Hagia Sophia

25 October 2026

WHO Naikan Status Siaga Ebola di 22 Negara, Wilayah Ini Jadi Prioritas

Foto: Getty Images/diegograndi

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi wabah Ebola di kawasan Mediterania Timur yang mencakup 22 negara dan wilayah. Dari jumlah tersebut, Djibouti, Somalia, dan Sudan menjadi prioritas untuk mendapatkan dukungan intensif.

Langkah ini dilakukan menyusul wabah Ebola akibat virus Bundibugyo yang mematikan di Republik Demokratik Kongo (DRC) dan Uganda. Selain itu, satu kasus Ebola yang berkaitan dengan DRC juga telah dikonfirmasi di Kenya.

Meski belum ditemukan kasus Ebola di kawasan Mediterania Timur, WHO menilai konflik, perpindahan penduduk, dan keterbatasan sistem kesehatan di sejumlah negara dapat menghambat upaya pencegahan dan penanganan wabah.

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus sebelumnya menggambarkan kawasan tersebut sebagai pusat kebutuhan kemanusiaan global.

Lebih dari 117 juta orang di wilayah Palestina yang diduduki, Sudan, Suriah, Yaman, dan wilayah lainnya membutuhkan bantuan kemanusiaan untuk bertahan hidup.

WHO Petakan Kesiapan Hadapi Ebola

Pada Juli hingga September, WHO mengirimkan tim ke Djibouti, Somalia, dan Sudan untuk menilai kesiapan nasional dalam menghadapi potensi penyebaran Ebola.

Penilaian tersebut mencakup sistem surveilans atau pemantauan penyakit, kapasitas laboratorium, pencegahan dan pengendalian infeksi, penanganan pasien, hingga koordinasi tanggap darurat.

WHO juga membantu otoritas setempat mengatasi berbagai kekurangan kesiapsiagaan melalui pelatihan, dukungan teknis, penyediaan perlengkapan medis, dan simulasi penanganan wabah.

Selain itu, WHO telah menyusun daftar periksa kesiapsiagaan regional, perangkat perencanaan kontingensi, serta panduan teknis. Koordinasi dengan negara-negara di Afrika dan kawasan Mediterania Timur juga diperkuat.

Dukungan lainnya meliputi penyediaan perlengkapan laboratorium, panduan bagi pelaku perjalanan, serta materi untuk meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam pencegahan dan pengendalian penyakit.

Kendala Deteksi Dini dan Peralatan Pelindung

Meski sejumlah langkah telah dilakukan, WHO menyebut masih terdapat kendala dalam mendeteksi kasus sejak dini, mengonfirmasi penyakit melalui pemeriksaan laboratorium, serta memastikan ketersediaan alat pelindung dan sumber daya untuk merespons keadaan darurat.

"Konflik, ketidakamanan, dan akses yang terbatas menimbulkan tantangan tambahan, terutama di negara-negara yang telah menghadapi keadaan darurat kemanusiaan besar," kata WHO dalam keterangannya.

WHO terus bekerja sama dengan otoritas nasional dan mitra terkait untuk memastikan setiap kasus Ebola yang dicurigai dapat segera dideteksi, diselidiki, dan ditangani.

Upaya tersebut diharapkan dapat memperkuat kesiapan negara-negara di kawasan Mediterania Timur dalam menghadapi potensi wabah Ebola, terutama di tengah tantangan konflik dan keterbatasan layanan kesehatan.

























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "WHO Tingkatkan Status Siaga Ebola di 22 Negara, Wilayah Ini Jadi Prioritas"