![]() |
| Foto: Istimewa) |
Penyebab dugaan keracunan massal yang menimpa sejumlah siswa sekolah di Kota Kediri, Jawa Timur, usai menyantap program Makan Bergizi Gratis (MBG) akhirnya terkuak. Pemerintah setempat merilis hasil pemeriksaan laboratorium atas sampel makanan yang disajikan.
Plt Kepala Dinas Kesehatan Kota Kediri, dr Hamida, mengonfirmasi bahwa bakteri Escherichia coli (E. coli) ditemukan dalam sampel nasi dan buah melon yang disajikan sebagai menu MBG. Hasil tersebut didapatkan dari pengujian di Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Kota Kediri.
"Ditemukan E. coli di sampel nasi dan buah melon," terang dr Hamida, dikutip dari detikJatim, Selasa (22/9/2026).
Berdasarkan rincian pemeriksaan, kadar kontaminasi bakteri menunjukkan angka satu pada sampel nasi, dan tujuh pada sampel buah melon. Sementara itu, sampel menu daging ayam masih dalam proses pengujian laboratorium.
"Kadarnya di nasinya itu, di nasi satu, di melon ada tujuh," jelas dr Hamida.
Mengenai pemicu kontaminasi, dr Hamida menduga hal tersebut berkaitan erat dengan kebersihan proses pengolahan makanan. Risiko penularan bisa muncul mulai dari pemilihan bahan mentah, kebersihan pencucian, cara penyimpanan, proses memasak, hingga durasi jeda waktu antara makanan selesai diolah sampai dibagikan kepada siswa.
Kabar baiknya, kondisi para siswa yang sempat dirawat di RSUD Gambiran terus membaik. Dari total 15 anak yang sempat mendapatkan perawatan intensif, 13 di antaranya sudah diperbolehkan pulang, sementara dua siswa sisanya masih dalam tahap observasi ringan.
Mengenal Bakteri E. Coli dan Bahayanya Bagi Anak
Escherichia coli atau E. coli sebenarnya merupakan jenis bakteri yang secara alami hidup di dalam usus manusia dan hewan. Dikutip dari Mayo Clinic, sebagian besar strain E. coli memang tergolong tidak berbahaya atau hanya memicu gangguan pencernaan ringan.
Namun, strain berbahaya tertentu, seperti E. coli O157:H7, sanggup menghasilkan racun (toksin) kuat yang merusak lapisan usus halus. Kondisi ini dapat memicu infeksi diare berat, kram perut hebat, muntah-muntah, hingga buang air besar (BAB) berdarah.
Kontaminasi E. coli pada makanan umumnya terjadi akibat penanganan yang kurang higienis, seperti:
- Hasil pertanian segar: Buah dan sayur (seperti melon, bayam, atau selada) yang terpapar air penyiraman atau tanah yang tercemar kotoran hewan.
- Daging olahan atau cincang: Bakteri di usus hewan yang menempel pada daging saat proses penyembelihan yang kurang bersih.
- Susu mentah: Susu yang tidak melalui proses pasteurisasi atau pemanasan pembunuh kuman.
- Air terkontaminasi: Pasokan air yang tercemar kotoran dan digunakan untuk mencuci bahan makanan atau peralatan dapur.
Anak-anak menjadi kelompok yang sangat rentan mengalami dampak serius saat terpapar E. coli. Jika pada orang dewasa bugar infeksi dapat membaik dalam waktu seminggu, anak-anak dan lansia justru berisiko mengalami komplikasi berat, salah satunya pemicu gagal ginjal yang mengancam jiwa.
Gejala infeksi E. coli biasanya mulai muncul 3 hingga 4 hari setelah mengonsumsi makanan yang terkontaminasi, meski pada beberapa kasus dapat muncul lebih cepat dalam waktu 24 jam. Jika anak mengalami muntah berulang, kram perut hebat, hingga diare berdarah, penanganan medis darurat harus segera diberikan.
Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Terungkap Pemicu Keracunan MBG di Kediri, Ada Bakteri E Coli di Nasi-Melon"
