meningkatkan tekanan darah untuk sementara. Sementara itu, tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol dalam jangka panjang merupakan salah satu faktor risiko utama penyakit ginjal kronis.

"Orang yang sudah memiliki hipertensi atau masalah ginjal sebaiknya mendiskusikan asupan kafein mereka dengan tenaga kesehatan," ujar dr Kalra.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah risiko pembentukan batu ginjal. dr Kalra menjelaskan bahwa teh mengandung oksalat, yaitu senyawa alami yang dapat berkontribusi terhadap pembentukan batu kalsium oksalat pada orang yang rentan, terutama jika dikonsumsi dalam jumlah besar.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa risiko tersebut bergantung pada pola makan secara keseluruhan, asupan cairan, serta riwayat batu ginjal masing-masing individu.

Sementara itu, konsumsi kopi belum secara konsisten dikaitkan dengan peningkatan risiko batu ginjal. Bahkan, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa konsumsi kopi mungkin berkaitan dengan risiko batu ginjal yang lebih rendah.

Apa Dampak Penambahan Gula dan Susu?

dr Kalra menjelaskan bahwa penambahan gula berlebihan, sirup berperisa, atau krimer manis ke dalam teh dan kopi dapat berkontribusi terhadap kenaikan berat badan serta meningkatkan risiko diabetes tipe 2.

"Diabetes dan hipertensi merupakan penyebab penting penyakit ginjal kronis," ujarnya.

Orang yang memiliki penyakit ginjal juga mungkin memerlukan saran pola makan yang disesuaikan, termasuk terkait konsumsi susu dan bahan tambahan lainnya. Penyesuaian tersebut bergantung pada kebutuhan nutrisi dan hasil pemeriksaan laboratorium masing-masing individu.

Berapa Banyak Teh dan Kopi yang Dianjurkan?

Bagi sebagian besar orang dewasa yang sehat, konsumsi teh dan kopi dalam jumlah sedang dinilai masih wajar oleh dr Kalra.

Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) menyebutkan bahwa asupan kafein hingga 400 mg per hari umumnya tidak dikaitkan dengan efek merugikan pada sebagian besar orang dewasa. Meski demikian, toleransi setiap individu terhadap kafein dapat berbeda.

"Mempertahankan asupan air yang cukup, membatasi gula tambahan, serta mengelola tekanan darah dan kadar gula darah juga sama pentingnya," jelasnya.

Dengan demikian, teh atau kopi tidak harus dihentikan demi menjaga kesehatan ginjal.

"Kuncinya adalah moderasi, persiapan yang cermat, dan mencari saran yang dipersonalisasi jika Anda memiliki penyakit ginjal atau riwayat batu ginjal," katanya.

























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Minum Teh dan Kopi Setiap Hari Bisa Pengaruhi Ginjal? Dokter Bilang Begini"