Hagia Sophia

21 September 2026

Layanan Healing 119 Ramai Pengakses, Menkes Ungkap Penyebabnya

Foto: Adhfar/detikcom

Layanan pertolongan pertama krisis psikologis milik Kementerian Kesehatan, Healing 119, belakangan kebanjiran pengakses hingga memicu antrean panjang. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan bahwa ini terjadi seiring meningkatnya temuan kasus kesehatan jiwa di masyarakat, setelah dilakukannya pengukuran secara masif.

Menkes Budi menjelaskan fenomena masalah mental yang selama ini tidak terdeteksi mulai bermunculan ke permukaan, usai pemerintah meluncurkan program Cek Kesehatan Gratis (CKG).

"Kelihatan bahwa memang ada masalah kesehatan jiwa, dan cukup banyak. Yang perlu kita lakukan sebenarnya, karena jiwa ini kan perlu konseling ya, kita membutuhkan lebih banyak lagi ahli-ahli jiwa untuk bisa melakukan treatment ini," ujar Menkes pada awak media, Rabu (16/9/2026)

Ia mengakui kapasitas layanan kesehatan mental saat ini masih terbatas, karena sebelumnya belum pernah ada pemetaan skala besar terkait kondisi psikis masyarakat. Maka dari itu, Kemenkes berencana menambah kapasitas saluran konseling Healing 119 serta memperkuat layanan di tingkat pertama.

"Ini butuh waktu ya, nggak bisa langsung otomatis lengkap, tapi secara bertahap keputusan itu sudah dibikin. Khususnya yang mengenai yang call Healing 119, kita akan menambah kapasitasnya. Kita akan ngomong dengan organisasi profesi untuk kesehatan jiwa," lanjut Menkes.

Ia juga menargetkan agar seluruh Puskesmas kelak diperkuat oleh tenaga medis yang tidak hanya fokus mengobati penyakit fisik, melainkan juga siap menangani masalah psikis.

Psikolog Kaget, 1 Shift Diantre Hingga 600 Orang

Terbatasnya tenaga ahli di tengah tingginya permintaan konseling berdampak langsung pada operasional Healing 119 di lapangan. Psikolog Anak, Sari Sani, membeberkan ketimpangan yang sangat jauh antara jumlah petugas dan warga yang membutuhkan bantuan.

"Dalam satu shift, psikolognya mungkin paling cuma 5 orang. Satu shift itu 3 jam, nah yang mengakses satu shift itu bisa 500 sampai 600 orang," ungkap Sari pada awak media di gedung Kemenkes, Rabu (9/8/2026).

Kondisi tersebut memaksa pengelola membatasi durasi konseling maksimal 30 menit per pasien. Jika tidak dibatasi, jumlah masyarakat yang bisa tertangani akan semakin sedikit.

"Kami juga terus terang kaget ketika datanya kemudian sudah terkumpul. Pengaksesnya semudah ini ternyata," tambahnya.

Pasien Mulai Usia 8 Tahun, Terbanyak Remaja Awal

Tak hanya soal jumlah, Sari menggarisbawahi bahwa profil pengakses Healing 119 kini mulai bergeser ke kelompok usia yang sangat muda.

"Yang mengakses Healing 119 itu mulai dari umur 8-10 tahun. Jadi ada yang memang konsul beneran, terutama kesepian. Dan peak-nya seingat saya umur 12-14 tahun, jadi remaja awal," terang Sari.

Untuk menyiasati antrean yang terus membludak, tim Healing 119 kini menerapkan sistem triase.

Panggilan yang sifatnya iseng atau tidak menunjukkan kondisi krisis psikologis darurat, seperti konflik biasa dengan orang tua, akan langsung dialihkan. Ini dilakukan agar petugas dapat fokus mendampingi pasien yang membutuhkan penanganan krisis segera.

























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Antrean Layanan Healing 119 Mengular, Menkes Ungkap Penyebabnya"