![]() |
| Kepala BPOM RI Taruna Ikrar dalam acara Health Corner. (Foto: Ari Saputra/detikHealth) |
Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) tengah gencar mempromosikan Indonesia di kancah internasional sebagai lokasi strategis untuk pelaksanaan uji klinis obat dan vaksin global.
Langkah ini diambil sebagai strategi taktis untuk meningkatkan kemandirian farmasi nasional serta menjamin ketersediaan akses obat-obatan terbaru bagi masyarakat.
Kepala BPOM, Prof Taruna Ikrar mengungkapkan, dirinya aktif mengajak para investor serta otoritas pengawas obat atau Food and Drug Administration (FDA) di berbagai negara saat melakukan pertemuan internasional untuk berinvestasi dalam uji klinis di tanah air.
"Badan POM di bawah kepemimpinan saya lagi promosi. Promosi ke mana-mana, bagaimana investor dari berbagai negara untuk bisa berlomba-lomba masuk ke Indonesia untuk melakukan uji klinis," ungkapnya dalam acara Health Corner detikcom, Senin (26/10/2026).
Dua Potensi Besar Indonesia
Ia menjelaskan, Indonesia memiliki dua keunggulan utama yang dilirik oleh industri pengembang farmasi dunia, yakni keanekaragaman jenis penyakit serta jumlah populasi penduduk terbesar keempat di dunia yang mendekati 300 juta jiwa.
"Pertama, semua jenis penyakit itu ada di Indonesia. Semua jenis penyakit, baik penyakit infeksi maupun penyakit non-infeksi. Yang kedua, jumlah penduduk kiya cukup besar," katanya.
Tegaskan Bukan Kelinci Percobaan
Ia menepis anggapan soal pelibatan masyarakat Indonesia dalam uji klinis obat dan vaksin global akan menjadikan warga sebagai "kelinci percobaan".
Ia menjelaskan, pengujian yang dilakukan di Indonesia umumnya merupakan uji klinis tahap akhir untuk menguji efektivitas, di mana tingkat keamanan dan porsi dosis obat telah teruji secara medis.
"Bukan berarti kita mau jadikan masyarakat kita kelinci percobaan, enggak," tegasnya.
Menurutnya, keterlibatan ini justru memberikan keuntungan besar karena Indonesia akan mendapatkan prioritas ketersediaan serta harga produk yang lebih terjangkau, seperti pada pengujian vaksin tuberkulosis (TBC).
Kunci Kemandirian Obat dan Standar WLA
Berbeda dengan produk pangan yang bahan bakunya dapat disubstitusi dengan cepat, ia mengatakan, kemandirian obat membutuhkan rantai riset dan pengembangan yang sangat panjang.
Oleh karena itu, menjadikan Indonesia sebagai pusat uji klinis terpercaya, didukung oleh pengakuan kualifikasi pengawasan internasional WHO Listed Authority (WLA), merupakan pintu masuk utama untuk menarik investor global dan menekan biaya produksi obat dalam negeri.
"Tentu dengan kita dapatkan ini (kualifikasi WLA) menunjukkan bahwa uji klinis di Indonesia setara dengan at least negara-negara maju," ucapnya.
Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Kata BPOM soal Peluang RI Jadi Pusat Uji Klinis Obat Dunia"
