![]() |
| Foto ilustrasi: Getty Images/lucky-sky |
Naomi Whitehead, wanita tertua di Amerika Serikat (AS) sekaligus orang tertua kedua di dunia, baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke-116. Naomi menjadi orang ke-33 dalam sejarah yang berhasil mencapai usia fantastis tersebut.
Fenomena panjang umur lebih dari 110 tahun (supercentenarian) ini kembali memicu pertanyaan besar di kalangan peneliti. Apa yang sebenarnya membuat seseorang bisa bertahan hidup hingga menembus usia ratusan tahun?
Peran Genetik Lebih Besar dari Dugaan
Sebuah penelitian terbaru dari tim peneliti Skandinavia yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah ternama Science mengungkapkan bahwa faktor genetik memegang peranan jauh lebih besar dari perkiraan sebelumnya.
Jika studi terdahulu menyebut gen hanya berkontribusi sekitar 20-25 persen terhadap harapan hidup, data baru menunjukkan genetik dapat menjelaskan hingga 50 persen variabilitas rentang hidup manusia setelah mengesampingkan faktor kematian akibat kecelakaan atau infeksi.
Makin tua usia seseorang, memasuki umur 90-an, 100-an, hingga 110 tahun, peran genetik pelindung dalam tubuh justru makin dominan. Studi lain juga menemukan bahwa mereka yang hidup melampaui usia 110 tahun memiliki perlindungan genetik yang lebih kuat terhadap penyakit Alzheimer, dibandingkan mereka yang hanya bertahan hingga usia 100 tahun.
Genom Rahasia yang Terlihat 'Muda'
Bukti nyata mengenai peran genetik ini terlihat pada penelitian terhadap Maria Branyas, salah satu orang tertua di dunia yang wafat pada 2024 lalu. Sebelum meninggal, Maria mendonasikan sampel darah, air liur, urine, dan tinjanya untuk diteliti oleh para ilmuwan.
Hasil analisis menunjukkan bahwa Maria memiliki kesehatan kardiovaskular yang luar biasa, tingkat peradangan sangat rendah, serta varian genetik langka yang melindungi fungsi jantung, otak, dan sistem imun. Bahkan, sistem kekebalan tubuh dan mikrobioma ususnya menyerupai milik orang yang berusia puluhan tahun lebih muda.
"Temuan ini memberikan pandangan baru tentang biologi penuaan manusia, yang menunjukkan adanya biomarker untuk penuaan yang sehat, serta potensi strategi untuk meningkatkan harapan hidup," simpul tim peneliti dalam laporan studi tentang organ dan genom Maria Branyas tersebut.
Tak hanya itu, faktor genetik ini juga berpotensi diturunkan ke anak hingga cucu. Sebuah studi terpisah menemukan bahwa anak-anak dari orang yang hidup hingga usia 100 tahun (centenarian) memiliki risiko hipertensi 32 persen lebih rendah, risiko penyakit jantung 33 persen lebih rendah, dan risiko kematian dini 42 persen lebih rendah pada usia berapa pun.
Genetik Bukan Takdir Mutlak
Meski genetik memberikan 'modal awal' yang sangat bagus, para ahli menegaskan bahwa gen bukanlah takdir mutlak. Memiliki gen panjang umur tidak otomatis menjamin seseorang bakal hidup hingga usia ratusan tahun tanpa diimbangi gaya hidup sehat.
Faktor lingkungan dan kebiasaan harian tetap memegang peranan penting. Baik Maria Branyas maupun Naomi Whitehead diketahui memiliki pola hidup yang sangat teratur: aktif secara sosial, tidak merokok, dan tidak mengonsumsi alkohol.
Penelitian pada metabolisme tubuh juga menunjukkan bahwa orang-orang yang berhasil mencapai usia 100 tahun cenderung memiliki kadar asam lemak, alkohol lemak, dan metabolit jahat yang jauh lebih rendah di dalam darah mereka.
Kesimpulannya, kombinasi antara 'lotre' genetik yang baik serta pilihan gaya hidup sehat yang konsisten menjadi kunci utama di balik umur panjang hingga menembus abad.
Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Peran Genetik di Balik Umur Panjang Orang Tertua di AS yang Berusia 116 Tahun"
